Pepohonan benar-benar seperti tulang. Sepucuk daunpun tak bersisa.
Ini adalah awal musim dingin.
Beberapa tupai mulai menyelinap kedalam lubang pohon.
Sepertinya para tupai akan berhibernasi. Musim yang dingin.
Hati yang beku. Nampak kokoh, namun rapuh. Abadi. Keselarasan yang tepat.
Berjalan menyusuri jalan setapak yang penuh dengan lautan daun-daun kering yang coklat sempurna.
Kres..krss.
remasan daun yang hancur terus berputar menemani heningnya perjalanan Justin.
Ia mempercepat langkahnya ketika melihat sebuah sedan hitam berjalan pergi dari depan rumahnya.
Justin segera mencari Ibunya dan dia ada disana.... meringkuk di sudut ruangan dengan tangis yang pecah entah sejak kapan, wajahnya benar-benar basah.
‘’Twinkle..twinkle...’’Justin memeluk Ibunya seraya bersenandung, namun....
‘’Dia datang....’’ucap Ibunya gemetar dalam dekapan Justin.
‘’Dia datang..... Dia meminta maaf padaku.’’tangis ibunya pecah lagi.
Justin dapat menduga siapa dia. Nelson Horan.
Justin menyanyikan lagu kencang lagi berharap Ibunya segera tenang, meskipun ia penasaran apa yang sedang terjadi.
‘’Sudah lama aku menunggunya. Akhirnya dia datang, tapi dia tidak datang bersama Jeremy !’’isak pilu itu semakin keras.
Ah, lagu itu tidak berhasil ! bagaimana ini ? Ia takut depresi Ibunya semakin parah dan memuncak hingga ia bisa mengalami kelainan jiwa, seperti yang telah dokter katakan. Bajingan sialan, rutuk Justin dalam hati.
‘’Haruskah aku memaafkannya ? Dia terus memohon padaku.’’
Dengan berat Justin mengatakannya,’’Maafkanlah...’’
Biar aku yang menanggung kebencian ini. Jangan Ibu, jerit Justin dalam hati.
Mata Pattie terbelalak. Kemudian ia tersenyum dengan tangis yang masih meliar.
’’Benarkah ? Aku ingin memaafkannya, tapi aku masih ingin menghajarnya !’’
‘’Mom.. ?’’
‘’Yah. Aku menghajarnya tadi ! Kau tahu ? Sapu ijuk kita patah. Kau harus membeli yang baru lagi. Seharusnya kau melihat saat aku menghajarnya dengan sapu. Aku juga sempat menggigit lengannya tadi. ’’ucap Pattie lagi, kali ini disertai dengan tawa dan rengekan manja.
‘’Mom... ? Are you okay ?’’Kini Justin terisak.
Apakah Ibu benar-benar sudah gila ? Apakah kau sudah kehilangan akal sehatmu ?
Justin terus menjerit dalam hati. Kenyataan terburuknya saat ini adalah mendapati Ibunya benar-benar gila.
‘’Tenang, aku akan memberimu uang untuk membeli sapu baru. Jadi uang sakumu tidak terkuras. Kita harus membeli warna apa ? Haruskah hijau seperti warna kesukaanku ? Atau ungu seperti warna kesukaanmu ? Bagaimana jika warna biru saja seperti kesukaan Jeremy ? bla...bla.blaa..’’
Pattie bergantian memeluk Justin dalam dekapannya. Ia tertawa seraya bersenandung dengan suara paraunya.
Justin terus terisak. Kenyataan benar-benar membunuh perasaannya. Terlalu dalam ! Hancur tanpa menyisakan serpihan !
Tiba-tiba........
‘’Kebencian ini terlalu berat Justin. Kau benar, aku harus melepasnya. Aku tidak sanggup lagi.’’ kini ia menangis.
‘’Mom..... ?’’
‘’Yah benar. Aku harus memaafkannya. Aku tidak ingin membiarkanmu terus khawatir dengan kondisiku. Pantas saja kau tidak pernah memilki pacar selain Keyla.’’gurau Pattie.
Lega. Bahagia. Damai.
Itu yang Justin rasakan. Pattie berhasil mengalahkan kepedihan yang selama ini bersarang. Kepedihan yang sudah membusuk. Pattie berhasil mengeluarkan sampah itu dari dalam batinnya.
Seharusnya ia lebih kuat dari Ibunya, tapi kenapa ia berlaku lemah saat ini?
Justin tersenyum dalam diam. Jika Profesor Nelson tidak kemari, apa semuanya masih akan sama ?
Melihat Ibunya menunggu dalam ketidakpastian ?
KAMU SEDANG MEMBACA
Ugly Duckling ( COMPLETED)
FanfictionCool. Charming. Cold Itu Justin. Dan Aleya. Ugly. Cuman itu. Bagaimana mereka bisa bertemu ? Sangat tidak mungkin bila cinta dimulai dari mata turun ke hati pada cerita ini. Ternyata Aleya adalah kunci bagi Justin untuk menyelesaikan masa lalunya. ♥...
