BAB 3 - Having Eye Contact

674 141 84
                                        

Disclimer : This story and fict is absolutely mine!

Happy Reading!

***

"Jadi menurut UU RI No. 54 Th 1997, bahwa psikotropika dibagi menjadi 4 golongan yaitu....." Pak Anton masih menjelaskan golongan psikotropika dengan lantang.

Arul melirik ke arah layar ponsel sesekali kemudian kembali berusaha menajamkan penglihatan serta pendengarannya pada sosok pengajar Undang-Undang Kesehatan di depan. Tapi Arul gagal fokus, semuanya sudah terlanjur buyar karena rasa lapar diperutnya sudah mencapai level teratas jika diibaratkan dengan game consol kepunyaannya.

Sudah mencoba bertahan namun apa daya lama-lama tak tertahankan juga karena sekuat apapun dia menahan lapar pada akhirnya perutnya akan berdusta juga. Bunyi perut tanda lapar itu sontak membuat Bimo yang duduk di sebelahnya tertawa namun segera dihentikan bahaya kalau sampai Pak Anton mengetahui.

Farrel dan Adriell yang duduk di depannya pun bisa mendengar bagaimana aksi suara demo perut Arul. "Kampret! siapa sih petugas piketnya hari ini? laknat banget udah lewat lima menit kagak bunyi juga tuh bel istrirahat!" gerutunya karena suara bel tak kunjung terdengar.

"Tau nih, mana gue juga belum sempet sarapan lagi. Laper!" Farrel ikut menyahut membenarkan gerutuan Arul.

"Jam lo kecepetan kali, Rul. Nih di jam gue masih sepuluh menit lagi baru bel," kata Bimo seraya menunjukkan jam tangan putihnya pada Arul.

"Kebiasaan korupsi waktu lo mah Rul," kali ini Adriell yang menyahut sambil sesekali melihat ke arah papan tulis khawatir Pak Anton memergokinya sedang mengobrol.

Takut? Tidak sih, tepatnya malas saja karena kalau sampai Pak Anton tahu Adriell pasti bakalan kena hukuman yang tidak masuk akal dari guru unik satu itu.

"Jam lo pada kali yang kelamaan. Jam gue sesuai ya Waktu Indonesia Barat nih, sekarang tuh udah waktunya kita kuy kantin." Kata Arul mengetuk-ngetuk layar ponsel miliknya yang sudah menunjukkan waktu istirahat.

Tapi para guru piket sepertinya memang tipe orang-orang tega yang membiarkan murid-muridnya kelaparan daripada berbaik hati menekan bel istirahat lebih cepat.

Padahal sesuatu yang dikerjakan lebih cepat itu lebih baik daripada yang lama, benar kan?

Dengan gemas dia bertingkah seolah memukul meja padahal tidak. Iyalah mana berani Arul-anak laki-laki tengil kebanyakan gaya tapi langsung menangis saat di bentak oleh Kepala Sekolah ketika dia ketahuan ingin cabut.

"Elah, lemot banget dah ah ini guru piket pada mending gue aja sini dah yang jaga," decak Arul lalu mengambil botol tupperware milik Bimo yang ada di atas meja. "Yaelah bagi dikit doang gue, Bim." Ujarnya saat mendapati lirikan tak ikhlas dari sang pemilik.

"Kebiasaan banget sih orang tuh ijin dulu sama yang punya baru ngambil bego dah gitu aja pake diajarin!" bisik Bimo lalu merebut tempat minumnya, sementara Arul hanya tersenyum tak bersalah karena dia memang sudah terbiasa seperti itu.

"Nah, jadi kalian sekarang sudah tahu bahwa masing-masing golongan--" Suara Pak Anton tenggelam oleh nyaringnya bel tanda istirahat. Seolah surga di depan mata, Arul dengan semangat membara menutup buku paket UUK kemudian menyimpannya ke dalam tas. Padahal sang guru masih bertengger manis di depan.

"Oke, pelajaran sampai di sini dulu. Jangan lupa kalian baca lagi supaya besok kalau saya tanya kalian bisa jawab ya, kalau perlu dihafal terutama untuk golongan psikotropika yang wajib kalian tahu."

"Iya Pak," jawab seluruh murid serempak-kecuali Arul yang isi kepalanya sudah terpenuhi oleh semua menu makanan enak yang ada di kantin. Setelah pamit Pak Anton pun meninggalkan kelas.

Our FeelingsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang