Disclaimer : This story and fict is absolutely mine!
Happy Reading!
---------------------------------------
Sabtu siang. Waktu menunjukan pukul satu lebih empat puluh lima menit. Asha berdiri di depan mading dengan list yang wajib diketahui semua anak kelas sebelas sudah terpampang jelas di mata bulat perempuan itu.
Pengarahan yang di berikan Bu Hani--selaku wali kelas berkaitan dengan Praktek Kerja Lapang sudah selesai, sehingga ia terburu-buru mencapai mading.
Sesampainya di sana masih banyak anak-anak kelas lain yang mengerubungi mading, meski begitu tak menghalangi niat Asha yang sudah penasaran untuk melihat kelompoknya. Soal dimana ia akan melakukan PKL, rumah sakit atau apotek, ia tak mempermasalahkannya.
Yang menjadi persoalan dalam pikiran perempuan itu hanyalah; siapa sajakah yang tergabung menjadi kelompoknya?
Kerumunan anak-anak di sekelilingnya yang begitu heboh, entah menjerit kesenangan atau mengeluh soal kelompok tak kunjung membuat Asha segera menyisihkan diri dari sana. Teriakan Neta dan Rike pun seolah hanya angin lalu disamping dan belakangnya.
"Ah, males banget gue nggak ada sekelompok sama lo pada." Rike mendecak sebal melihat list beberapa kali namun tak menemukan satupun nama sahabatnya yang tercantum di kelompok yang sama dengannya. "Boleh protes nggak sih?"
Asha pun menoleh. "Protes kemana, Ke? ini kan yang ngatur kelompok Bu Gendis. Orangnya aja nggak dateng," dengan teratur ia mundur memberikan space sekaligus mengalah untuk anak-anak lain yang ingin melihat.
Sejujurnya, Asha setuju sekali kalau saja Rike ingin melakukan aksi protes, sebagai teman ia akan mendukung sekaligus meminta bantuan Rike agar kelompoknya di ganti saja atau paling mudah tukar tempat dengan dirinya yang pindah ke kelompok lain.
Namun, saat melihat tanda tangan Bu Gendis beserta bukti persetujuan Kepala Sekolah mengenai pembagian kelompok tersebut, ia hanya mampu menghela nafas. Mencoba berbesar hati dengan menerima semua itu mulai sekarang hingga dua bulan ke depan.
"Iya, lagian kayak lo berani aja ngomong ke Bu Gendis," sahut Manda yang kini sudah berdiri di sisi kanan Asha.
"Hah, calon pacar gue sekelompoknya sama lo lagi, Sha." Neta memberengut sekilas sebelum berkata lagi. "Tapi sayangnya noh mantan guguk malah ngikut di situ juga."
"Mantan guguk?"
Neta memutar mata. "Nggak usah telmi deh. Gue tau lo emang nggak pernah ngikutin gosip sekolahan tapi tanpa gue jelasin pun lo udah paham maksud gue," katanya sambil menunjuk list kelompok Asha di mading.
Rike menghela nafas. "Iya walaupun gue nggak bersyukur banget dapet kelompok kayak kelompok gue sekarang, tapi setidaknya Tuhan tau mana yang lebih baik jadi kelompok gue. The peoples like them," Rike menunjuk beberapa gerombolan anak perempuan yang sedang menuruni tangga. "Jelas nggak ada di kelompok gue, dan gue pikir gue harus bersyukur."
"You lucky, then." Manda mengangguk, menyutujui perkataan Rike.
Sementara Asha lagi-lagi hanya mampu menghela nafas. "It means.. I'm not lucky?"
*
Suasana Starbucks sore itu ramai sekali, hampir semua tempat duduk telah di miliki. Orang-orang di dalam sana terus bergilir datang dan pergi. Bagi mereka yang hanya sekedar ingin menikmati kopi mungkin hanya bertahan paling lama satu jam-merasa harus bergantian dengan yang baru datang.
Kecuali mereka yang fokus dengan laptop di meja akan menghabiskan waktu lebih lama.
Namun, hal itu tak berlaku bagi empat anak laki-laki yang kini sedang duduk di salah satu tempat di pojok ruangan Starbucks. Ini sudah jam ketiga mereka duduk dengan obrolan ngalor-ngidul ala-ala dimana hanya mereka yang mengerti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Feelings
Ficção AdolescenteYou just need to understand about these feelings. Copyright© September 2016 by justmyaidenlee
