BAB 20 - Pemberian Kecil

111 10 3
                                        

Bab ini agaknya panjang, sudah diusahakan supaya lebih singkat tapi tetep aja jadinya segini-gini juga hehe. Enjoy it!

---------------------------------------

"Lo kenapa sih? nunduk aja daritadi?"

Adriell membuka helm setelah Asha turun dari motor besarnya, mata hitamnya langsung memperhatikan pandangan Asha yang lagi-lagi tampak mengarah ke bawah. Seakan diantara aspal-aspal yang ada di depan rumah perempuan itu terdapat pemandangan jauh lebih menarik daripada ketampanan yang ia miliki.

Sepanjang perjalanan tadi pun keduanya habiskan dalam kebisuan. Diantara suara-suara bising transportasi dan keramaian jalanan Ibukota tak lantas membuat Asha mengangkat wajahnya. Tentu saja, Adriell menjadikan itu sebagai kesempatan untuk menilik baik-baik wajah perempuan yang di boncengnya melalui kaca spion. Keadaan tersebut kian menjadi dejávu bagi Adriell karena faktanya hal tersebut memang pernah ia lalui.

Ia bahkan merasa tak perlu membuka pembicaraan yang sudah bisa dipastikan hanya berupa jawaban singkat yang akan di dapatnya.

Sementara si perempuan, tanpa merasa berdosa karena mengabaikan pertanyaan laki-laki di hadapannya, dia berusaha menekan jantungnya yang kian berdetak meminta dibebaskan. Mati-matian menahan diri, takut-takut kejadian yang mungkin lebih memalukan akan menimpanya lagi. "Nih, helm lo," ujarnya pelan.

Adriell tak lantas menerima sodoran tersebut. Ia memilih menunduk juga agar dapat mencapai wajah didepannya, sehingga mata hazel itu tampak membulat begitu terkejut mengetahui perbuatannya.

"Lo kan ngomongnya sama gue, Sha, bukan sama aspal kenapa sih nunduk mulu? Nggak pegel emang?" nada suaranya terdengar biasa saja, bahkan kemungkinan Asha akan tertawa mendegar celotehan Adriell yang tampak konyol. Hanya saja, keadaan sekarang menahan dirinya untuk sekedar menunjukkan senyum, ditambah sorotan mata hitam laki-laki itu memperparah pertahanan dirinya, membuat Asha harus menelan saliva berulang kali.

Tanda peringatan muncul diatas kepala Asha, secepat itu dia memilih melangkah mundur untuk memberi sedikit jarak dari jangkauan Adriell. Setidaknya, jarak untuk dia bisa bernafas secara normal. Namun, nyatanya Adriell tak membuat keadaan menjadi lebih baik. Rasa keperdulian laki-laki itu seolah tak ada disana.

Ketika kaki Asha mencoba melangkah kebelakang, tangan kekar Adriell yang tertutupi jaket berwarna dark grey itu justru menahannya. "Lo tau nggak, gue bahkan khawatir kalo leher lo ini sudah kehilangan pertahanan sampai-sampai nggak bisa nopang kepala lo lagi," jauh di luar perkiraan Adriell dengan berani menyentuh dagu Asha, perlahan tapi pasti sesuai keinginannya. Mata hazel itu kini menatapnya.

"Cuma sekedar pembuktian kalo kekhawatiran gue ini nyatanya memang bukan kebenaran. Lo masih bisa ngangkat kepala sendiri kan," Adriell mengulum senyum ketika keduanya sudah terlibat kontak mata selama beberapa puluh detik.

Jenis senyum yang terukir itu, tentu saja menjadi hal yang begitu diinginkan dan mampu meluluh-lantahkan pertahanan diri kaum hawa. Well, tanpa terkecuali Asha. Berkali-kali pun dia menyatakan ketidaksetujuan, faktanya seorang Adriell memang tampak lebih tampan kala tersenyum.

Detik berikutnya, Asha mengerling beberapa kali untuk memeriksa keadaannya sendiri. Meyakinkan kalau dirinya sudah sepenuhnya sadar, tetapi merasa malu disaat yang bersamaan mengingat lagi-lagi dia harus kehilangan konsentrasi meski sesaat karena perbuatan Adriell.

"Lo apaan sih? leher gue masih sehat kok," kilahnya diantara detakan jantung dan desiran tubuh yang belum juga mencapai titik normal.

Adriell menatap seru, menyadari betapa seharian ini terhitung sejak insiden ice cream tadi perempuan di depannya ini tampak mudah sekali menunjukkan blushing seolah itu sudah menjadi wajah alaminya. Dan bodohnya, ia sangat menyukai hal tersebut.

Our FeelingsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang