BAB 8 - A Little Morning Drama

268 58 17
                                        

Disclaimer : This story and fict is absolutely mine!

Happy Reading!
-----------------------------------------

"ASHAAA!"

Teriakan itu membuat beberapa penghuni kelas yang sedang sibuk masing-masing terpaksa menoleh untuk melihat orang idiot mana pagi-pagi sudah menciptakan polusi suara. Parahnya si pemilik suara tidak sadar bahwa suaranya yang persis seperti toa masjid sampai penjuru kelas dengar semua. Apalagi masih banyak bangku kosong makin nyaring saja suaranya.

Dia hanya memasang wajah bodo amat tanpa merasa bersalah karena sudah mengganggu dan memilih mendatangi perempuan yang tadi dia teriakan.

"Lo tuh apaan sih pagi-pagi udah teriak kayak gitu!" Ujar Rike ketika Neta sudah berdiri di sisi mejanya. Rike sedang duduk bersama Asha, di kursi Manda--yang belum terlihat batang hidungnya. "Ganggu aja!"

"Tau, Ta. Kuping gue masih normal nggak usah teriak," sahut Asha masih fokus pada kalkulator di tangannya. "Nah, ini hasilnya segini nih Ke, berarti lo tadi belum dibagi makanya hasilnya beda," lalu menunjukkan kalkulator scientific miliknya kepada Rike.

Rike memukul dahinya pelan. "Oh iya, pantesan aja. Bego banget dah gue kelupaan mulu kalo dibagi juga," katanya lalu mengambil alih kalkulator Asha segera mengganti hitungannya yang salah di jurnal.

Asha tertawa. "Lo kurang teliti aja, Ke."

Neta diam memperhatikan dua temannya itu sibuk mengurusi perhitungan bahan resep yang baru dia kerjakan dua resep dari empat resep yang ditugaskan, setelah meletakkan tas di bangku Neta beralih ke bangku Syifa--teman sekelasnya yang duduk di depan Manda untuk langsung berhadapan dengan Asha. Berhubung bangku itu masih kosong jadi Neta duduk di sana.

"Jurnal lo udah selesai, Ta?" tanya Asha melirik Neta yang duduk di bangku Syifa menghadap ke arahnya. Perempuan itu sedang menuliskan tanggal resep di jurnal.

Bukannya menjawab Neta malah bertanya balik, membuat Asha harus menghentikan kegiatan menulisnya. "Lo kemaren balik sama Adriell?"

"Kenapa emang?"

"Bener, Sha?!" suara Neta meninggi, "jadi ceritanya lo mau nikung gue?"

Lagi-lagi. Beberapa anak yang ada di dalam kelas bahkan yang baru masuk menoleh. Kelihatan sekali wajah-wajah mereka menampilkan ingin tahu meski ada juga yang mencoba untuk tidak perduli. Bagus sekali di hari yang masih pagi dan cerah ini Neta sudah menampilkan drama di kelas.

"Apa sih, Ta. Kalo ngomong biasa aja please, nggak usah ngegas gitu." Rike sambil melotot merasa terganggu dengan kelakuan Neta setelah itu kembali ke jurnalnya lagi.

Sementara Asha memukul lengan Neta. "Jangan drama deh lo pagi-pagi gini, gue bukan cewek kayak gitu ya."

"Ya terus kenapa lo bisa sama Adriell?" kali ini Neta dengan suara pelan seraya cemberut. "Lo tau gue suka banget sama dia,"

Asha menghela nafas. "Gue yakin banget Manda pasti udah berkoar kan di grup semalem, nggak perlu lagi gue jelasin."

"Gue mau denger dari lo langsung." Neta bersikeras.

"Please ya Ta, Manda itu nggak kayak elo yang kalo cerita suka dilebih-lebihin. So, lo pasti udah paham."

Neta berdecak. "Lo kemaren nolak pulang bareng gue tapi mau pulang sama Adriell. Tolong ingetin gue kalo lo selalu bilang Adriell itu biasa aja, nggak bikin lo tertarik, apalagi semenjak kejadian waktu itu. Tapi kemaren lo malah lebih pilih itu cowok daripada gue temen lo sendiri buat sekedar pulang bareng. Nggak nyangka gue sama lo." katanya setengah mendramatis.

"Ya menurut lo aja ya. Orang mana yang mau nerima ajakan bareng dari orang yang tampangnya sinis, nggak ikhlas gitu nawarin pulang bareng." balas Asha tak kalah sinis. "Lagipula gue juga bakalan milih nungguin gojek kalo bukan karena itu anak udah kurang ajar nyodorin gue ke cowok."

"Asha tuh terpaksa, Ta. Lo tau dia nggak bisa naik angkutan umum sendirian kan, kurang-kurangin itu nethink sama temen sendiri. Lagipula Adriell arah Cibubur juga nggak masalah kalo mereka berdua pulang bareng. Lo nggak usah over deh sekarang. Mending kerjain tuh resep paham banget gue pasti lo belum ngerjain," sahut Rike berusaha menengahi.

Rike tidak ingin pagi hari yang cerah ini malah dijadikan adu debat tidak penting untuk yang kesekian kalinya oleh Neta yang notabene cerewet dan Asha yang keras kepala. Pasti tidak akan ada yang mengalah. So, sebelum itu terjadi lebih baik Rike memisahkan sekarang.

Neta cemburut. Ia percaya kalau Asha pasti akan memilih hal itu mengingat bagaimana sikapnya. Berhubung teman-yang-paling-tidak-banyak-bicara-dengan-laki-laki-yang-tidak-dekat-dengannya-itu memiliki trauma. Neta yakin Asha bukan perempuan yang tega melakukan istilah.. teman makan teman.

Neta menarik nafas panjang. Sadar kalau dia sudah berlebihan. Maklum perempuan sedang masa pms bawaannya kesal terus, apalagi Neta kan memang sudah sangat menyukai Adriell sejak lama. Dia merasa tidak rela saja saat semalam melihat grup.

Neta yang selama ini begitu mengagumi sosok Adriell sementara Asha yang terlihat tak pernah menunjukkan tanda-tanda kalau perempuan berambut sebahu itu tertarik, tetapi kenapa malah Asha yang mendapati kesempatan bersama Adriell?

"Udahlah, Ta. Itu namanya udah rezeki Asha di boncengin sama cowok ganteng. Nggak usah iri nanti pasti ada saatnya buat lo kok," kata Rike selesai mencatat jurnal seolah mampu membaca pikiran Neta.

Sadar jika dia mungkin akan tersuduti kalau tidak langsung kembali ke mejanya, Neta pun berdiri bersiap melarikan diri. Well, ini menjadi pilihan tepat daripada dia membiarkan telinganya panas karena mendengar ceramahan tidak penting dari Rike.

Masih dengan wajah cemberut perempuan itu menarik buku jurnal Asha yang sudah tertutup rapi. Asha mencoba menahan. "Eh mau di bawa kemana, Ta?"

"Pinjem, gue mau nyamain," jawabnya bohong lalu meninggalkan bangku Syifa menuju bangkunya sendiri di belakang.

Rike terbahak menyadari temannya yang satu itu terlihat sensi beberapa hari ini, walau begitu dia tetap menyahut. "Nyalin kali mah!"

***

Vote dan comment selalu dinantikan ya. Terima kasih:)

Our FeelingsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang