Kesembilan belas

814 89 36
                                        

Minggu ini adalah minggu terakhir sebelum K-SAT,  ujian masuk universitas bagi seluruh anak Sma yang telah bersiap untuk melanjutkan pendidikan mereka ketingkat yang lebih tinggi.

Dan hari ini tepatnya hari terakhir,  Mingyu sudah mengatakan pada Jiyeon kalau ia pasti lulus dan tak perlu mencemaskannya.

Tapi wanita itu tetap keras kepala dan mengatakan kalau ia ingin menunggui Mingyu belajar sambil membuka novelnya.

"Sudahlah Jiyeon tidur saja,  kasihan anak kita." ucap Mingyu untuk yang kesekian kalinya,

"Aku tidak mau,  kenapa memaksa? Kau mau cemilan? Aku kupaskan buah buahan ya?"

"Terserahlah." Mingyu memperbaiki letak kacamatanya dan kembali fokus pada buku pelajarannya, Kesal karena tak didengarkan.

Jiyeon mengangkat bahunya tak peduli dan segera menuju dapur,

Wanita itu membuka kulkas dibagian sayur dan buah,  mengambil beberapa butir buah buahan, mengupaskan dan menatanya dipiring ditambah kopi untuk Mingyu, dirinya sudah lama berhenti minum kopi selain karena tak baik bagi janin juga Mingyu yang selalu rewel dengan kesehatan calon buah hati mereka.

"Kau belum tidur?" tanya Joonmyun yang baru pulang melewati pintu garasi yang langsung bersatu dengan dapur bersih.

"Belum,  Mingyu masih mempersiapkan ujiannya dan baby tidak mau tidur tanpa ayahnya." Jiyeon mengusap  perutnya yang kini berusia 5 bulan dengan lembut sambil menatap Joonmyun jenaka.

Pria dihadapannya tersenyum tipis, "Kakak ipar baru pulang?"

"Ya, seorang teman mengajakku minum dibar baru miliknya." jawab Joonmyun sambil merapikan jas yang dipegangnya.

"Oh, kakak ipar... Calon bayiku bilang kurangi minuman beralkohol, tak baik untuk kesehatanmu." ujar Jiyeon membawa nampan berisi cemilan dan kopi Mingyu keruang belajar rumah itu.

Joonmyun menatap punggung Jiyeon yang perlahan menjauh dan menghilang dari pandangan, tersenyum simpul atas perhatian kecil yang diberikan wanita itu, meskipun mengatasnamakan janinnya, tapi Joonmyun cukup senang dengan perhatian itu.

"ini, makanlah." Jiyeon mengambil potongan apel.

"Tadi mengobrol dengan siapa? Aku mendengar kau bicara dengan seseorang."

"Oh,  kakak ipar... Dia baru pulang dari pembukaan bar temannya. Kenapa? kau rindu ke bar?"

"Ya  dan mengingat bagaimana kita pertama kali bertemu?" Mingyu mengecup hidung Jiyeon ringan.

"Kau ini..." Jiyeon mundur meninggalkan meja Mingyu dan kembali membaca novelnya,  tak terlalu seru karena menurutnya menatap suaminya lebih menyenangkan kini perlahan tapi pasti matanya berat dan menuntunnya kedalam alam mimpi.

"Selesai, ayo tidur." ucap Mingyu menaruh kacamatanya perlahan ditempatnya dan mengedarkan pandangannya pada sang istri yang sudah terlelap dikursi baca.

Mingyu tersenyum tipis, menggendong istrinya menuju kamar mereka.

"Selamat tidur bunda dan anakku." Mingyu mengecup bibir Jiyeon singkat juga perut Jiyeon lembut.

.

"Aku pergi sekarang ya?" pamit Mingyu, baru sepuluh langkah pria itu meninggalkan meja makan Jiyeon berlari kearah suaminya.

Jiyeon berlarian bak anak kecil berumur 3 tahun yang begitu dijaga ketat, sampai semua anggota keluarga yang duduk mengitari meja makan berdiri karena takut Jiyeon terjatuh.

"Jangan berlarian bunda,  ada apa?" Tanya Mingyu mengejar langkah sang istri yang hendak menyusul langkahnya.

"Hati hati,  jangan lupa berdoa... Kau masih mengingat semua pelajarannya kan?" pertanyaan bodoh,  tentu saja masih ada dikepalanya.

Give LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang