Disclaimer : This story and fict is absolutely mine!
Happy Reading!
--------------------------------------------
Asha duduk di kursi teras yang tersedia di depan rumah dengan tas berada di pangkuannya. Perempuan itu sudah rapi mengenakan seragam sekolah plus blazer khusus berwarna hitam dengan motif garis putih di dekat kancing. Rambut hitamnya di biarkan tergerai menutupi bagian atas bahu.
Kaki Asha bergerak-gerak sambil sesekali melirik jam tangan putih yang terpasang di pergelangan tangannya. "Bang Rion, buruan! Nanti Asha telat nyampe rumah sakitnya!" teriak perempuan itu untuk yang kesekian kali, namun Rion tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
"Bang Rion-"
"Aduh, anak gadis pagi-pagi udah teriak-teriak aja!" Rina muncul dari pintu samping garasi yang menghubungkannya langsung dengan dapur sambil membawa tas tupperware beserta botol minum kuning lalu memberikannya kepada Asha. "Abang kamu kan masih sarapan, tunggu dulu kenapa sih, Sha. Lagian kamu bukan sekalian ikut sarapan bareng aja."
"Mama, Asha nanti mules kalo sarapan sekarang mendingan nanti aja," jawab Asha meraih tas tupperware berwarna ungu, kemudian memasukannya ke dalam tas. "Lagian Bang Rion lama, Asha kan di suruh kumpul jam setengah tujuh di Permata, Ma. Nanti kalo telat ka-"
"Nggak bakalan telat, udah tungguin dulu sebentar lagi juga selesai sarapannya!" seru Rina membuat Asha memberengut. "Sha, di makan loh itu bekelnya nanti abisin jangan sampe nggak." Rina mengingatkan. Kebiasaan Asha jika meminta di bawakan bekal makanan adalah dengan menyisakan makanan tersebut dan membawanya lagi ke rumah.
Rina paham betul bagaimana porsi makan anak perempuannya itu. Dia tidak pernah berlebihan setiap kali membawakan bekal makanan. Namun, entah karena memang tak memiliki cukup banyak waktu dalam istirahat sehingga Asha tak sempat menghabiskan atau memang anak perempuan itu senang sekali mubazir terhadap bekal makanan.
"Kamu kalo udah bawa bekel nggak usah jajan lagi biar nggak sia-sia Mama bawain kamu makanan, Sha. Sayang kan kalo ujung-ujungnya malah ke buang."
"Iya Ma, nanti Asha tawarin temen aja biar abis itu juga kalo ada yang mau," sahut Asha.
"Yaudah Mama ke dalam dulu ya, nanti langsung jalan aja nggak usah pamit lagi ke Mama. Papa kamu juga sebentar lagi mau berangkat." Asha mengangguk sebagai jawaban kepada sang Mama.
Wanita itupun masuk ke dalam rumah setelah anak perempuannya melakukan ritual wajib; salim. Supaya lebih afdhal kan untuk memulai aktivitas hari ini.
Suara notifikasi ponsel terdengar dari balik saku blazernya. Perempuan itu dengan segera meraih ponsel dan membuka tombol lock screen.
Namun ketika lock screen terbuka, justru memperlihatkan satu notifikasi yang membuat matanya membulat sempurna di susul dengan notifikasi lain masuk.
Adriell A F added you as friend by phone number.
Line; you have a new massage
Asha kemudian membuka chat yang masuk. Dan lagi-lagi, isinya berhasil mengejutkannya. Ia tak pernah mengharapkan ini terjadi apalagi semenjak ia mendapati bubble gratis di kantin hampir seminggu yang lalu. Mungkin mayoritas kaum perempuan di sekolah sangat beruntung akan hal ini. Merasa suatu keajaiban datang menyapa dengan seutas harapan. Tentu saja mereka akan berbahagia.
Tapi tidak bagi Asha. Baginya, ini bukanlah sesuatu yang perlu di peruntungkan. Ia tidak pernah menginginkan sesuatu yang lebih terjadi di antara dirinya dengan anak laki-laki tersebut. Bahkan untuk sekedar bermimpi.
Adriell A F : hello
Asha tidak tahu apakah ia harus senang atau bagaimana mendapati chat dari laki-laki di pagi hari begini. Apalagi laki-laki itu adalah Adriell. Ia bergeming, jemari tangannya tak ada tanda-tanda akan bergerak di atas layar untuk sekedar mengetik balasan barang satu katapun. Bersamaan dengan akalnya yang merumuskan satu pertanyaan besar hingga memenuhi isi kepalanya.
Darimana Adriell dapetin kontak gue?
He was added me by phone number, btw.
"Oi! Bengong aja lu pagi-pagi." Rion tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Asha, mengejutkan adik satu-satunya itu. "Pake nih," perintahnya menyodorkan benda pelindung kepala.
"Ngagetin aja sih, Bang! Mana lama lagi lu, kayak cewek aja. Gue cewek nggak gitu-gitu amat." Sahut Asha seraya mendumal, tapi juga menerima sodoran helm dari Rion. Lelaki itu melirik Asha sekilas sambil menenteng satu helm lagi berwarna hitam lalu berjalan menuju ninja hitamnya yang sudah di panasi terlebih dulu di depan pintu garasi.
"Bawel amat sih,"
Asha beranjak dan mengikuti. "Eh, naik motor, Bang?" tanya Asha baru menyadari kalau Rion akan mengantarnya dengan motor. "Mobil-"
"Telmi amat deh, kan tadi udah gue suruh pake itu helm." Rion sudah bersiap di atas motor besarnya, "udah buruan ah tadi lo nyuruh gue cepetan, kata Mama setengah tujuh lo udah harus sampe Permata yaudah buru naik sini."
"Lo nggak ngampus emang, Bang?"
"Ya ngampus tapi nanti jam setengah delapanan otw, sekarang gue anter lo dulu biar efisien pake motor aja sayang mobil gue bensinnya cuma nganter lo ke Permata doang kepleset juga nyampe."
"Dasar pilih kasih!" dengus Asha. "Giliran cewek lo aja di bela-belain kemana-mana pake mobil!"
"Ya karena gue sayang pacar, makanya gue anternya pake mobil. Udah ah, buruan naik!"
***
Sorry for typo(s).
Btw, jangan lupa vote dan komentarnya ya.
XOXO
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Feelings
Teen FictionYou just need to understand about these feelings. Copyright© September 2016 by justmyaidenlee
