Pak tua bangka itu memang patuh pada ucapannya. Jam 7 tepat ia sampai di lobby apartemenku, dan tak lupa dengan mobilnya.
"Pagi." Ucapnya saat aku sudah masuk ke dalam mobilnya. Aku hanya membalasnya dengan menaikkan salah satu alisku,"Pulangnya jam 2 kan?"
"Aku pulang bareng Gwen deh, dia udah balik." Kataku cepat.
"Eh ga bisa, perjanjiannya kan aku yang antar-jemput kamu, bukan Gwen." Katanya nyolot.
"Eh gamau ah, aku kan pulang bareng Gwen." Aku pun jadi ikutan nyolot.
"Pokoknya nanti jam 2 aku jemput, kalo tetep maksa pulang bareng Gwen, aku cari ke apartemen." Aku memutar mataku jengah. Sekarang si tua bangka itu mengatur-ngaturku.
Kini aku diam saja dan membiarkan Calum membawaku ke sekolah. Dari sini aku bisa melihat Calum yang sedang melirik-lirik kearahku, bukannya kepedean, tapi memang benar, ia melirikku terus.
Sesampainya di depan sekolah aku turun, tetapi tangan Calum memegangi pergelangan tanganku, "Apa?" Kataku.
Ia langsung mencium keningku dan membuatku kaget seketika, "Belajar yang pinter, biar cepet lulus. Jangan kayak aku, dikeluarin dari sekolah."
Aku mengangguk lalu keluar dari mobil cepat-cepat. Kupegang keningku bekas kecupan Calum, dan benar saja itu membuatku sangat senang.
"Senyum-senyum mulu." Kejut seseorang dari belakangku. Dia Gwen!
Aku langsung memeluknya dan berjingkrak-jingkrak seperti sahabat yang sudah lama tidak bertemu.
"Eh eh udah, ceritain kali daritadi senyum terus." Kata Gwen saat aku melepaskan pelukannya.
"Hehehe gapapa cuma uang jajan mama tambahin." Aku merangkul bahu sahabatku ini sampai dikelas. Aku harus berterima kasih padanya karena telah mengenalkanku pada sosok Calum. Si tua bangka dan super nyebelin itu, "Gwen, kalo suka sama orang yang umurnya jauh banget bedanya salah ga?".
Gwen diam sebentar, "rasanya sih engga, aku sih dulu umur 15 suka sama Ryan Tedder. Biasa aja tuh."
"Bukan, maksudku orang. Contohnya kaya, kamu suka sama Haikal." Haikal itu kakak kelas kami di Smp, dan sekarang ia berumur 19 tahun sama seperti Calum. Aku menggunakan contoh Haikal karena ia dekat dengan kami dulu.
"Oh biasa aja sih Sam, cinta kan ga mandang umur. Sekalipun kamu jadian sama om om kalo kamu cinta, mau gimana lagi?" Anjir. "Lagi suka sama siapa sih?".
Aku mati kutu mencari jawaban yang pas untuk Gwen. Ga mungkin kan aku bilang kalau aku menyukai Calum? Secara ga surprise dong nanti.
"Pelanggan di perpus hehe." Aku tertawa hambar. Gwen menyipit padaku, mana mungkin aku mengatakan kalau suka pada Calum?
Eh iya, aku suka tidak ya dengan Calum?
"Apasih Gwen?" Kataku sok risih.
"Kayaknya bukan pelanggan perpus deh, yakan?" Aku terdiam. Gwen mencolek-colek daguku untuk menggodaku agar mengatakannya.
"Dih sok tau." Gwen pun melancarkan jurusnya agar aku mengatakan siapa orangnya. Tapi aku tetap diam dan pura-pura membuka twitter.
"Eh kamu ngefollow 5sos ya Sam?" Tanya Gwen.
Aku mengangguk, "iya kenapa?"
"Perasaan kemaren aku liat di 5sos update, akunmu di follow 4/4." Aku menjaga raut wajahku agar tidak mencurigakan, "@summerh kan?".
"4/4 tuh apa?" Gwen menepuk jidatnya.
"Calum, ash, luke, dan mike." Ucap Gwen malas. "Bener ga sih kamu di follback?".
"Iya bener, nih." Aku menunjukan akun-alun twitter mereka dan ada tulisan 'follows you'
"EH ANJIR IYA, AKU YANG 2 TAHUN SUKA SAMPE SEKARANG BARU LUKE,ASH, SAMA MICHAEL DOANG YANG NGEFOLLBACK."
wah bahaya nih, bisa curiga nih anak. Batinku
"Eh gatau gue, kan gue sering ngasi solo dm gitu ke orang, terus gue dikasi solo dm Calum, aku spam minta follback. Terus difollback hehe." Bohongku.
"EH IYA, BAGI SOLO DM CALUM. NOW!" aku memutar mata lalu memberikan 10 solo dm Calum padanya. Tapi nanti saat aku bertemu Calum, akan kukatakan padanya agar memfollback temanku ini.
Singkat cerita, jam pulang sekolahku datang. Aku berjalan ke arah gerbang sekolah bersama Gwen. Aku sudah bisa melihat mobil Calum yang terparkir di bahu jalan.
"Summeerrr nebeng yakkk." Aku tercengang. Gwen memelas padaku agar aku membawanya pulang. Biasanya jika seperti ini ia tidak ada yang menjemput.
"Aku ga bawa mobil Gwen, aku juga bareng tetangga di apartemen hehe." Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Alasannya tidak logis memang.
"Yahhh minta tolong dong bilang ke tetanggamu." Aduh jadi ga tega. Aku mengangguk lalu mengisyaratkan Gwen agar diam di tempat. Aku berjalan kearah mobil Calum.
"Gwen mau nebeng tuh, gimana ya?". Tanyaku dengan raut wajah bingung.
"Boleh aja si, tapi kalo ketauan gimana?" Aku terdiam sebentar. Mencoba mencari ide brilian, "eh aku nyamar aja kali ya?"
Ia memakai jaket serta topi. "Tato JKHnya gimana?"
Ia pun mengubek isi storage di mobil itu dan mendapatkan sarung tangan, "emang ribet kalo punya banyak tato. Cepet suru naik."
Aku menyuruh Gwen untuk duduk di kursi belakang, ia mengucapkan terima kasih saat akan naik ke mobil pada Calum. Andai dia tahu kalau dia semobil dengan idolanya..
"Gwen kenalin, ini tetangga aku namanya Kevin. Dan Kevin, ini Gwen." Kulihat dari balik topi Calum ia menatapku sinis. Dan aku ingin tertawa saat Gwen mengajaknya berjabat tangan.
"Gwen."
"Kevin." Calum membuat-buat suaranya terlihat lebih berat. Dan pengucapannya yang terlalu ia cepatkan.
Suasana di mobil pun hening, aku bisa melihat ketegangan di Calum. Dan rasa penasaran di wajah Gwen. Rasanya aku ingin tertawa saja melihat kedua orang ini, yang satu takut yang satunya lagi penasaran.
"Kev, do you have 5 seconds of summer songs or cd?" Ucapku untuk mencairkan suasana. "My friends like 5sos."
"Fuck Summer." Kata orang di belakangku. Calum membawa tangannya kearah tape mobil dan menyalakannya dengan lagu dari bandnya sendiri.
"Is it enough?" Kata Calum dan aku mengangguk. Gwen mulai menyanyikan lagu yang diputar meskipun dengan suara kecil. Tak lama kemudian, rumah Gwen sudah dekat. Kuberi Calum petunjuk dimana letak rumahnya.
Setelah sampai, Calum memarkir mobilnya di depan rumah Gwen. "Thankyou so much Kevin." Kata Gwen saat akan turun. Calum hanya memberikan jempol padanya. "Bye Summer."
Setelah menurunkan Gwen, kami pun langsung melanjutkan perjalanan. Dan tentunya ia mengajakku ke basecampnya terlebih dahulu sebelum mengantarku pulang. "So hot." Ucap Calum.
"Apanya?".
"Jaketnya lah, keringet dingin tau ga si." Aku tertawa saat melihat buliran keringat di dahinya. Reflek aku mengambil tisu dan mengelap keringat di dahi Calum. "Wih soswit." Ia tersenyum padaku.
"Baperan idih." Aku membuang tisu itu ke arahnya. Tak lama kemudian, Calum mendapatkan telpon di ponselnya.
"Okay Ash okay....aku akan pulang sebentar lagi....iya aku tidak akan membawanya....Okay Ash....20 menit..." Calum mematikan sambungan telepon itu lalu melihat kearahku, "Aku harus buru-buru ke basecamp, dan aku harus mengantarmu lebih dulu."
"Jadi aku tidak diajak?" Calum mengangguk, "Okay."
"Jangan marah dong, nanti deh aku jemput lagi." Aku hanya menaikkan alisku sekilas.
"Idihh biasa aja kok, btw follback Gwen ya hehe." Kataku sebelum turun dari mobil.
"Okay."
To be continued...
KAMU SEDANG MEMBACA
Poprock Star : Calum Hood
FanfictionBukan fans tapi hokinya ga ketulungan. ... Summer Houghlas; gadis yang pandai untuk tutup mulut namun sayang ia tak pandai untuk menutupi perasaannya. The last one, ia juga pandai menutupi luka.
