BAB 19 - Gara-gara Ice Cream

110 9 0
                                        

This story and fict is absolutely mine!

Happy reading!

-------------------------------------------

Devi meletakan nampan yang penuh terisi dengan segala pesanan di atas meja, setelah mengantri sekaligus menunggu pesanan selama beberapa puluh menit, anak perempuan itu lantas kembali ke tempatnya.

"Pesenan lo; mcflurry dark choco oreo, chicken burger sama mcfloat lecchy," Devi dengan telaten menaruh pesanan milik Adriell. Anak laki-laki ini hanya mengangguk karena tengah fokus pada layar laptop sementara jari-jarinya sibuk mengetik.

Menggeser ke kanan sedikit, Devi pun melakukan hal yang sama kepada Asha. "Nah, ini pesenan lo; ice cream matcha top, chicken snack warp sama mcfloat mango kan?"

Asha mengurai senyum menerima ice cream tersebut. "Thanks ya, Dev. Maaf ngerepotin lo," ujarnya merasa tak enak hati.

Devi langsung mencibir. "Nggak usah lebay ya, Sha, cuma kayak gini aja. Lo mah masih aja kaku sama gue," katanya sambil menarik kursi tepat di depan Asha. Sementara perempuan itu hanya menunjukkan cengiran.

Sebenarnya, mereka sudah berada di tempat tersebut sejak satu jam lalu tapi baru sempat memesan makanan. Mereka hanya memesan minuman sebelum di fokuskan dengan laporan PKL yang perlu di perbaiki setelah melakukan revisi beberapa hari lalu untuk lanjut ke bab tiga.

Devi yang sedari tadi bertugas mendiktekan, Asha mengetik sementara Adriell mencari referensi dari beberapa laporan yang di pinjamnya dari senior di sekolah. Mereka pun memutuskan memesan makanan saat minuman mereka sudah sepenuhnya habis dengan Devi yang melangkah menuju meja konter pesanan.

Asha kembali berkutat pada buku di pangkuannya sambil sesekali mendiktekan yang perlu di ganti dalam laporan kepada Adriell yang kini sibuk mengetik menggantikan posisi Asha sebelumnya.

"Btw, gue makan ya laper," Devi membuka kotak makanannya. Dia satu-satunya yang memesan makanan berat karena tak sempat menikmati makan siang di kantin Rumah Sakit. "Nih, pada mau nggak lo?" tawarnya kemudian.

Asha melirik sekilas. "Makan, Dev, kenyangin perut lo."

"Jangan lupa berdoa," Adriell ikut menyahut, menatap geli Devi yang sudah bersiap menyantap hidangannya; Mcspicy. Sementara perempuan itu hanya mengangguk sambil terus menikmati sensasi kunyahan.

Adriell baru beberapa detik mengalihkan tatapannya menuju layar laptop. Seolah indra penglihatan laki-laki itu memiliki kekuatan magnetic secara langsung menariknya untuk menatap Asha yang duduk di sebelahnya.

Perempuan itu tampak sangat menikmati matcha top-nya meski matanya tetap fokus pada teks di buku. Dahinya bahkan sesekali mengerut mencoba memahami setiap tulisan yang ada di sana.

Adriell tahu bahwa dia sempat tertegun, melihat Asha yang tak perlu merasa khawatir kalau-kalau ice cream itu akan mencair, menuruni cone sampai mengotori tangannya. Atau buruknya buku dalam pangkuan perempuan itu akan kejatuhan lelehan es.

Tapi nyatanya, itu memang tidak terjadi sejauh pandangan Adriell.

Dia tersenyum dalam hati, pancaran tatapannya tak mau lepas begitu seru memperhatikan sosok manis di sisi kananya ini. "Nikmat banget ya, Sha," komentarnya kemudian.

Asha menoleh, membalas Adriell yang kini mengurai senyum. "Lo..mau?" tanyanya polos menyodorkan ice cream tersebut pada Adriell. Tanpa ada keraguan yang muncul, Asha sempat berpikir kalau Adriell tampaknya menginginkan es itu.

Tentu saja, hal demikian membuat Adriell setengah kaget. Terlebih lagi Devi yang hampir tersendak segumpal nasi melihat bagaimana polosnya Asha melakukan penawaran tanpa pikir panjang.

Kemudian Adriell mengubah ekspresi, dia tertawa tampak begitu tampan. Tanpa canggung yang ditutup-tutupi lagi laki-laki itu menyentuh lengan Asha, agar ice cream tersebut terarah menuju bibir si perempuan.

"Gue kalo mau bisa pesen sendiri kok, lo abisin aja keburu meleleh nanti bisa ngotorin tangan lo jadi lengket," kecuali kalo lo udah gue halalin, nggak masalah itu ice cream langsung gue makan.

Adriell mengakhiri ucapannya dengan senyum, sementara Asha membisu. Sentuhan Adriell di kulitnya menimbulkan bulu-bulu halus yang tertidur menjadi bangkit seketika. Sensasi yang menjalar masuk ke dalam syaraf justru tak lantas membuat kinerja otaknya menjadi lebih baik. Sampai-sampai menciptakan rona kemerahan di wajahnya.

Asha benar-benar tak menyadari kalau perbuatannya justru menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Pikirannya terlalu pendek untuk menerka apa yang akan terjadi. Ia hanya harus merasa sopan saja terlepas itu adalah teman. Lagipula ia meyakini Adriell bukan tipe laki-laki yang akan mencari keuntungan bahkan melalui celah terkecil sekalipun.

Bersyukur, Adriell memang sopan. Meskipun nyatanya Asha benar-benar sudah kebingungan dimana ia harus menyimpan wajahnya saat ini.

Sementara Devi tampak menahan tawa, dia menggelengkan kepala tapi juga menikmati hiburan konyol dari kepolosan seorang Asha. "Untung aja lo masih waras, Driell, gue bisa cengo beneran kalo lo makan itu es krim dari tangan Asha langsung," lalu keluarlah tawa seorang Devi Larasati. "Anjir hampir goal padahal tuh."

"Maunya sih gitu, Dev."

Dan Asha bersumpah bahwa ia sudah mencapai kesadaran sehingga benar-benar mendengar sahutan Adriell yang membuatnya semakin ingin tenggelam dalam cone ice cream di tangannya.

***

Next?

Vote or comment please:)

Our FeelingsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang