Sheen sedang asik membaca salah satu koleksi novel importnya saat seseorang duduk di sampingnya.
Sheen menoleh dan melihat sosok laki-laki yang diketahuinya adalah Nico sedang menelungkupkan kepalanya. Tak urung kehadiran Nico membuat sisa-sisa makhluk yang ada di kelas itu pada jam istira-hat menfokuskan telinga untuk berusaha menguping percakapan Sheen dan sesekali mencuri pandang pada pasangan itu. Namun baik Sheen maupun Nico tak menghiraukan hal yang sudah lazim tersebut. Sheen mengangkat satu alisnya lalu menopang kepalanya dengan sebelah tangan. Tanpa menginterupsi maupun tanpa kata Sheen melihat Nico intens. Setelah beberapa lama, Nico menoleh ke samping. Kepalanya masih bertumpu pada kedua tangannya yang terlipat, namun tata-pannya bertemu dengan Sheen.
"Kenapa?" Tanya Sheen.
"Bete."
"Alasannya?"
"Gapapa."
Sheen mengernyitkan dahinya heran, tapi gadis itu tak ingin memaksa Nico untuk bercerita kalau dia tak mau. Sheen pun melanjutkan bacaannya dengan maksud memberi waktu Nico memperbaiki mood-nya.
"Kok gue dikacangin sih?" Gerutu Nico mengangkat kepalanya dan menatap Sheen sebal.
Sheen menghela napas panjang lalu menoleh ke arah Nico. "Terus gue harus apa?"
"Ajakin ngobrol kek."
"Lo kan lagi bete. Orang dengan kondisi mood kek lo pasti nyebelin kalau diajak ngobrol." Kata Sheen santai.
"Ck, nggak semuanya kali. Dasar sok tau." Kata Nico sambil berdecak.
"Tuh kan nyebelin."
"Emang iya?"
"Tau. Pikir aja sendiri."
"Maaf kalau kek gitu."
"Iya." Kata Sheen yang kemudian kembali fokus pada bacaannya.
"Lo kagak laper?"
"Enggak."
"Gue laper."
"Terus?"
'Dasar gapeka.' Batin Nico sebal.
"Temenin ngantin." Kata Nico.
"Mager ah." Jawab Sheen acuh tak acuh.
Nico mengerucutkan bibirnya sebal, mood-nya terasa makin anjlok karena Sheen.
"Yaudah." Kata Nico ketus lalu berdiri dan berlalu keluar dari kelas Sheen.
Sheen tersenyum tipis lalu berdiri dan menyusul Nico. Saat sudah sampai di belakang Nico, Sheen memukul bahu cowok itu dengan novelnya yang tebal minta ampun dan membuatnya menoleh.
"Paan sih." Kata Nico sebal sambil meringis menahan sakit di bahunya.
"Nggak usah ngambekan."
"Abisnya lo kagak peka."
"Kayak elo nggak aja." Kata Sheen lalu berjalan meninggalkan Nico.
"Enggak apanya?" Sahut Nico menyusul Sheen.
"Nggak peka." Sahut Sheen cuek.
"Masa?"
Sheen memutar matanya sebal. "Buru elah kalau jalan, kek keong banget." Gerutu Sheen pada Nico.
"Kok lo yang ngebet ke kantin sih. Kan gue yang laper." Gerutu Nico balik.
Sheen berhenti melangkah secara mendadak yang membuat Nico juga berhenti melangkah. Sheen menghadap Nico dan tersenyum lebar.
"Nanti kalau perut lo yang datar ini sakit-" Kata Sheen menunjuk perut Nico dengan telunjuknya, "-gue dikira kagak perhatian sama pacar." Lanjut gadis itu namun senyumnya menghilang digantikan dengan muka datarnya. Sheen kembali melangkah cepat dengan muka datar khas dirinya menuju kantin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Famous Untouched
Teen FictionDingin ketemu dingin? Apa jadinya? Nicholas Amadio Ganendra, cowok heartbreaker dengan incaran para gadis standar yang nggak famous sama sekali, padahal Nico termasuk cowok terpopuler disekolahnya. Dengan semua kelebihannya itulah banyak kaum hawa y...
