Disclaimer : This story and fict is absolutely mine!
Jangan lupa vommentnya ya! Silahkan vote terlebih dulu untuk kemudian lanjut membaca x)
Happy Reading!
----------------------------------------------
"Untuk anak PKL yang shift pagi, kalian diperbolehkan istirahat terlebih dulu. Sementara pekerjaan kalian akan dilanjutkan dengan yang shift siang."
Bu Farida—selaku Apoteker yang bertugas di depo jaminan—mengingatkan. Berhubung waktu juga sudah menunjukkan pukul setengah dua siang, dia tak mungkin membiarkan anak-anak yang bertugas dari pagi untuk terus bekerja tanpa istirahat.
"Driell, istirahat dulu sana." Iqbal yang hari ini kedapatan shift siang mendekati Adriell, "ini biar gue yang lanjut ngerjain." ujarnya mengambil alih resep di tangan anak laki-laki itu.
"Oke,"
Adriell melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia tidak sadar kalau sudah melewati jam istirahat yang seharusnya di lakukan pukul satu tadi.
Well, banyaknya resep BPJS yang masuk membuat Adriell terpaksa mengesampingkan urusan perut sejenak. Sebagai calon Asisten Apoteker yang bertanggung jawab dalam pelayan kesehatan tentu saja ia harus menomor-satukan pasien.
Adriell pun melangkah menuju pintu keluar, tentu setelah ia meminta izin kepada sang Apoteker di tempat. Saat ia akan membuka pintu depo tersebut seseorang sudah lebih dulu membukanya dari luar.
"Lah? lo baru balik dari gudang, Sha?"
"Eh—iya nih, tadi gue nunggu Kak Kahfi dulu ngurusin barang dateng jadi agak lama deh." Sahut perempuan itu yang ternyata adalah Asha.
Asha membawa kardus ukuran kecil berisikan beberapa obat urgent dari gudang karena stock obat di dalam depo kebetulan kosong, padahal malam sebelumnya sudah di order.
Tapi karena pasien-pasien yang membutuhkan obat tersebut sepertinya sedang banyak di hari ini, maka Bu Farida menyuruh salah satu anak PKL untuk meminta obat tersebut ke gudang setelah melakukan konfirmasi terlebih dulu kepada petugas gudang.
"Yaudah gue—eh lo mau apain—" ucapan Asha terpotong saat tiba-tiba Adriell mengambil alih kardus dalam pegangannya.
"Sekarang ini udah jam setengah dua, Sha. Lo sama gue perlu waktu buat istirahat dulu, lagian emang lo nggak laper apa shift dari jam tujuh pagi juga."
"Enggak, gue kan udah sarapan tadi."
"Yakin nggak laper? Lagian udah masuk waktu sholat juga."
"Gue lagi pms," sahut Asha lagi. "Udah deh siniin kardusnya nanti Bu Farida ngomel kalo nggak langsung gue kasih."
"Oke, terlepas dari masalah kecewekan ya. Elo itu bukan robot yang bisa seharian kerja terus nggak pake makan, lo butuh tenaga. Dan tentang lo yang udah sarapan itu kan tadi pagi sekarang udah siang. Jadi mending sekarang lo ikut gue aja ke kantin, lagian Bu Farida udah nyuruh buat istirahat kok."
"Tapi—"
"Tunggu di sini sebentar, nggak usah ikut masuk. Biar gue aja yang kasih obat-obat ini ke Bu Farida."
*
Bukan tanpa alasan Adriell mengajak Asha untuk istirahat bersama. Satu minggu sudah mereka melakukan kegiatan PKL. Namun, sejak hari pertama Asha selalu saja menghindarinya. Perempuan itu terlalu sulit di dekati.
Memang bukan hanya kepada dirinya, Asha bersikap seperti itu. Bahkan terhadap yang lain, sesekali tampak seperti ada benteng yang dijadikan sebagai batasan oleh perempuan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Feelings
Teen FictionYou just need to understand about these feelings. Copyright© September 2016 by justmyaidenlee
