''Hei Justin,darimana saja kau ? Lihat, aku mendapat sudut yang baik disini.''teriak seorang mahasiswa bertubuh jangkung dengan rambut pirang ombaknya yang berkibar tertiup embusan angin.
Ia sedari tadi tengah berkutat dengan kamera yang tergantung dilehernya. Yah, tempat ini berada jauh dari pusat keramaian. Atmosfer tempat ini sangat hangat, dengan rimbunan pohon maple yang menguning keemasan, tak lupa dengan sebuah danau yang mengalir tenang.
Wajar saja, jika tempat ini menjadi tujuan para fotografer untuk berburu potret yang baik.
''Really? I'm sorry Nicky. Aku masih punya sedikit urusan dengan si profesor gila.'' katanya seraya tersenyum mengambil lensa DSLRnya.
''Prof.Smith? Kau tidak mengumpulkan laporan lagi ya?''
''Tebakan yang tepat'' katanya dengan senyuman tipis yang bahkan sangat terlihat tampan.
Justin segera mengarahkan kameranya pada pemandangan yang tersaji didepannya. Entah sudah berapa potret yang diambilnya, ia tidak pernah bosan ke tempat ini. Menurutnya satu tempat yang sama tidak akan ada momen yang sama.
''Nick, kenapa aku merasa ada yang memperhatikanku?''tanya Justin bergidik.
''Ah, aku lupa memberitahukanmu. Rumor ini sempat dilontarkan oleh orang-orang yang pernah datang kesini. Makanya orang-orang mulai takut kesini.''
Justin bergidik,''Maksudmu?''tanya Justin penasaran. Kini kedua alisnya bertautan.
''Ada yang mengatakan tempat ini angker, karena mereka pernah melihat hantu perempuan duduk disamping danau. Menurut mereka, itu adalah arwah wanita yang pernah tenggelam di danau ini.''tutur Nicky.
''Ah, yang benar saja? Jika itu benar, tidak masalah bagiku. Aku tidak takut terhadap cerita bodoh itu, dude !''remeh Justin seraya menepuk pundak Nicky.
''Yang benar saja? Bukannya..........''.
Tiba-tiba handphone Nicky berdering. Nampak kontak bertuliskan ''Queen of fire''. Sebenarnya itu adalah Ibunya yang dia kamuflasekan sebagai ratu api-karena ibunya sangat galak dan jikalau marah kau bisa melihat hidungnya mengeluarkan asap.
Dengan gugup diangkatnya telepon itu.
''Halo Mom,? Ah, benar aku lupa membayar uangnya. Aku akan membayarnya, setelah urusanku selesai. Ok bye Mom!''kata Nicky menutup telfon dengan cepat.
''Hei, what's going on?''tanya Justin menebak.
''Aku harus segera pergi. Pihak kampus menelpon ibuku kalau aku belum membayar uang ganti rugi itu.''kata Nicky terburu-buru seraya mengemas kameranya. Seminggu yang lalu ia memecahkan beberapa alat laboratorium. Dia sangat ceroboh.
''Ah, aku tahu. Uang itu kau gunakan untuk membeli lensa barumu itu kan?''
''Ah, aku tidak punya pilihan lain jika ingin memenangkan lomba fotografer itu. Kau kan tahu sendiri, ibuku tidak suka dengan hobiku ini.''dengusnya.
''Baiklah, ayo pergi sana. Urus masalahmu!''kata Justin seraya menendang kaki Nicky.
''Hei, awas kau Justin. Tunggu saja sampai hantu gadis danau ini menakutimu.''kata Nicky menahan sakit sambil berlari.
Justin hanya terkekeh dengan perkataan Nicky. kemudian Justin melanjutkan pemotretannya.
Tiba-tiba ia merasa ada yang aneh. Seketika bulu kuduknya merinding.
''Ah,apa aku terpengaruh dengan rumor bodoh Nicky? Dia kan seorang pembohong!''kata Justin menenangkan dirinya.
Justin sangat menikmati kegiatannya saat ini sehingga tanpa disadarinya waktu telah berjalan dengan cepat. Justin segera berpindah mencari tempat lain untuk mendapatkan foto yang bagus.
Dia berjalan menelusuri pinggir danau yang menghantarkannya pada pohon maple terbesar.
Dedaunan yang berjatuhan dari pohon itu sangat kontras dengan cahaya matahari yang mulai terbenam.
Srksrskkkk.. kreeksss...
''Who's that?''seru Justin yang kaget dengan suara berisik, terdengar seperti ada yang menginjak dedaunan kering dan ranting kayu.
Justin segera pergi ke sumber suara tadi dengan perlahan-lahan serta mengawasi keadaan di sekitarnya. Suara itu terdengar lagi. Bersumber dari balik pohon itu. Ditengoknya dengan keberanian yang dipaksakannya.
''What's? Tupai?''jeritnya dengan lega.
Ia tersenyum senang seraya menghempaskan tubuhnya ke pohon. Dia pikir itu adalah hantu gadis danau ini. Ia sudah ketakutan setengah mati. Tanpa disadarinya, Tupai tadi merebut tas kamera miliknya.
''Hei, Tupai nakal. Kembalikan taskuuuuu....''pekik Justin menjerit.
Dalam tas itu ada barang-barang penting miliknya yaitu, sejumlah uang dan kartu kreditnya.
Bagaimana dia bisa pulang jika sudah seperti ini?
Ia berlari gusar mengejar tupai itu seraya memegang kuat kamera besar yang tergantung di lehernya.
Apakah mungkin karena bau permen kacang miliknya yang berada di tas itu?
Ah shit ! Justin terus menggerutu kecerobohannya.
Hari mulai gelap. Matahari sudah bersembunyi dengan sempurna di balik cakrawala.
Justin tidak menyerah, ia harus mendapatkan tas itu kembali. Jika tidak, bagaimana dia bisa pulang?
Tupai itu terus berlari mengelilingi pohon-pohon dengan gesitnya, dan sekarang ia berlari ke arah rimbunan daun yang menjalar, terkesan seperti semak-semak liar yang tumbuh tak beraturan. Tupai itu memanjat dengan lihai.
''Apakah kau pikir aku menyerah? Aku ini pelari terbaik ketika aku berada di junior high school ! Cepat kemari kau tupai bodoh !''seru Justin seraya menarik tasnya dari bawah.
Dengan sekuat tenaga ia menarik tasnya hingga tupai tadi terpelanting ke bawah dan berlari hilang entah kemana.
Akhirnyaaaaa, ia mendapatkan tasnya kembali. Seketika ia berhenti seraya mengatur nafasnya dengan pilur keringat yang berjatuhan dipelipisnya.
''Apa ini?''gumamnya. Ia mengamati tumbuhan menjalar itu. Ini terasa janggal baginya. Ia memperhatikan dengan baik dedaunan yang menjalar itu dengan seksama. Nampak seperti gerbang tua, pikirnya.
Brugggg...
Tanpa sengaja Justin tersandung tali sepatunya dan tangannya mendorong dedaunan itu, dan ternyata benar.
Dedaunan tadi hanyalah kamuflase dari sebuah gerbang tua. Tempat apa ini, pikirnya.
Suasana disekitar Justin nampak sangat gelap. Hanya terdengar suara jangkrik yang memecah keheningan, membuat bulu kuduk Justin berdiri tegap tanpa ragu.
Srett.. srettt.. derapan langkah kaki Justin menggelegar memecah keheningan. Kini Justin berada dalam sebuah rumah tua yang kuno. Jika saja ada cahaya lampu disini, Justin pasti sadar jika sedari tadi ada bayangan hitam yang sedang memperhatikannya berada tepat di belakang pohon rumah itu.
''Tempat apa ini? Apakah ini tempat penyelundupan narkoba? Mungkin, daripada sebuah rumah hantu yang konyol.''gumam Justin tertawa, bermaksud mengusir ketakutannya.
Tiba-tiba, angin berhembus kencang disekitar Justin, menerbangkan daun-daun disekitarnya.
''Oh my God ! aku harus segera pergi ! tempat ini sepertinya tidak aman!''kata Justin seraya berbalik arah.
Namun sayangnya, tiba-tiba mata hazelnya menangkap sebuah bayangan yang pernah ada di imajinasinya. Ia merasa berada dalam sebuah cerita horor yang bodoh.
Apakah ini dunia Goosebumps ?
Series 2000 karangan R.L Stine ?
Come on. Itu sangat konyol, pikirnya.
Bayangan itu mendekat dan semakin dekat. Mempersempit jaraknya dengan pria bertubuh jangkung ini.
''Hei, apa kau tersesat ?''desah suara itu.
Serak dengan desahan.
Mata Justin terbelalak kini bukan bayangan lagi yang dilihatnya. Entah ini nyata atau tidak, ia melihat hantu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ugly Duckling ( COMPLETED)
FanfictionCool. Charming. Cold Itu Justin. Dan Aleya. Ugly. Cuman itu. Bagaimana mereka bisa bertemu ? Sangat tidak mungkin bila cinta dimulai dari mata turun ke hati pada cerita ini. Ternyata Aleya adalah kunci bagi Justin untuk menyelesaikan masa lalunya. ♥...
