Chapter 17 (Jeonghan's POV)

2.3K 250 3
                                        

"Sampaikan salamku pada ibumu, love. Maaf, aku tidak bisa menemuinya malam ini. Tapi aku janji, besok malam aku akan ke sini lagi untuk memberikan kado secara langsung pada ibumu."

"Tidak apa2 sayang, dan sungguh, kamu tidak perlu membelikan kado apapun untuk ibuku josh."

"Hei, dia itu ibumu love. Kau ada karena ibumu. Jadi aku harus berterima kasih secara langsung padanya, karena telah melahirkan anaknya yg cantik ini ke dunia. Tanpa dia, aku tak akan bisa bertemu denganmu, love."

Selalu seperti itu. Lembut dan perhatian. Dia selalu berhasil membuatku nyaman berada di dekatnya.

"Baiklah, jika itu maumu. Aku masuk dulu ya sayang. Kamu hati2 pulangnya." Kukecup singkat bibirnya.

Saat kulihat mobilnya telah berbelok di ujung jalan, aku mulai melangkahkan kakiku memasuki rumah. Hari ini aku berencana akan memasak sup rumput laut untuk ibuku yg berulang tahun.

Sebelum pulang ke rumah, aku menelepon ibuku terlebih dulu. Dia kupaksa untuk ijin tidak masuk kerja malam ini, karena aku ingin merayakan ulang tahunnya bersama-sama. Ibuku setuju dengan usulku. Dia ingin aku, ibu, dan ayah tiriku untuk makan malam bersama malam ini, agar keluarga kami menjadi lebih dekat. Oh please, siapa yg mengajak si brengsek itu?!

Memasuki rumah, aku mengendap-endap melalui tangga menuju kamar tidurku. Aku ingin segera berganti pakaian dan bersiap-siap ke dapur untuk memasak. Tidak kulihat kehadiran pria itu di rumah ini. Mungkin dia sedang keluar untuk mabuk-mabukan bersama teman-temannya yg sama brengseknya dengan dia.

"Baru pulang melacur lagi ya?" Saat aku akan menuju ke tangga untuk turun ke dapur, tiba2 aku mendengar suaranya. Sialan! Ternyata dia ada di rumah.

Tak kuhiraukan dia dan aku tetap menuruni anak tangga. Di anak tangga yg ke tiga, tiba2 rambutku ditariknya dengan kasar. Diseretnya aku kembali menuju kamarku dengan terus menarik rambutku. Didorongnya tubuhku dengan kasar ke tempat tidur dan kulihat dia menutup pintu kamarku. Oh tidak, mau apa lagi dia?

"Selama ini aku memperhatikanmu diantar pulang ke rumah dengan mobil yg selalu berbeda. Kulihat pria yg keluar dari tiap-tiap mobil itu juga tak pernah sama. Dan kupikir, wow, ternyata anakku adalah seorang pelacur kelas tinggi." Tawanya penuh dengan hinaan. Aku hanya diam dan menerima semua yg dia lontarkan. Aku tak ingin menyulut emosinya lebih dalam lagi.

"Bahkan setiap malam, kamu juga menjual tubuhmu pada anak lelaki tetangga kita kan? Tapi aku selama ini hanya diam. Kujaga baik-baik rahasiamu ini."

Dia semakin mendekatkan dirinya ke tempat tidurku. Secara refleks aku memundurkan tubuhku.

"Yang aku kesalkan adalah, saat aku juga ingin mencicipi tubuhmu ini, kamu berpura-pura suci, seakan-akan kamu adalah perawan yg tak pernah disentuh oleh siapapun. Hah, perawan?! Omong kosong!! Aku bertaruh, sudah terlalu banyak laki-laki yg tidur denganmu, sampai2 kamu lupa berapa jumlahnya dan siapa saja mereka, benar kan?"

Oh tidak, tidak, dia naik ke tempat tidur. Apa yg harus kulakukan?

"Kini aku ingin menagih hutangku karena telah menjaga rahasiamu ini. Serahkan tubuhmu untukku. Jika tidak, aku akan membongkar semua rahasiamu ini pada ibumu. Aku sungguh tak sabar melihat reaksi ibumu nanti jika mengetahuinya, bahwa anaknya yg cantik ini, adalah seorang pelacur!"

Tangannya mulai memasuki baju yg kupakai. Wajahnya mulai menyusup ke leherku. Otomatis kuarahkan kepalan tanganku ke dadanya, kudorong dia sekuat tenaga.

"Jangan melawan! Kau tak ingin kan, jika di hari ulang tahun ibumu ini, ibumu harus merasa kecewa dan sedih mengetahui anaknya menjual tubuhnya pada banyak laki-laki? Jadi, jangan melawan jika kamu tak ingin ibumu tau tentang rahasiamu itu."

Mulutnya mulai mencium dan menjilati leherku. Tangan kotornya mulai menyentuh tubuhku. Jujur, aku jijik dengan semua sentuhannya. Tapi jika aku tak ingin ibuku kecewa padaku, apa lagi yg harus kulakukan selain pasrah pada semua sentuhannya? Toh tubuhku juga sudah kotor, apa salahnya mengotorinya sekali lagi? Kukosongkan semua pikiranku. Kini aku sudah mati rasa.

Saat dia mulai membuka resleting celanaku dan menariknya dari kakiku, sayup-sayup kudengar suara seung-ah, "Jangan pernah sekalipun kamu berbicara tentang dirimu sendiri seperti itu baby doll. Jeonghan yg aku tau adalah seseorang yg cantik dan terhormat, pintar, lucu, dan sempurna. Ingat itu baby doll!!!"

Saat dia akan menurunkan celana dalamku, aku mendengar lagi suaranya bergema di telingaku, "Aku tidak bodoh baby doll. Tapi asal kamu tau, penilaianku tak akan pernah salah tentangmu. Baby doll-ku bukan orang yg hina dan kotor, tapi dia sempurna adanya."

Seung-ah benar, aku bukanlah orang yg kotor. Aku tak boleh begini. Aku tak bisa hanya pasrah seperti ini. Aku harus melawan. Jika aku tak sanggup melawan, aku harus melarikan diri dari keadaan ini. Kudorong lagi dadanya dan kutendang kemaluannya. Si brengsek terjungkal ke belakang dan merintih kesakitan. Ini kesempatanku untuk lari.

Kubuka pintu kamar dan aku berlari menuruni tangga. Saat aku sudah sampai di bawah tangga, aku merasakan sakit luar biasa pada kepalaku. Dia berhasil mendapatkanku kembali. Rambutku ditariknya dengan kasar. Lenganku dicengkeramnya dengan erat. Aku meronta dan terus meronta. Dan entah darimana aku mendapatkan kekuatan untuk mendorong badannya dengan kuat. Kulihat tubuhnya terjatuh ke belakang. Dan semuanya tiba2 menjadi hening.

Ayah tiriku diam membeku di lantai. Aku melihat warna merah pekat mengalir dari belakang kepalanya. Pelan-pelan aku mendekatkan wajahku untuk memeriksanya lebih dekat. Kulihat posisi belakang kepalanya yg ternyata bertemu dengan pinggiran anak tangga. Apa dia sudah mati? Oh tidak, apa yg harus kulakukan? Bagaimana ini, apa yg harus kulakukan? Oh Tuhan, apa yg harus kulakukan?

Seung-ah. Seung-ah selalu tau apa yg harus kulakukan. Aku berlari kembali ke kamarku. Kucari handphoneku. Kutekan tombol nomor 2 di handphoneku.

Seung-ah, angkat teleponmu.

Seung-ah, kumohon angkat teleponmu.

Seung-ah, aku membutuhkanmu.

Seung-ah, hanya kamu satu2nya orang yg tau apa yg harus kulakukan.

Seung-ah, kumohon, aku benar2 membutuhkanmu.

Setelah berkali-kali meneleponnya. Kudengar suara klik di seberang sana. "Baby doll?

"Seung-ah.. Seung-ah.. Tolong aku.. Apa yg harus kulakukan? Seung-ah.. Bagaimana ini? Seung-ah.."

Aku sangat senang mendengar suaranya. Tapi di sisi lain, aku takut dengan apa yg terjadi di bawah. Aku bingung. Tanpa sadar aku menangis.

"Hei hei.. Baby doll.. Ssshh..tenanglah.. Jangan panik.. Ada apa baby doll? Jelaskan padaku pelan-pelan.."

"Tolong aku seung-ah, tolong aku.. Aku tak tau apa yg harus kulakukan.. Kumohon tolong aku.."

"Baiklah.. Baiklah.. Kamu tenang ya baby doll.. Aku akan menolongmu..oke? Sekarang, beri tau aku dimana posisimu.."

"Aku di rumah seung-ah.."

"Oke.. Aku akan meluncur kesana.. Akan kuusahakan secepat mungkin sampai di rumahmu.. Tetaplah berada di posisimu sekarang ini.. Apapun yg kamu lakukan, apapun yg terjadi, kumohon jangan panik.. Bisakah kamu melakukan itu untukku baby doll?"

"Ya seung-ah...."

Cepatlah datang seung-ah, aku takut. Kumohon cepatlah datang, aku sangat membutuhkanmu.

End of Chapter 17

BEST FRIEND? - PrivateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang