BAB 10 - Bukan Yang Diharapkan

238 38 13
                                        

Disclimer : This story and fict is absolutely mine!

Happy Reading!

----------------------------------------

Seperti biasa suasana kantin begitu ramai dengan para anak manusia yang mulai kelaparan. Arul yang sedang mengantri di salah satu stand sosis bakar, menunggu pesanannya yang sekarang ini berada dalam panggangan, berulang kali mengumpat dalam hati karena beberapa kali dia terdorong ke depan. Entah ini di sengaja atau tidak tapi ini cukup membuatnya semakin emosi belum lagi perutnya yang sedari tadi sudah berdemo.

Paham kan dengan galaknya orang yang sedang lapar? Hampir saja Arul meneriaki orang-orang di belakangnya kalau tidak ingat kaum perempuan adalah mayoritas di sini. Jadi, selain bersikap gentle, dia juga harus bersabar sampai setidaknya pesanannya itu sampai ke tangan.

Nggak lucu banget kan kalo gue ribut sama kaum alay ini, bisa hancur image keren gue!

Batinnya berbicara. Merasa seolah menjadi manusia paling oke diantara yang lain. Arul lalu menarik nafas panjang. Dia melempar pandangan ke arah ujung kantin dimana teman-temannya sudah duduk tenang sambil menikmati makanan mereka masing-masing.

Sementara itu, Adriell menyuap dim sum yang dipesannya beberapa menit lalu. Farrel dan Bimo pun duduk bersamanya dengan pesanan mereka masing-masing.

"Si Billy kok kagak masuk-masuk sih? udah dua hari, sakit apaan dia?" tanya Farrel sambil meniup-niupkan mie telor kornet keju yang di gulung dengan garpu.

"Nggak tau dah, mana tuh anak masih ngutang anak timbangan sama gue lagi," sahut Adriell.

"Lah, beneran ilang anak timbangan miligram lo yang di pake Billy?" tanya Bimo selepas menyeruput minumannya. "Mayan tuh, Driell. Kalo beli di toko alkes* kan nggak bisa satuan harus sepaket."

"Iya tau gue, padahal dua minggu lalu gue baru aja beli malah di ilangin sama tuh anak."

"Enak ye yang udah makan duluan," Arul datang dengan sosis bakar jumbo terbungkus mika ditangannya.

"Lama amat, Rul. Ini mie keburu melar," komentar Bimo saat Arul sampai disana, kemudian mengambil duduk di kursi depan Farrel, sebelah Bimo.

"Kalo bukan favorite juga males tai gue antri. Buset deh agresif banget cewek-cewek main dorong-dorong aja!" keluhnya. "Eh ini udah lu pakein kecap, Bim?"

"Udah."

Arul mengaduk mie di mangkuk putih itu, lalu membuka mika dan mengambil satu tusukan sosis kesukaannya bersiap menggigit sosis yang di bakar agak gosong itu.

"Doa dulu pinter!" kata Adriell.

"Iye iye!"

Adriell baru akan menyuap dim sumnya lagi bersamaan dengan seorang perempuan yang datang menghampiri mejanya. Dengan wajah mengurai senyum, kedua mata yang memandang lurus ke arahnya.

Seketika menghancurkan nafsu makan Adriell. Otomatis sikapnya berubah defensif. Tidak jadi menyuap, menyisakan lima potong dim sum di piring kecil. Meletakkan kembali sumpit dengan agak kasar. Sementara tangannya kini beralih mengambil ponsel. Mencoba menyibukan diri dengan benda pintar tersebut.

"Hai," sapa perempuan itu. Berdiri tepat di sisi meja, sebelah Adriell dan Bimo. Bersama dengan aura feminisnya yang dulu sempat membuat Adriell terpana.

"Eh, Vinia." Bimo menyambut. "Hai," balasnya. Sementara Arul dan Farrel membalas dengan senyuman.

Mereka semua sama-sama tahu bahwa kehadiran sosok Vinia di tengah-tengah nikmatnya makan siang mereka bukanlah sesuatu yang diharapkan oleh Adriell. Bahkan mulai tampak pertahanan benteng tak kasat mata yang otomatis terbentuk sebagai pembatas diri Adriell. Merasa tak sudi di dekati.

Our FeelingsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang