BAB 11 - Bubble and Apologize

207 26 7
                                        

Disclaimer : This story and fict is absolutely mine!

Happy Reading!

----------------------------------------

"Lah, temen-temen gue pada kemana?" tanya Adriell sesaat setelah ia kembali dari stand minuman. Melihat meja yang tadi di huni enam orang minus dirinya sekarang hanya tersisa dua perempuan yang asyik berbincang-bincang.

Rike yang pertama kali menyadari kedatangan Adriell menoleh. "Oh, tadi Farrel di panggil anak osis di suruh ke ruang osis. Kalo Bimo sama Arul bilangnya sih mau ke toilet tapi nggak tau balik ke sini lagi apa nggak," jelasnya.

Adriell melihat mangkuk-mangkuk mie yang tadi di pesan oleh teman-temannya sudah tandas semua berikut dengan minuman mereka. Minuman milik Adriell pun tak luput dari serangan. Kalau seperti ini mana mungkin ada tanda-tanda bahwa Bimo dan Arul kembali.

"Oh gitu ya," jawab Adriell. Ia melirik Asha yang sudah selesai dengan makanannya. Fokus perempuan itu kini tertuju pada ponsel.

Adriell berpikir sejenak, apakah perempuan itu sudah minum atau belum ya? Lalu melirik ke arah tupperware merah disana. Apakah Asha sudah meminum air yang ada di dalam benda itu?

Adriell terlihat sangsi tapi di saat yang bersamaan akalnya menyuruh agar ia segera memberikan apa yang ada di tangan sekarang. Perduli apa dirinya apakah Asha sudah minum atau belum, yang terpenting ia bisa melaksanakan niatnya kan?

Laki-laki itu berdehem sebentar, tiba-tiba saja jantungnya berdegup meski tidak terlalu kencang.

"Asha, ini buat lo."

Adriell meletakkan bubble mocchacino di meja lalu menggeser perlahan minuman itu agar lebih dekat dengan sang perempuan. "Gue nggak tau lo suka rasa apa, tapi semoga aja mocchacino termasuk list minuman favorite lo ya," lanjutnya berusaha santai.

Tangan kiri laki-laki itu mengusap tengkuknya, kedua bola matanya mengarah pada pinggiran meja sebelum akhirnya memberanikan diri menatap Asha yang terkejut melihat apa yang di lakukannya. Berikut Rike dengan mulutnya setengah terbuka.

"E--enggak usah, Driell." Asha terbata-bata efek keterkejutannya, perempuan itu tak mengerti dengan minuman yang tiba-tiba Adriell berikan. "Jangan repot. Lo nggak perlu--"

"Gue nggak mau punya utang," sahut Adriell cepat menghentikan pergerakan tangan Asha yang mendorong gelas bubble untuk mengembalikan minuman itu padanya. "Lo inget gue pernah pinjem uang ke lo kan, Sha? dan sebagai gantinya gue beli ini buat lo."

"Tapi gue nggak pernah anggep lo ada utang sama gue," Asha menatap Adriell yang berdiri di sisinya-begitu menjulang. Tentu perempuan itu mengingat dengan jelas ketika mereka mampir ke foto copy dekat sekolah. "Lagian itu nggak seberapa sama lo yang udah nganterin gue pulang." dan helm pink itu..

Asha menelan saliva, lalu menunduk sejenak. Ngomong-ngomong bagaimana kabar benda itu ya? sampai sekarang Asha masih tidak mengerti alasan yang membuat laki-laki di depannya ini membeli helm saat mengantarnya pulang. Kemudian Asha mengangkat wajah menatap lawan bicaranya.

Adriell membalas tatapan Asha, untuk pertama kalinya Adriell merasa bisa selama ini having eye contact dengan perempuan itu tanpa jarak jauh seperti beberapa waktu lalu.

Oke, mungkin jika di ukur uang sebesar dua ribu rupiah memang tidak ada apa-apanya dengan Adriell yang sudah mengantar Asha pulang ataupun dengan harga bubble di meja.

Namun, Adriell tetap menganggap hal itu sebagai hutang meski Asha sudah ikhlas sekalipun. Ia merasa harus tetap membayar kewajiban itu kepada Asha yang telah membantunya. Lagipula jika saat itu tak ada Asha, siapa lagi yang akan meminjamkan uang untuk membayar foto copy miliknya?

Our FeelingsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang