BAB 22 - A Kind of Stupid Ass

96 8 0
                                        

Disclaimer : This story and fict is absolutely mine!

Happy Reading!

------------------------------------------

"Loh, Hafidz belum datang juga?" Rina bertanya pada anak perempuannya yang tampak sekali bosan, bersandar di sofa dengan wajah tertekuk. Dia mengambil duduk di sisi kanan dan memberikan segelas susu coklat kepada Asha yang beberapa puluh menit lalu minta dibuatkan.

"Kok tumben ya sudah jam segini belum datang," Asha hanya menggeleng, tanpa mau susah-susah buka suara. Perempuan itu menerima susu tersebut dan menyeruputnya sedikit-sedikit lalu meletakkan di atas meja. "Hafidz nggak ngabarin kamu emang, Sha?"

Sekali lagi Asha menggeleng. Antara kesal, bosan dan lelah dalam dirinya seakan menjadi kesatuan yang sempurna hingga membuatnya ingin mencak-mencak di tempat.

Ia pikir Hafidz akan terlambat, karena sebelumnya lelaki itu pernah datang terlambat. Tapi tidak selama ini. Sudah hampir satu jam Asha menunggu, Hafidz tak juga menunjukkan batang hidungnya. Dan ini perdana Hafidz tak ada kabar.

Asha menghela nafas. Seharusnya malam ini, ia bisa melihat kakak tampan nan pandai itu lagi. Setidaknya untuk menutupi euforia yang ada di dalam tubuh Asha karena perbuatan Adriell hari ini. Tapi ia harus menapik harapan kosong itu, dan kesulitan menghilangkan ingatan perihal kejadian memalukan beberapa jam lalu.

"Mama, Asha ngantuk banget," ujarnya berusaha mengalihkan pikiran sesaat setelah menguap kecil.

Rina mengelus puncak kepala putrinya. "Yaudah sambil nunggu sebentar lagi kamu habiskan dulu susunya. Nanti kalo sampai jam sembilan Hafidz belum dateng juga, kamu ke kamar aja."

"Yaudah iya, Ma," jawab Asha.

"Mama ke dalam ya," Rina lalu bangkit meninggalkan Asha di ruang tamu. Perempuan itu sekali lagi mengecek handphonenya tapi tak ada pemberitahuan apapun yang datangnya dari seorang Hafidz.

Beberapa menit kemudian, Asha nyaris melempar handphone saat suara dentingan jam yang menunjukkan tepat pukul sembilan malam memasuki gendang telinganya.

Kemana sih ini orang sebenernya?

Ia mendengus kesal, lalu menandaskan susu dalam sekejap dan meletakkan gelas kosong itu di meja dengan agak keras. Kemudian bangkit mengambil semua peralatan belajarnya dan memutuskan ke kamar saja.

Bertepatan dengan itu, Rion masuk lengkap dengan jaket kulit coklat yang masih di kenakannya tak lupa ransel hitam menggantung di bahu kanan. Lelaki itu sedikit terkejut menemukan adik perempuannya ada di ruang tamu.

"Lah, lo disini? belajar sama siapa? Hafidz jadi datang?"

Pertanyaan beruntun itu menghentikan aktivitas Asha yang ingin meraih gelas. Keningnya mengerut, menatap Rion dengan bingung.

"Asha nggak jadi belajar, emang Bang Rion tahu kalo Kak Hafidz bakalan nggak datang?"

"Jadi, dia emang nggak dateng?" Rion malah bertanya balik, membuat Asha menggeleng pelan.

Sejujurnya, Rion sendiri merasa agak bingung saat menemukan Asha di ruang tamu dengan tumpukan buku di tangannya, dia pikir Hafidz memutuskan datang. Sementara siang tadi saat di kampus Hafidz menemuinya dan mengatakan kalau malam ini dia tidak bisa mengajar karena ada urusan yang tak bisa ditinggalkan.

Rion perlahan mengangguk. "Jadi, dia emang nggak dateng ya," katanya dan ini adalah pernyataan. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menatap Asha yang tampak mengantuk dengan sorotan agak menyesal.

"Sorry Sha, sebenarnya gue lupa ngabarin ke lo. Tadi siang di kampus Hafidz sempat bilang katanya malam ini dia nggak bisa ngajar dulu karena ada urusan penting. Tapi dia juga bilang sih kalo urusannya bisa selesai cepat dia usahakan datang, dan ternyata..dia nggak bisa datang," jelas Rion.

Asha tak langsung menjawab, ia menatap abangnya dengan datar. Jadi, karena ini Hafidz merasa tak perlu repot-repot mengirimkan pesan untuknya. Hafidz sudah meminta Rion untuk memberitahunya, tapi dengan seenak jidat mengatakan lupa, Rion membuatnya terpaksa menunggu semacam keledai dungu sampai terkantuk-kantuk.

Sedetik kemudian, Rion mendapat serangan kecil dari adiknya. "Lo apaan sih? kok malah ngelemparin gue pake gituan," dia mengusap dadanya pelan yang terkena tempat pensil. Tidak sakit, hanya saja lemparan adiknya itu cukup ampuh membuatnya meringis dalam hati dan mengejutkan.

"Bang Rion tuh kebiasaan deh kalo dititipin pesan nggak langsung di forward ke orang yang bersangkutan," Asha mendelik sebal pada Rion yang kali ini tak menunjukkan rasa bersalah sama sekali. Seolah perbuatannya itu bukan apa-apa. "Tau gitu kan gue nggak perlu capek-capek nungguin. Gue bisa bebas ngapain aja di kamar."

"Iya sorry, tadi tuh gue sibuk—"

"Sesibuk apa emangnya? Sampe-sampe nggak bisa pegang handphone barang semenit aja?!" Asha tak memberikan Rion kesempatan lagi untuk bicara, rasa kesalnya sudah mendominasi. "Timbang ngetik atau telpon berapa lama sih? Lo sama OB di sekolahan gue juga palingan masih sibukan OB di sekolahan gue, pake sok-sokan sibuk segala!"

Rion terbelalak mendengar ucapan Asha. "Gila apa lo pake bandingin gue sama OB."

"Bodo amat!" balasnya cepat. "Bang Rion tuh terlalu ngeremehin hal-hal kecil kayak gini sampe nggak sadar kalo perbuatan Bang Rion justru ngerugiin orang lain. Dasar ngeselin!" desis Asha segera meninggalkan abangnya dengan langkah besar.

Sementara Rion menghela nafas. "Yelah, gue lagi yang salah," lalu memandang tempat pensil yang dijadikan senjata oleh adiknya tadi tepat di dekat kakinya, kemudian memungut benda itu. "Dasar adek yang selalu benar."

***

Our FeelingsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang