BAB 24 - Friend?

6 1 0
                                        

Disclimer : This story and fict is absolutely mine!

Happy Reading!

-----------------------------------------

Asha duduk di salah satu kursi yang ada di dalam kantin rumah sakit, sambil menunggu pesanannya datang ia mencoba sibuk dengan beberapa aplikasi sosial media yang ada di ponselnya. Bukan bermaksud sombong, hanya saja perempuan yang menjadi kawan makan siangnya kali ini tak cukup membuat dirinya merasa nyaman.

Lagipula ia juga tidak mengerti kenapa ini tiba-tiba terjadi?

Dan sekarang Asha tidak tahu apa yang harus ia katakan untuk memecahkan keheningan di mejanya yang sepertinya menjadi meja paling sunyi dari meja-meja lain yang ada di ruangan tersebut.

"Well, setelah tiga minggu lebih PKL akhirnya tiba waktunya gue makan siang cuma berdua sama lo," Vinia membuka suara setelah perempuan itu meletakkan ponsel yang layarnya sudah menghitam. "Lo nggak keberatan kan kalo hari ini makan siang lo sama gue bukan sama Adriell dan teman-teman lo yang lainnya?"

Asha mengernyit, ia menurunkan ponselnya yang sedari tadi berada di depan wajah-menghalangi sosok perempuan yang duduk di depannya. "Kenapa harus keberatan?" tanyanya setengah sangsi.

Vinia mengedikkan bahu. "Gue pikir lo nggak pernah mau temanan sama gue,"

"Kita emang nggak pernah temenan sebelumnya," balas Asha cepat.

Vinia tertawa mendengar penuturan perempuan itu penuh kejujuran. Selain karena keduanya tidak pernah sekelas dan tidak terlibat apapun, Vinia tidak pernah mengenal anak-anak perempuan yang tidak memiliki popularitas seperti dirinya; di kenal banyak orang dan selalu menjadi pusat perhatian. Sementara Asha cenderung menutup diri dan tidak suka menjadi pusat perhatian.

Tak ada pembicaraan apapun lagi. Sampai dua orang pelayan dari stand yang berbeda mendatangi meja mereka, meletakkan pesanan dan beralih pergi.

"Lo lagi dekat sama Adriell," ujar Vinia melirik perempuan di depannya sambil mengaduk bakso kemudian mencicipinya sedikit.

Itu pernyataan yang sebenarnya sudah Vinia ketahui belakangan ini. Bahkan tak membutuhkan jawaban karena jelas dia sudah tahu apa yang sedang terjadi antara perempuan yang sekarang menjadi lawan bicaranya dengan sosok laki-laki yang dulu pernah mengisi harinya.

Dan kejadian kemarin siang pun kembali memenuhi kepalanya.

Asha berhenti mengunyah. Potongan daging dari soto yang di pesannya entah mengapa jadi begitu sulit untuk di telan. "Sorry-"

Ia tidak tahu harus berkata apa. Sisi lain cukup merasa tak enak hati. Sepanjang hidupnya selama enam belas tahun Asha tidak pernah dihadapkan dengan keadaan seperti sekarang. Duduk dengan perempuan yang tak pernah sekalipun ia harapkan menjadi temannya, apalagi perempuan ini adalah sosok ex dari laki-laki yang belakangan selalu muncul dalam harinya.

Tiba-tiba ia merasa bagaikan penghalang yang merusak hubungan orang lain.

"You don't have to sorry."

Asha menggeleng. "Gue sama Adriell sama aja kok, kayak Adriell sama teman-teman yang lain," jelasnya. "We just friend. Lo jangan salah paham."

Mendengar itu kilasan senyum muncul di sudut bibir Vinia, hanya beberapa detik sebelum kembali sibuk dengan mie di mangkuk baksonya. "Well, gue pikir lo juga punya kesempatan yang sama. Lo berhak dekat kok, gue nggak ada hak ngelarang karena dia emang bukan siapa-siapa lagi selain teman buat gue."

Asha menatap Vinia seraya mengernyit. Tatapan perempuan itu penuh selidik seolah Vinia baru saja mengatakan sebuah kebohongan.

"Jangan liat gue kayak gitu," rupanya Vinia menyadari."Gue sempet jealous sih saat tau kedekatan lo sama Adriell, tapi sebuah penyesalan dalam diri gue lebih dominan," aku perempuan itu menunduk sebelum kembali menatap Asha lurus-lurus.

"Penyesalan emang selalu datang belakangan kan? dan gue sudah melakukan hal paling bodoh sementara banyak cewek menginginkan posisi gue saat itu." Vinia tersenyum getir, membiarkan rasa miris itu mendatanginya. "Gue emang pantes dapetin ini semua."

Jujur Asha tidak pernah ingin tahu sekalipun tentang penyebab hubungan Vinia dan Adriell kandas. Dulu ia sering mendengar tiga sahabatnya heboh story telling mengenai sosok Vinia-mulai dari dekat, pacaran sampai berakhirnya hubungan perempuan itu dengan Adriell. Asha juga tidak pernah berharap akan datang hari dimana ia justru mendengar curhatan singkat Vinia tentang penyesalan yang mendera perempuan itu.

Asha tidak tahu apa yang telah dilakukan Vinia sampai pada akhirnya hubungan perempuan itu dengan Adriell putus. Tapi satu hal yang ia sadari, kenyataan bahwa Vinia menyesal itu pasti karena setidaknya Adriell merupakan laki-laki potensial bagi kaum hawa.

Oh, tentu saja semua itu akan menjadi penyesalan mendalam bagi setiap perempuan yang begitu menyukai sosok Adriell apalagi setelah mereka mendapati kesempatan menjadi kekasih.

Kecuali gue.

Dirinya tersadar. Kenapa juga ia jadi memikirkan hal yang tidak guna untuk di pikirkan? Urusan Vinia bukanlah urusannya. Asha bukan tipe perempuan yang akan mengurusi hal itu.

Asha pun menggeleng. "Kita nggak pernah terlibat. Kita nggak pernah temenan. So, lo nggak seharusnya cerita ini ke gue dan nggak seharusnya gue denger tentang ini dari lo."
"Kenapa?"

"Kenapa?" Asha mengulang pertanyaan Vinia. "Lo nggak kenal gue, Vinia. Gimana kalo ternyata gue nggak bisa keep your story dan semua orang tahu tentang lo yang menyesal karena putus sama Adriell?"

"Lo tau? nggak semua orang yang lo anggap baik dan dekat sama lo akan selalu dipihak lo, sementara nggak semua orang yang lo anggap musuh akan selalu mengacungkan senjatanya buat nyerang lo. Dan gue..bisa liat itu dari mata lo-dimana lo selalu menghindar dari gue seolah gue musuh yang bisa nyerang lo kapan aja."

Vinia mengurai senyum kecil sambil menatap Asha, dia melanjutkan. "Tapi buat gue itu bukan masalah, dan entah kenapa gue justru ngerasa lo adalah orang yang tepat buat mendengar ini,"

"Tapi gue nggak-"

"Lo adalah pendengar dan bukan pembohong yang baik. Itu alasan kenapa gue nggak perlu ragu buat bicara soal ini ke lo," selanya mencoba mematahkan argumen Asha.

"Asha!"

Keduanya lantas menoleh serempak ke sumber suara. Disana terlihat seorang perempuan berseragam sedang berjalan ke arah mereka.

"Devi," Asha menampilkan senyum ketika teman yang lainnya menghampiri. Sementara Vinia hanya melirik sekilas lalu menyuruput minumannya. Dia merasa tak mengenal Devi dan hatinya tak tergerak untuk mengenal perempuan berkulit kuning langsat itu seperti dia mencoba mengenal Asha sekarang ini.

"Gue pikir lo sama Bella," Devi melirik Vinia sekilas, "ternyata sama Vinia."

"Iya, Bella lagi banyak kerjaan katanya dia nggak enak kalo ninggalin kerjaannya gitu aja di depo. Terus pas gue mau istirahat ketemu Vinia di depan UGD, dia mau istirahat juga. So, we here," jelas Asha mendapat anggukan dari Devi.

Tiba-tiba Vinia bangkit. "Gue harus balik ke depo sekarang. Lo bisa ditemenin Devi disini buat ngabisin makanan lo," dia mengulum senyum kecil. "Thanks lo udah mau istirahat bareng gue, Sha. Gue duluan ya."

Asha menatap kepergian Vinia. Dalam benaknya banyak pertanyaan yang timbul setelah mendengar cerita singkat perempuan itu. Kenapa Vinia merasa begitu yakin menceritakan ini padanya? meski Vinia telah mengatakan tapi belum tentu apa yang dia lihat sesuai dengan keadaan sebenarnya kan?

"Lo cocok sama dia?" Devi melirik Vinia yang sudah melangkah menjauhi tempatnya duduk sekarang, menyadarkan Asha dari lamunan singkat. "Obrolan apa yang kalian pikir kalian nyambung?"

Asha mengedikkan bahu. "Lo tau dia, Dev. Gue nggak akan pernah imbang sama dia. Cuma sebatas obrolan nggak penting aja sih."

***

Yuhuuu after a long time.
Finally bab 24 updated yaa.
Entah masih ada yang ingat ga yaa hahaha semoga masih ada
Btw jangan lupa like sama kritik dan sarannya. Thank youuuu

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 22, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Our FeelingsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang