Hanya seorang pria kaku dengan sejuta imajinasi dikepalanya.
Pria kaku yang tak pernah membayangkan akan merasakan yang namanya jatuh cinta.
Jatuh cinta yang kualami itu berakhir sakit ya?
Pada awalnya, aku membangun dinding setinggi mungkin untuk membatasi hatiku. Membatasi siapapun yang hendak menerobos masuk dan membuatku jatuh cinta.
Statusku sebagai 'anak broken home' sudah cukup membuatku tau bahwa cinta itu tak selamanya manis.
Awalnya kupikir aku tak akan memiliki keterkaitan sedikitpun dengan 'cinta'. Kebekuan ku membuat beberapa gadis berpikir dua kali sebelum mendekatiku, apalagi berharap cinta mereka terbalas olehku. Mereka sudah pasti tak akan mau sakit hati karena cintanya kuacuhkan dan tak kubalas.
Semua gadis hanya bisa melihat ku dari jauh. Diam-diam berbisik tentang ku, yang sebenarnya dapat kudengar dengan jelas.
Namun, ada satu gadis yang berhasil melewatinya.
Menerobos masuk melewati pertahanan hatiku yang begitu kuat. Menghancurkan dinding pembatas yang mengelilinginya. Masuk dengan mudahnya dan menduduki tahta sebagai ratu dihatiku.
Ya, dialah Anggina Lailasari.
Gadis periang yang memiliki watak berkebalikan dengan watakku. Dia ceria, tak tanggung tanggung untuk tersenyum. Tak jarang ia membuat orang-orang disekitarnya untuk tertawa.
Sebenarnya, dia tak jauh beda denganku.
Jika aku menutupi luka dimasa laluku dengan kebekuan sifatku, cuek dan bersikap acuh. Maka Anggi, bersikap ceria, menyenangkan, dan periang hanya untuk menutupi penyakitnya.
Dibalik keceriannya, dibalik riangnya selama ini, ada penyakit ganas yang menggerogotinya dari dalam tubuh.
Dan akhirnya, penyakit itu membawanya pergi dari sisiku.
Tak dapat kuhindari, aku benar benar menderita karenanya. Setelah aku kehilangan sahabat masa kecilku, kehilangan keharmonisan dirumah karena kepergian ayahku, kini aku harus kehilangan Anggi.
Penderitaanku dulu membawaku pada Anggi, tapi sekarang aku kehilangan dia. Seorang gadis yang kupikir akan menarikku keluar dari kekelaman masa lalu.
*****
Aku terkurung dalam ruangan gelap yang mengurung. Aku hanya mampu memeluk lutut ku yang tertekuk dan menenggelamkan kepalaku dalam. Kegelapan itu seperti ruangan isolasi dengan empat dinding kokoh disetiap sisinya yang memerangkap.
Tapi kau datang, menghancurkan salah satu dinding bersamaan dengan tanganmu yang terjulur. Membiarkan secerca cahaya masuk mengunjungiku yang sudah lama bergelut dengan kegelapan. Kau tersenyum, tanganmu yang terjulur seolah memintaku untuk meraihnya.
Kuputuskan untuk meraihmu, kau menarikku keluar dari kegelapan dan berhadapan dengan dunia. Kau membuatku lebih kuat daripada sebelumnya. Kau menolongku, tapi sekarang, kau pergi.
Kau lah penawarku, namun sekarang kaulah racunku.
Apa yang harus kulakukan kalau pundak yang selama ini menjadi tempat ku bersandar lenyap? Pada siapa aku harus bersandar?
Apa yang harus kulakukan kalau penawarku menjadi racun? Drngan apa harus kuobati lukaku sekarang?
Dan dengan seenaknya, kau mengambil semuanya.
Kau mengambil kenanganku denganmu. Tanpa menyisakan nya sedikitpun. Kau membawa semua dengan pergimu. Kau mengambilnya atas dasar kebahagiaan.
Kebahagiaan?
Bagaimana aku bisa bahagia kalau aku harus hidup dalam bayangan senyuman seorang gadis yang tak kukenal?
Hidup dalam lingkup Senyuman seseorang yang tak kuingat?
Hidup dengan pertanyaan siapa gadis itu?
Bagaimana aku bisa bahagia ataupun tenang?
Apa salah jika aku egois dan ingin memilikimu?
Apa salah jika aku juga ingin memiliki kenangan tentang mu?
Apa salah jika yang kuharapkan ini tak mungkin kuraih?
Aku hanya ingin mengingatmu sepanjang hidupku..
Aku ingin mengabadikan senyummu dalam hidupku..
Aku ingin menceritakannya pada semua anak-anakku kelak..
Aku ingin bercerita tentang gadis ceria yang bertahan dari sakitnya..
Tentang pengorbanan besarnya..
Aku ingin mengenangmu..
Mengabadikanmu dalam ingatan semua orang..
Anggina Lailasari, tenanglah disana..
Meski nantinya, aku tak akan mengingatmu lagi..
Meski nantinya, gaun pernikahan yang kita siapkan tak akan kau kenakan..
Meski nantinya, aku berdiri dipelaminan bukan denganmu..
Dan meski nantinya, anak-anak lucuku yang kita harapkan bukan lahir dari rahimmu..
Ingatlah, aku selalu mencintaimu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Memories
FantasyJika hidupku hanya membuatmu terluka.. Masih adakah alasan? Masih pantaskah? Jika aku berharap untuk bertahan hidup.. Hidupku ini melukaimu.. Namun, Bahkan matiku pun demikian. Mati dan hidupku melukaimu.. Apakah aku harus berharap agar aku tak pern...
