Sheen merasa jantungnya hampir copot. Dia mengira UKS dalam keadaan kosong, tetapi setelah menutup pintu dan berbalik badan, Sheen menemukan wajah Nico berjarak lima senti dari wajahnya. Dengan mata membulat hampir saja Sheen berteriak, untung saja tangan Nico membekapnya sehingga Sheen tidak akan menimbulkan kehebohan. Setelah kekagetan di wajah Sheen memudar, Nico melepaskan bekapannya dan menyentil dahi Sheen.
"Aw! Paan sih lo? Dikira kagak sakit nih dahi?!" Bentak Sheen sambil mengelus-elus dahinya pelan.
"Digituin aja sakit, terus kenapa lo sok kuat tad?" Tanya Nico.
"Ngomong apaan sih lo?"
Nico menatap tajam Sheen, "Dikira gue nggak tau kalau kaki lo cidera?"
"Ngarang aja!"
"Terus ngapain lo kesini?"
"Pengen tidur."
"Alesan. Liat kaki lo tuh, udah lebam, bengkak lagi. Dasar sok kuat."
Setelah berkata begitu, Nico segera menarik tangan Sheen menuju bed yang ada di UKS. Langkah Nico yang lebar seketika terhenti saat Sheen menyentak tangannya.
"Gue bisa ngobati kaki gue sendiri, lo balik aja ke acara." Kata Sheen.
"Nggak usah kebanyakan alasan deh, lo tuh tim gue. Kalau lo besok nggak bisa nugas, yang repot kita semua. Personil berkurang, apalagi acara puncak masih lusa. Gue butuh personil lengkap biar acaranya lancar. Cepetan deh jalannya."
"Iya, bawel amet lo."
Setelah Sheen duduk diatas bed, Nico menghampirinya sambil membawa kotak P3K. Tanpa aba aba dan kata, tiba tiba Nico membuka sepatu Sheen.
"Eh... eh... nggak usah." Kata Sheen spontan menarik kakinya.
"Diam aja napa."
Sambil mengerucutkan bibir dan mendengus tak urung Sheen menuruti perintah Nico, bukan karena takut akan Nico tetapi karena kakinya yang terasa nyut-nyut an saat ditarik tiba-tiba tadi. Nico duduk disamping bed sambil serius mengurut dan membalur pergelangan kaki Sheen dengan minyak urut. Tanpa sadar Sheen terus memandangi wajah Nico yang fokus melihat kakinya yang terkilir.
"Gue heran." Kata Nico tiba-tiba.
"Hmm," sahut Sheen.
"Lo nggak ngrasa sakit?"
"Sakit kok." Kata Sheen masih serius memandang wajah Nico.
Secara tiba-tiba, Nico mengangkat wajahnya dan berpandangan dengan Sheen. Sheen yang terpegok sedang memandangi Nico hanya bisa berkedip beberapa kali dan mengalihkan pandangan.
"Kenapa nggak pincang kalau sakit? Dengan kaki kek begini pasti sakit buat jalan biasa." Kata Nico kembali mengfokuskan pandangannya ke kaki Sheen.
"Udah biasa, kekilir doang."
"Nyiksa diri banget sih,"
"Enggak juga. Kadang lo harus cari kegiatan yang bisa bikin lo ngrasa puas dan nggak sia-sia."
"Lo puas karena nyakitin diri lo sendiri?"
"Ya. Gue puas kalau diri gue terluka."
Jawaban Sheen sontak membuat Nico tersentak, dipandangnya lagi wajah gadis itu. Sheen terlihat menerawang dengan pandangan lurus kedepan dan matanya terlihat kosong.
"Lo gila." Gerutu Nico.
Tetap dengan pandangan kosong Sheen tersenyum tipis. Dia baru mengalihkan pandangan saat merasa kakinya ditempeli sesuatu. Di lihatnya di kakinya yang lebam, terpasang sebuah plester luka berwarna merah jambu dan bermotif polkadot berbentuk love.
KAMU SEDANG MEMBACA
Famous Untouched
Teen FictionDingin ketemu dingin? Apa jadinya? Nicholas Amadio Ganendra, cowok heartbreaker dengan incaran para gadis standar yang nggak famous sama sekali, padahal Nico termasuk cowok terpopuler disekolahnya. Dengan semua kelebihannya itulah banyak kaum hawa y...
