3.Who is she ?

1.3K 75 0
                                        

''Arrrrrgggggghhhh.........''pekik Justin dengan sekuat tenaga.

Ia segera berlari keluar dari rumah itu. Ia berlari entah kemana. Badannya bergetar hebat. Ia terus berlari membabi buta di tengah kegelapan yang menyelimutinya.
Dan tanpa dia sadari, danau yang menganga tengah menantinya saat ini.Dan...

byuuuuuuuuuurrrrrrrr..

Justin terjatuh didalam danau. Apakah kalian tahu, jika danau ini memiliki kedalaman tiga meter? Justin bahkan tidak bisa berenang. Ia terus meronta-ronta dalam air. Tubuhnya semakin tenggelam kedasar.
Kali ini apalagi?
Akar tanaman didalam danau tersangkut sedemikian rupa hingga melilit kakinya.

''Ah, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau mati konyol seperti ini.''teriak Justin dalam hati.

Udara dalam paru-parunya kian menipis. Dan Justin masih pada posisi dan usaha yang sama. Matanya tidak kuat lagi menahan tekanan air malam yang dingin itu. Ketika dirasakan tubuhnya mulai melemah, ia melihat sebuah bayangan entah apa.
Mungkinkah malaikat pencabut nyawa?
Atau hantu danau ini? Entah apa.
Namun, seketika ia kehilangan kesadarannya.

♡♥♡♥

Tungku perapian dan secangkir coklat hangat adalah kedua hal yang sangat tepat untuk tubuh yang kedinginan saat ini. Gadis itu menyesap pelan- pelan minumannya sesekali menggosok-gosokkan tangannya mencari kehangatan. Ia berbalik menatap pria yang sedang tertidur disana, dengan pakaian basahnya. Gadis itu beranjak bangun dan mengambil handuk untuk mengeringkan rambutnya yang basah karena menolong Justin di danau tadi.

Yah, dia adalah Aleya.

Dia bukan hantu, namun ia hanya tidak beruntung memiliki wajah yang tidak sesuai dengan keinginannya. Ia menatap wajahnya dalam- dalam di depan cermin. Melihat refleksi wajah yang bahkan menakutkannya. Guritan-guritan daging itu tumbuh tak beraturan membentuk garis abstrak diwajahnya. Sepersekian detik, air mata mengalir dipipinya. Dengan cepat ia menghapusnya ketika menyadari Justin akan segera bangun. Dengan sigap ia, mengambil rajutan selendang miliknya dan membalut wajahnya hingga yang terlihat hanya kelopak mata birunya yang indah.

''Dimana aku?''kata Justin seraya mengedipkan matanya.

Ia melihat ruangan ini dengan seksama. Terkesan kuno dan juga klasik. Ratusan buku-buku tebal yang dibenci Justin tersusun rapi dalam sebuah rak yang besar dengan dinding berlapiskan bata yang kokoh.

''Kau berada di rumahku.''kata Aleya ragu seraya mendekati Justin.

''Rumahmu? Mengapa aku bisa disini?''tanya Justin masih tidak mengerti, karena yang ia ingat terakhir kali ia sedang berada di dasar danau tadinya.

''Aku menyelamatkanmu.''kata Aleya jujur seraya memainkan jarinya gugup.

''Benarkah kau yang menyelamatkan aku? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya !'' kata Justin memukul kepalanya.

''Hei, dimana kameraku?''seru Justin tiba-tiba dengan suara yang lebih lantang.

Rupanya ia sangat mengkhawatirkan benda itu, meskipun sebenarnya kamera itu tahan air.

''Ah ini, aku sudah mengeringkannya.''kata Aleya seraya menunduk mengambil kamera didalam laci lemari tua yang berada tepat disamping Justin.

Malangnya, ketika menunduk, selendang tadi ikut terjuntai ke lantai dan identitas Aleya terbuka di depan Justin.

''ARRGGHHHHHH..''Justin membelalakkan matanya.

Dengan sigap ia menghindar hingga terpental ke belakang sofa yang didudukinya.

''Tenanglah, aku bukan hantu.''kata Aleya menenangkan dengan cemas.

Justin menatap Aleya dengan tatapan yang sangat ketakutan. Deruan nafasnya sangat jelas, bahkan dengan getaran bibir yang sangat kaku.

''Per..giiiiii, kau hantu... yang mem..buat aku tenggelam tadi. Dan ini rumah....hantu tadi kan?''teriak Justin ketakutan seraya merapatkan dirinya di tembok.
Badannya bergetar hebat. Ia meringkuk seperti anak kucing yang diserang segerombolan anjing liar.

''Tidak, aku bukan hantu. Percayalah, aku memang terlahir dengan wajah seperti ini.''kata Aleya dengan terisak-putus asa.
Ia merasa malu. Sangat malu. Inilah mengapa ia berada di tempat ini. Sendiri, tanpa orangtua atau siapapun. Mungkinkah dengan orangtua yang sengaja mengucilkannya di tempat ini? Ataukah takdir menuliskannya untuk hidup seorang diri?
Ia mengambil selendang tadi dan segera berlari keluar dengan tangis yang masih tertahan di dadanya.
Justin masih belum bisa mencerna perkataan Aleya tadi. Hormon adrenalinnya bekerja dengan cepat, membuat sirkulasi darahnya yang menuju otak menjadi kacau, sehingga ia kehilangan kendalinya. Ketakutan masih menguasai pikirannya. Yang dia pikirkan bagaimana caranya ia keluar dari sini. Justin terus memutar otaknya seraya mengepalkan tangannya kuat. Dahinya yang mengerut menjelaskan bahwa otaknya sedang bekerja dengan keras saat ini.

AHA ! Justin sepertinya mendapatkan ide yang brilliant. Ia tersenyum senang, tapi kemudian wajahnya muram kembali. Sontak ia berdiri, dan mencari sesuatu dalam tasnya, dan ini dia kalung kontas miliknya.

''Baiklah, aku yakin ini akan bekerja. Pergilah kau hantu secepatnya dari tempat ini. Tapi, bukankah seharusnya aku yang pergi dari sini? Ah sudahlah.''gumam Justin kikuk seraya memainkan kontas di tangannya.

Justin mengendap-endap mencari dimana gadis itu berada sekarang. Entah mengapa tangisan mengerikan tadi tidak meninggalkan bekas sedikitpun. Pandangan Justin terarah pada sebuah pigura yang tertancap di dinding. Dengan perlahan ia mendekat dan membaca pigura kaca berbentuk pohon beringin itu dengan seksama : ''From Daddy, with Love''. Ayah? Tanya Justin dalam hatinya.

Ugly Duckling ( COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang