Hari ini, mereka pulang dari Bali. Aku harus menjemput mereka bersama Raihan, ini yang membuatku tidak nyaman. Setiap aku bersamanya, aku selalu merasa menjadi benalu. Karena perasaan itulah, aku harus menekan egoku.
Ibunya telah meninggal, tapi di hatinya tidak ada yang bisa menggantikan dirinya. Itu alasan mengapa dia membenciku juga mama. Aku pun sadar, semenjak kedatangan kami ke rumah itu, cukup memberi perubahan yang mungkin menurutnya agak mengganggu.
Aku menyadari semua itu saat aku melihat foto - foto yang terpajang di dinding dan di atas meja. Itulah alasan, mengapa kami memiliki jarak yang terlalu jauh untuk dijadikan sebagai saudara.
Akhirnya, aku telah berada di dalam mobil miliknya menuju bandara. Tak ada suara diantara kami. Aku tidak pernah berpikir untuk bicara kecuali jika dia sendiri yang mengawali. Jadi aku hanya memfokuskan mataku ke arah depan.
Tak lama, kami pun sampai di bandara. Kami beruntung, karena sampai tepat waktu. Mereka baru saja akan keluar bandara. Aku menyambut mereka dengan senyuman. Aku menoleh ke arah Raihan, wajahnya terlihat datar. Saat itu, dia ikut menoleh kearahku. Beberapa detik kami saling berpandangan, dia justru menoleh kearah lain. Sikapnya aneh, berbeda dari biasanya.
" bagaimana keadaan kalian saat kami tinggal ?" tanya mamaku.
" baik," jawabku.
Sikap Raihan tetap sama, tidak mau perduli.
" lebih baik, kita segera pulang." ajak ayah Raihan.
Kami menuju mobil dan segera meluncur pergi menuju rumah. Perjalanan terasa sangat membosankan dan lama sekali, itu yang kurasakan. Raihan bahkan tidak mengeluarkan sedikit pun suaranya, dia seperti punya pikirannya sendiri. Dan, mereka hanya bicara sekenanya seperti menanyakan keadaan rumah dan sekolah.
Sampai di rumah, Raihan mendahului kami masuk rumah tanpa bicara apa pun. Dia sangat aneh hari ini, tatapannya tidak setajam dulu padaku. Entahlah, mungkin dia sedang ada masalah. Untuk apa aku perduli masalah orang lain.
***
" kenapa baru ke kantin, waktu istirahat dah mau abis ?" tanya Dewi.
Kantin cukup ramai hari itu, karena Fadli berada disana. Sahara segera duduk disamping Dewi setelah memesan segelas sirup.
" ada sesuatu yang harus kukerjakan." jawabnya singkat.
" lihat, karena ada dia. Kantin ini jadi ramai sekali, kan ?" tunjuk Dewi.
" bukannya bagus."
" bagus untuk siapa sebenarnya ?" tanya Dewi bingung.
Sahara melirik Dewi, " bagus untukmu, bagus untuk pemilik kantin, dan juga bagus untuk gadis - gadis itu."
Dewi hanya bisa melongo, tak percaya dengan jawaban yang terlontar dari mulut Sahara.
" maksudmu apa, aku benar - benar tidak mengerti ?"
" ah sudahlah,"
Di sisi lain kantin, Raihan bersama Ken juga Beni sedang duduk dan melihat pemandangan kantin pagi itu.
" han, liat kamu dapat saingan baru." tunjuk Beni.
" ya nich, kamu kok santai aja ?" Ken menimpali.
" aku tidak perduli hal - hal tidak bermutu seperti itu. Sejak awal aku tidak suka dikejar para gadis. Hidupku jadi tidak bebas dan terbatasi. Biarkan saja!!" komentar Raihan datar.
" bener nich han ?" tanya Beni tidak percaya.
Raihan sangat santai mendapati kejadian di pagi harinya yang ramai dan bukan dia yang menjadi pusat perhatian saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Sahara
RomansaSahara mendapati mamanya menikah dengan seorang duda beranak satu. Dia sadar, akan kebencian yang pemuda itu taburkan. Hingga kemudian, berbagai fakta mengejutkan merubah jalan hidupnya yang seperti gurun sahara.
