Saat ini keluarga Sheen sedang berkumpul dalam formasi lengkap di ruang keluarga yang ada di lantai dua. Sheen yang duduk di sofa hanya terdiam dengan wajah tanpa emosi meskipun Alaric alias Papanya sedang menatapnya tajam.
"Apa yang sudah kamu perbuat hingga Mama mendapat telpon dari BK sekolah?" Desis Papanya.
"Sheen nggak ngrasa salah apa-apa Dad." Jawab Sheen tenang yang membuat Papanya mengatupkan gigi erat.
"Menampar anak orang sampai lebam-lebam itu bukan sebuah kesalahan Afsheen?" Tanya Papanya masih dengan desisan menahan amarah.
Sheen menutup matanya dan menghela napas lelah. Dia benci kalau keluarganya sudah memanggil nama lengkapnya, itu artinya mereka benar-benar marah.
"Itu bukan kesalahan kalau Sheen nglakuinnya dengan alasan yang kuat," jawab Sheen masih tenang.
"Daddy mendidik kamu bukan untuk kelakuan memalukan seperti ini Afsheen! Daddy mendidik kamu dan Elys dengan keras bukan untuk berbuat semena-mena kayak gini. Buat apa kamu belajar berbagai ilmu beladiri kalau cuma untuk melawan orang lemah? Kalau mau sok jagoan ayo lawan Daddy!" Amarah Papanya meledak.
Namun hebatnya Sheen masih tak bergeming. Dia tidak ikut terpancing amarah maupun ketakutan melihat kemarahan Papanya. Melihat reaksi anaknya yang tak bergeming membuat Alaric menghela napas panjang dan lelah. Bahunya terkulai dan tatapannya meredup berubah sendu. Pria itu mengusap mukanya lelah dan menatap putrinya yang sedang menatap lurus kedepan.
"Daddy kecewa Sheen," lirih Papanya namun mampu terdengar semua orang yang ada di ruangan itu.
Saat itulah Sheen merasa matanya panas, namun tubuhnya tetap duduk tegak tanpa pergerakan. Matanya yang berkaca-kaca tetap menatap lurus ke depan. Elys ingin membela kakaknya, mengatakan yang sebenarnya namun Sheen sudah melarangnya di dalam lift saat menuju ruangan ini tadi. Sedangkan Anne--Mamanya-- dengan sabar mengelus punggung suaminya dan menatap prihatin putrinya.
Ditengah keheningan ruangan itu, suara dering dari handphone Alaric memecahkan suasana dingin yang melingkupi keluarga itu.
"Ya? Berita apa? Elys? Kirimkan fotonya padaku... terimakasih." Sahutan Papanya pada seseorang di seberang telepon menarik per-hatian semua orang. Tapi Sheen masih tidak bergeming, posisinya sa-ma, tak ada gerakan hanya suara napas dan kedipan matanya yang me-nandakan bahwa ia manusia bukan benda mati.
Alaric menurunkan benda pipih itu dari telinganya dan mengutak-atik aplikasi chat. Beberapa detik kemudian rahang Alaric mengeras, laki-laki tersebut menghela napas kasar dan menunjukkan apa yang ada di handphone-nya itu pada istrinya. Sheen dan Elys melihat Mama mereka membelalak lebar dan terkesiap.
"Elys? Apa yang terjadi padamu disekolah tadi nak?" Tanya Alaric pelan dengan nada memelas.
Seketika Sheen dan Elys tau bahwa orang yang menelpon Papa nya tadi memberitahu berita Elys disekolah tadi, dan orang itu juga mengirimkan foto artikel di mading tadi pada Papanya.
Anne merasakan tubuhnya memanas, dia murka melihat apa yang orang lain lakukan terhadap putrinya itu. Sedangkan Elys hanya duduk bersandar dengan lemas dan tatapan kosong. Dengan perlahan Anne mendekati Elys dan memeluknya sembari menenangkannya.
"Karena itulah Sheen nggak ngrasa salah. Tindakan Sheen menampar orang yang membuat masalah ini hanyalah hal sepele," lirih Sheen masih dengan tatapan lurus ke depan dan mata berkaca-kaca. Tubuhnya tetap duduk tegak tanpa bersandar.
Ucapan lirih yang mampu didengar semua keluarganya itu mampu menghentikan apapun yang sedang mereka lakukan.
"Dan Daddy harusnya nggak kecewa sama Sheen. Sheen cuma nglindungin Elys." Lanjut Sheen tetap lirih yang membuat Papanya segera menuju arah Sheen dan memeluknya erat. Mengucapkan kata maaf berkali-kali sambil mengusap lembut kepala putrinya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Famous Untouched
Novela JuvenilDingin ketemu dingin? Apa jadinya? Nicholas Amadio Ganendra, cowok heartbreaker dengan incaran para gadis standar yang nggak famous sama sekali, padahal Nico termasuk cowok terpopuler disekolahnya. Dengan semua kelebihannya itulah banyak kaum hawa y...
