Nineteen

1.2K 42 5
                                    

"Come on Dave!" teriak seorang wanita cantik dari atas kuda.

Mata abu-abu yang bersinar karna terik cahaya matahari itu tersenyum. Menatapnya berulang kali tanpa henti.

"Careful Belle!" teriak Dave dari tempatnya bersandar. Perasaan yang sangat menenangkan setelah bertahun-tahun tidak dia dapatkan.

"You know what, kamu sungguh membosankan." ucap Belle dari atas kuda mendekati dave yang ditanggapi kekehan pelan oleh dave.

"Aku hanya ingin melihatmu berkuda.  Bermainlah sepuasmu." ucap Dave pelan. Belle mendecih sebal.

"Dave, semalam aku mengingatnya, bukankah kamu ingin mengatakan sesuatu padaku?" ucapan Belle menyadarkan Dave dari lamunannya. Menyadari bahwa 3 hari ini mereka hanya bermain dan melupakan tujuan kedatangan mereka. Dave menatap Belle dan tersenyum.

"Aku akan mengatakannya besok, untuk hari ini maukah kamu menemaniku kesuatu tempat?" tanya Dave sembari memiringkan kepalanya dan menatap Belle. Belle tersenyum dan menganggukkan kepala tanda setuju.

Dave menatap punggung Belle lama dan memutuskan kembali ke dalam villa.

Tanpa Dave sadari, Belle memperhatikannya dari jauh.
"Hei boy, i think i'm fallin again." ucap Belle sembari mengelus Jordan dan tersenyum.

               *******************

"Aiden." sapa Keira sembari menyodorkan secangkir coklat panas yang ditanggapi senyuman oleh Dave.

"Sedang memikirkan sesuatu?" tanya Keira lembut. Dave menatap Keira, pengasuh kesayangannya sekaligus ibu kedua bagi Dave. Seseorang yang selalu berada disampingnya apapun yang terjadi.

"Tidak kei, hanya saja sangat menyenangkan melamun." kekeh Dave yang ditanggapi senyum hangat Keira.

Keira menghampiri Dave dan menggenggam tangannya. Dave tertawa pelan.

"I'm okay Kei, hanya saja beberapa tahun ini terasa sangat sulit." ucap Dave sembari menghembuskan nafas pelan dan kembali tersenyum.

"Ah ternyata putraku sedang kesulitan." ucap Keira sembari mengelus kepala Dave pelan berulang kali.

"Apa karna Kaiden??" tanya Keira. Dave menghembuskan nafas kasar.

"Salah satunya." kekeh Dave lagi. Keira menatap lembut putra asuhnya itu lagi dan lagi.

"Sampai kapan akan memusuhinya?" tanya Keira lagi.

"Sampai dia berlutut memohon maaf padaku atas kesalahannya waktu itu." ucap Dave menatap lurus ke arah jendela. Terdengar hembusan nafas pelan Keira yang membuat Dave terkekeh.

"Merindukannya?" pertanyaan terakhir Keira mampu membuat Dave terdiam.

"Jenguklah. Dia pasti merindukanmu juga." ucapan Keira kali ini berhasil mengalihkan pandangan Dave.

"Can i? Aku tidak ingin menyakitinya. " jawab Dave khawatir. Keira tersenyum.

"Aiden, sejak kecil dia selalu menganggapmu sebagai seorang kakak untuknya, walaupun kejadian itu.." Keira terdiam sesaat. Dave menatap Keira yang berusaha menenangkan hatinya.

"Keira, i'm sorry." ucap Dave sembari memeluk Keira. Setetes air mata terjatuh dari mata Keira.

"Not your fault Aiden. Not yours." ucap Keira menyadarkan diri.

"Aku janji akan menjenguknya Kei. I promise." Dave memeluk Keira erat.

5 menit sebelumnya

"Mandi mandi mandi." ucap Belle riang.

"Aiden"

Belle menengok kearah ruang tamu dan mendapatkan sosok Dave dengan Keira sedang berbicara. Tanpa Belle sadari dia mendekatkan diri ke pintu dan mendengarkan percakapan mereka tanpa suara dan kembali berjalan menuju kamarnya perlahan.

Unspoken DestinyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang