Saat harapan kita dipatahkan pasti akan ada rasa sakit hati, kesal, marah, menyesal, bahkan -mungkin- kita bisa benci pada orang yang telah membuat kita berharap lebih.
Laura Veronika merasakannya, tapi tidak semua. Dia tidak benci pada orang yang membuatnya berharap. Dia masih bingung, sebenarnya mana yang benar, dia yang terlalu berharap atau cowok itu yang PHP? Entahlah. Rara malas memikirkan hal itu, yang jelas dia kesal dengan cowok itu, Gandi Lazuardi.
^^
Kamar yang biasanya rapih kini berantakan karena penghuninya sedang dilanda penyakit remaja yang sudah tersebar kemana-mana, galau. Musik mengalun keras di kamar itu, dan seorang cowok terdampar di tempat tidur yang seprainya sudah acak-acakan.
Menghela napas keras, dia bangun dari tidurnya lalu berdiri menatap pantulan dirinya dicermin.
"Lo tuh bego! Kata Alvian, lo bego. Bener-bener bego," ucapnya sambil menunjuk-nunjuk pantulan dirinya di cermin.
"GANDI! LO GILA APA? KECILIN VOLUMENYA! NANTI LO DIKEROYOK TETANGGA!" Randi dengan kesal menggedor-gedor pintu kamar kembarannya itu.
"Masuk aja lagi, pintunya nggak dikunci," Gandi melongokkan kepalanya dari pintu yang dia buka sedikit.
Randi berdecak lalu mendorong Gandi ke belakang, ia masuk ke dalam kamar lalu mematikan musik. Saat matanya mengedarkan pandangan ke seluruh kamar, Randi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kerasukan setan apa sih lo? Gila banget, ini kamar apa kamar? Sebenarnya lo kenapa sih?"
Bukannya menjawab pertanyaan adiknya, Gandi malah melengos lalu menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur. Dia menutup mukanya dengan bantal lalu menggeram.
"Astagfirullah ... Mama, Gandi kesurupan!" teriak Randi heboh lalu berjalan mendekati Gandi, "SAHA SIA?" ucapnya sambil memegangi kepala Gandi.
Gandi memukul kepala Randi dengan bantal berkali-kali sampai Randi terjengkang ke belakang.
"Ya ampun ... kalian lagi ngapain sih? Kayak anak kecil aja!"
"Mah, ini tolongin, Gandi kesurupan."
"Diem lo! Berisik banget," Gandi memukuli Randi dengan bantal sampai sarung bantalnya terlepas.
"Gandi!" teriakan Mama membuat Gandi menghentikan aksinya lalu duduk di atas karpet dengan napas ngos-ngosan.
"Aduh ... sakit," Randi mencoba untuk bangun lalu duduk di samping kakak kembarnya.
"Udah diem, jangan berantem. Mama mau lanjutin masak."
"Cemen lo! Dipukulin bantal aja sakit," cibir Gandi setelah Mamanya keluar dari kamar.
"Lah lo bego, sampe segitunya banget gara-gara cewek."
"Aduh," Randi meringis karena kepalanya mendapatkan jitakan yang tidak bisa dihindari.
Gandi mengacak rambutnya, "Masalahnya ... Rara udah satu minggu diemin gue. Berangkat sekolah juga dia nggak nungguin gue dulu, kita 'kan biasanya bareng tiap hari. Di kelas sih iya satu bangku, tapi kita nggak ngobrol sama sekali. Kalo pun kita ngobrol, itu tuh cuman hal penting, dan dia nggak pernah nyebut nama gue. Kalo ke kantin bareng kalian, dia nggak mau ngobrol sama gue."
Randi mendengarkan curhatan kakaknya dalam diam. Dia tahu ada sesuatu yang terjadi antara kembarannya dan sahabatnya, Rara.
"Dan sekarang ... dia malah deket sama David. Nanti tiba-tiba mereka udah jadian lagi. Nah gue gimana? Gue udah usaha buat deketin Rara padahal, tapi dia gitu."
"Masalahnya ... gue nggak tau kalian kenapa. Emang ada apaan sih? Kenapa Rara gitu?" tanya Randi.
Gandi menghembuskan napas lalu menceritakan semuanya pada Randi.
"Lo peluk dia?" tanya Randi tidak percaya.
Gandi mengangguk.
"Serius lo peluk dia?"
Gandi mengangguk lagi.
"Gue nggak percaya," Randi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tau ah. Pusing gue," Gandi berdiri dari duduknya. Ia melihat ke sekeliling kamarnya lalu menggeram. Dia melihat Randi lalu berjalan ke pintu kamar.
"Eh ngapain di kunci?" tanya Randi bingung.
"Sebagai adik yang baik, lo harus bantuin gue beresin kamar," ucap Gandi santai.
"OGAH! Nggak mau. Lagian kerjaan siapa coba jadi berantakan gini, bukan gue. Dan ini ... bukan kamar gue. Ngapain gue beresin?" Randi berjalan ke arah Gandi lalu menyodorkan tangannya, meminta kunci kamar.
"Beresin! Atau ... gue bilang ke Salsa, kalo lo cuman mau mainin dia," Gandi tersenyum licik.
"Dih ... gue nggak mainin dia. Gue serius sama dia, lo jangan fitnah."
"Makanya bantuin gue. Udah cepet bantu gue beresin kamar."
"Fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan. Dan Gandi ... yang kamu lakukan pada saya itu jahat."
"Najis, korban film!" Gandi mulai mengambil bantal yang berserakan dilantai lalu membereskan kamarnya dibantu oleh Randi.
^^
Tara memperhatikan adiknya yang lebih banyak diam dibanding biasanya. Belakangan ini dia sering melihat Rara melamun dan salah fokus. Seperti sekarang, bukannya memakan mie goreng yang ada di depannya, Rara hanya memainkan sendok dan garpu.
"Kalo udah selesai, cuci piringnya ya. Mama sama Papa mau ke rumah tante kamu, kita nginep di sana."
"Iya Mah," jawab Tara.
"Rara, kamu nggak kemana-mana 'kan? Udah nggak usah main, ini udah sore." ucap Mama.
"Heh!" Tara melempar Rara dengan kerupuk karena Rara melamun saja dari tadi.
"Ih! Apaan sih, Kak? Jorok banget," Rara membersihkan mukanya.
"Kamu kenapa?" tanya Mama bingung, "kamu denger 'kan Mama ngomong apa?"
"Ha? Oh iya-iya. Rara denger kok." Emang Mama tadi ngomong apaan ya? Bodo ah, batinnya.
"Mama tadi ngomong apa coba sama kamu?" tanya Tara saat orang tuanya dan Adel sudah berangkat ke rumah Tante.
"Ngomong apa emang?"
"Dih ditanya malah balik nanya."
"Ya ... 'kan aku nggak denger tadi."
"Kalo nggak denger kenapa bilang 'iya' coba?"
"Udah ah. Ayok bantuin beresin, nanti biar Rara yang cuci."
Tara menggelengkan kepalanya lalu berdiri dan membantu membereskan meja makan.
Setelah selesai mencuci piring, Rara menghamiri Tara yang sedang duduk di ruang keluarga. 'Mau ada yang dibicarain' katanya.
"Kenapa Kak?" tanya Rara saat sudah duduk di sofa.
"Harusnya Kakak yang tanya, kamu kenapa? Kok jadi aneh akhir-akhir ini?"
Rara sudah mengira bahwa kakaknya pasti akan menanyakan tentang sikapnya, ia menghela napas lalu menggeleng, "Aku nggak apa-apa, Kak. Cuma lagi pusing belajar buat persiapan ujian nasional aja."
"Masa sampe segitunya?" Tara tidak yakin.
"Yaudah kalo nggak percaya."
"Cowok?"
Rara tidak memberikan respon apa pun, dia malah menyalakan tv.
"David? Sam?"
"Bukan Kak ..., udah nggak usah kepo."
"Gandi?"
"Kenapa dia?" tanya Rara kesal.
"Oh ... oke-oke. Kenapa sama dia? Nggak nembak kamu? Kamu lagi marahan sama dia? Dia selingkuh? Eh? Emang udah jadian?" cerocos Tara.
"Ish! Berisik banget sih kak!" Rara berjalan menuju kamarnya dengan kesal.
Kadang, punya kakak yang keponya kebangetan itu bikin kesel.
*****
Yuhuuuu part 20 nih :v
Makasih yang udah baca cerita ini:* Vommentnya jangan lupa yaaa, jangan sider terus wkwkwk
KAMU SEDANG MEMBACA
Let It Flow
Novela JuvenilAku bingung dengan perasaanku sendiri. -Laura Veronika Do not expect, Let it Flow. Cover by: Fara Publish: Jum'at, 18 Maret 2016
