"Oke like that. Hold hold, smile .. Good, Great." ucap michael sambil memperhatikan layar kameranya.
"Always awesome, great job belle. Break 30 minute." Ucap michael lagi pada belle. Belle tersenyum senang dan melihat beberapa hasil jepretannya.
"I want this pict. Can i have it?" Tanya belle sambil melepas cardigan. Mic melihat gambar yang bell tunjuk di laptopnya.
"This pict? Just one?" Tanyanya lagi. Ini orang nanti kalo belle minta lebih diomelin kalo minta satu ditanyai satu doang. Kujitak juga nih fotografer lama-lama. Sabar thor sabar. Belle tersenyum lebar.
"Just this one. If I ask you to give me more, you definitely grumble." Jawab belle sambil tertawa. Michael melototi belle sambil mengambil laptop menjauh.
"No pict for you!" Ucap mic sambil duduk di kursi. Hahaha dia merajuk. Belle duduk disebelahnya dan memukul lengannya.
"You like a girl mic. I just kidding. You want to give me or not, it's okay." Ucap belle sambil tertawa dan membuka aplikasi sosial medianya.
"Oh ya, Do you remember the little girl in the park at that time?" Tanya belle pada michael. Mic menghadap belle dan mengerutkan keningnya lalu mengangguk.
"She's sick." Ucap belle sambil melihat layar hp dan menunjukkan pada michael.
"Are you serious? What happen with her?" Ucap mic lalu meletakkan laptop disampingnya.
"Depression." Ucap belle pelan sambil menatapnya.
"She and her family had an accident last week. Parents and her older sister died on way to hospital." Ucap belle lagi lalu menghembuskan nafas. Belle menatap michael lagi.
"Would you help her?" Tanyanya tanpa berpikir. Mic menatap belle datar lalu mengalihkan pandangannya. Belle menghembuskan nafas sekali lagi.
"I know you not a doctor anymore but you still a doctor mic. she really needs your help. Imeet her yesterday and she crying when sees me. 6 year old girl who was convicted of having a mental disorder asked me to take her away from the hospital. Mic, i want to say, she's not crazy. She just depression and i believe you can take care of her. I will help you." Ucap belle panjang. Mic menoleh ke arah belle.
"Help me? I don't believe if you can." Ucapnya mengejek belle. Belle menyikut rusuknya dan dia kesakitan.
"Jangan meremehkanku. Remember i'm a doctor too." Ucap belle kesal sambil memicingkan mata lalu melihat ke layar hpnya lagi. Mic tertawa terbahak.
"Really? If you a doctor, you wouldn't be here." Ucapnya sambil membuka laptop. Belle mendengus sebal.
"Nanti lo ikut gue, gue mau jengukin anna." Ucap belle sambil beranjak menuju toilet.
Michael memandang kosong layar laptopnya, tampak seorang gadis cantik berumur 6 tahun bermata biru sedang tertawa riang.
♢ - Belle POV
Aku memperhatikan wajahku di kaca. Aku terlihat sangat lelah dan kacau. Justin berbicara hal yang sangat aneh. Aku mengerti ucapannya, yang tidak kumengerti apakah semua itu benar? Aku ingin mendengarnya langsung dari yang bersangkutan tetapi itu tidak mudah. Aku menggosok wajah gusarku dan mencucinya, aku tidak perduli jika riasanku kacau.
"Where are you?" Tanyaku pada seseorang.
"......"
"Can we meet?" Tanyaku lagi.
"..."
"Selesai aku pemotretan, mungkin sejam lagi?" Jawabku
"......"
"It's oke, mungkin lain waktu. Maaf mengganggu." Jawabku
"......"
"It's oke dave, don't worry." Jawabku sambil terkekeh.
"...."
"Oke, good luck." Aku kembali menatap cermin. Apa justin benar? Apa dia... sudahlah aku tidak ingin memikirkan hal itu sekarang. Aku keluar dari kamar mandi dan disambut michael dengan tatapan menyebalkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unspoken Destiny
RomansaWhen the love that you believe it makes you hurt and loss. When a very beautiful love turn into a complicated. When destiny unite .. destiny also separates And if destiny was real? What would you do? Accept it or Change it?
