Hari ini Luke mengajakku ke pesta ulang tahun temannya saat sekolah dulu. Ia memintaku untuk menemaninya karena ia takut merasa terkacangi.
"Eh kamu ga papa kan aku ajak ke pesta?" Tanya Luke. Aku menggeleng dan membiarkan Luke menyetirkan mobilnya hingga ke tempat pesta itu diadakan.
Luke turun dan membukakan pintu mobilnya untukku. Rasanya berbeda jika Calum yang melakukannya. Aku sangat merindukan mengobrol dengan Calum. Namun, kami terpaksa seperti ini.
Lagian ia sudah mempunyai kekasih dan aku hanyalah gadis payah dan bodoh yang menaruh perasaan dengan bintang besar.
"Ayok Sam." Luke menggenggam tanganku dan masuk kedalam bar itu. Kebetulan, pestanya diadakan di salah satu bar yang cukup terkenal.
Aku dan Luke duduk di salah satu sofa yang kosong. Sedari tadi aku celingukan karena aku belum pernah ketempat kaya gini.
"Minum dulu aja Summer." Kata Luke sambil menuangkan minuman ke dalan gelas, "Ini alkoholnya dikit kok."
Aku menenggak minuman yang terasa membakar tenggorokan itu. Namun aku seperti ketagihan dibuatnya, kuminta Luke untuk memberikanku lagi.
"Luke kok pusing gini jadinya?" Kataku sambil memijat pelipis.
Namun tiba-tiba saja, aku merasa sedang digendong seseorang. "Shit, jangan cegukan." Kata orang itu. Aku tidak bisa melihatnya jelas namun kutau suara orang itu.
"Siapa yang ngajak kamu kesana?" Aku tidak menjawab dan malah cegukan. Ia mengerang seperti orang yang sedang kesal. "Summer jawab!".
"Luke, tapiii sebenarnya aku mau dengan Calum tapi dia sudah punya pacarr hahaha." Ucapku dengan rasa pusing yang hebat. Aku seperti tidak bisa mengontrol diriku sendiri.
"Please, jangan buat pertemuan dan perpisahan kita diawali dengan mabuk." Suara itu samar kudengar.
***
Aku bangun dengan rasa pusing yang hebat. Saat kubuka mata, aku baru menyadari jika ini bukan apartemenku dan dari sprei yang digunakan, aku tau ini kamar Calum. "Anjing," kataku.
"Don't swear, gurl." Aku menoleh pada suara itu dan kulihat Michael yang sedang main game di sofa. "Butuh aspirin?"
"Sounds good." Ia pergi meninggalkan PSPnya dan datang dengan segelas air putih dan sebutir aspirin. "Kok bisa aku disini sih?" Kataku.
"Calum tuh yang bawa, gatau ceritanya gimana." Setelah pusingku mendingan, aku berjalan ke kamar mandi untuk membasuh muka. Sudah pasti Gwen akan menanyakanku kenapa aku tidak masuk sekolah hari ini.
"Summer," panggil Michael. "Sini bentar."
Ia menarik tanganku keluar dari kamar Calum. Lalu ia membawaku ke ruangan di belakang rumah ini, isinya hanya beberapa alat musik milik mereka.
"Tadi pagi Luke sama Calum berantem," ucap Michael. Ia menceritakan kejadian dimana Calum murka kepada Luke sehingga mereka bertengkar saling adu jotos.
"Terus sekarang mereka dimana?" Michael menunjuk salah satu pintu disana. Kupikir itu pintu untuk ke halaman belakang. Aku langsung saja berjalan kesana dan menemukan Calum dan Luke yang sedang duduk berjauhan.
"Summer?" Panggil Calum.
Aku mundur beberapa langkah untuk menjauhi Calum, "Jangan ngedeket."
"Summer kamu kenapa?" Tanyanya.
"Ga usah tanya aku kenapa! Harusnya aku yang nanya gitu. Kamu tuh kenapa?" Aku menunjuk tepat di depan wajahnya. Ia menatapku kalut, ia enggan untuk menatap mataku secara langsung.
"Selama ini maksud kamu tuh apa? Atau emang aku yang bodoh?" Calum menatap jari-jari kakinya. Luke disana, seakan mengerti, ia pergi.
"Engga Sam, kamu tuh ga bodoh." Ia buka suara.
"Bodoh lah, buat apa aku naruh perasaan ke bintang besar kaya kamu?" Ia terpaku. Aku sama sekali tidak bisa menahan semua kekesalanku. Bilang saja aku memaksa, aku hanya ingin tahu maksud Calum selama ini. Itu saja.
"Summer, please ngertiin aku. Aku juga ga bisa ngejawab semua pertanyaan kamu, mulutku untuk ngomong tuh dibatasi Sam." Kata Calum.
Aku mencerna ucapan Calum barusan, kupikir aku mengerti apa yang ia maksud tadi. Ia takut pamor bandnya jelek.
"Jangan mau jadi manusia yang gampang dibodoh-bodohin Cal, kamu tuh punya mulut yang masih bisa digunain dengan baik." Ia menunduk, dadanya naik turun berusaha mengambil oksigen secukup biasanya.
"Maaf," katanya, "aku udah sempet nyeret kamu ke media."
Aku tidak menjawab, namun terisak. Nafasku tersenggal-senggal hanya untuk menghirup nafas menyesakkan ini. Sedangkan Calum berjalan kearahku yang sudah terduduk daritadi.
"Aku juga cape Sam, menghirup dan berada di udara yang sangat menyesakkan gini. Seakan aku tuh hidup di tempat yang ga bisa dimiliki, semu Summer." Kata Calum mengelus pucuk kepalaku.
"Sakit," gerutuku. "Sesak, ga berguna."
"Sama, aku juga sakit. Tapi lebih sakit aku, yang kehendaknya tak pernah didengar dan penolakannya yang dianggap sampah," ia menghela nafas. "Setidaknya kita sama-sama merasakan nafas yang menyesakkan ini, kan?"
I want to feel your love like the weather,
All over me.
To be continued..
Double update for the first time bcos tar lagi ending yakk, kuyla vomments♡
KAMU SEDANG MEMBACA
Poprock Star : Calum Hood
FanfictionBukan fans tapi hokinya ga ketulungan. ... Summer Houghlas; gadis yang pandai untuk tutup mulut namun sayang ia tak pandai untuk menutupi perasaannya. The last one, ia juga pandai menutupi luka.
