Disclaimer : This story and fict is absolutely mine!
Happy Reading!
----------------------------------------
Waktu menunjukkan pukul satu siang. Asha yang kali ini ditugaskan di dalam ruang racik bersama Erna-salah satu Asisten Apoteker di depo umum masih disibukkan membagi rata serbuk obat yang sudah selesai di gerus untuk dimasukkan ke dalam cangkang kapsul.
Perempuan itu harus di buru-buru dengan sediaan agar cepat selesai karena tumpukan resep racikan lainnya masih menunggu. Sementara itu, Erna masih sibuk menge-press perkamen yang sudah terisi racikan Rifampicin, Isoniazid beserta Vitamin C.
Well, poli paru sepertinya sedang kejar tayang dengan pasien-pasiennya. Terbukti seberapa banyak resep racikan yang masuk dari poli tersebut.
"Sha? Istirahat nggak?" Ratih menyembulkan kepala dari pintu ruang racik yang hanya terbuka sebagian sementara badannya sedikit terhalang benda bercat putih tersebut. "Gue mau ke mushola nih, kalo mau sekalian yuk bareng gue."
Asha menoleh, mendapati teman satu deponya kali ini muncul di pintu dengan membawa keperluan sholatnya tergantung di lengan kirinya.
Perempuan itu berpikir sejenak, ia melirik keranjang; setumpuk resep masih menunggunya untuk di racik. Tidak mungkin dirinya akan bertindak seegois itu untuk meninggalkan tanggung jawabnya dengan membiarkan Erna bekerja sendirian. Apalagi ia sudah di percaya untuk membantu.
Tapi, sholat adalah kewajiban. Bagaimana ia mengatakan pada seniornya itu?
Asha menarik masker yang menghalangi sebagian wajahnya, agar bisa lebih leluasa berbicara. "Hmm-lo duluan aja deh, Tih."
"Racikannya masih banyak banget ya?" Ratih menyadari kegiatan Asha terlihat lebih sibuk daripada kegiatannya, yang mana harus menginput resep-resep yang masuk.
"Iya, lo nggak apa-apa kalo mau duluan nanti gue nyusul aja."
"Kamu nggak apa-apa kalo mau sholat sekalian istirahat dulu, Sha." Erna menyahut sambil menata perkamen yang sudah di press, ke dalam wadah dan menekan bel-tanda bahwa ada resep racikan yang sudah selesai di kerjakan, agar Asisten Apoteker yang bertugas dalam penyerahan obat segera menindaklanjuti.
Perempuan berhijab itu menyadari kalau anak PKL yang membantunya sudah dari pagi di ruang racik. Lagipula ini sudah memasuki jam makan siang, maka dia tak mungkin membiarkan Asha terus bekerja.
"Tapi racikannya masih banyak, Kak, ini kapsul aja belum selesai."
Erna mendekati Asha, mengambil alih cangkang-cangkang kapsul yang sebagian sudah terisi serbuk."Biar aku aja yang lanjutin, kamu mending sholat aja. Sekalian makan siang dulu, udah dari pagi kan disini."
Erna paham bahwa Asha termasuk anak yang sangat mempertanggungjawabkan pekerjaannya, apabila belum selesai takkan berhenti. Sementara Erna sangat menghargai, tapi dia harus menarik cangkang-cangkang kapsul tersebut dari area Asha karena jika tidak perempuan itu sudah pasti tidak akan beranjak dari duduknya sebelum keranjang resep tak lagi menampung kertas-kertas berisi coretan penting dokter.
"Nggak apa-apa nih, Kak? Asha nggak enak ninggalin kerjaan,"
Asha memandang Erna dengan raut wajah agak menyesal, padahal perempuan itu belum bertindak apapun.
"Iya, Sha, nggak apa-apa kok, sana istirahat dulu sama Ratih." Balas Erna tersenyum. "Oh iya, anak pkl yang jadwal siang di sini siapa ya? biar dia aja yang gantiin kamu bantu aku ngeracik."
"Yuli sih kalo nggak salah," Asha agak ragu karena tak mengingat siapa yang terjadwal siang hari ini di depo umum. "Eh-iya bukan sih, Tih, kalo Yuli siang disini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Feelings
Teen FictionYou just need to understand about these feelings. Copyright© September 2016 by justmyaidenlee
