Zea POV
Mobil melaju lebih cepat ketika aku menyaksikan sendiri kemesraan mereka berdua yang terang terangan dibelakangku. Apa sih maksudnya bermesra mesraan gitu? Ga malu apa? Ditaruh dimana tuh muka? Sial.. Kenapa juga aku mikirin mereka? Ga penting.
Selama perjalanan aku mencoba menganggap mereka ga ada, tapi ya jelas ga mungkin lah, jelas jelas mereka nyolok gitu. Mana dengerin Hera nenek lampir mendesah lagi. Suaranya juga dibuat buat bikin emosi.
Aku mempercepat laju mobil dan mengerem mendadak saat sampai didepan rumah Hera. Tubuh mereka terhempas kedepan membuat nenek lampir menjadi super cerewet.
"Eh supir? Lo mau bikin kita mati?"
".."
"Dasar supir sialan, untung kepala gue ga kenapa kenapa, kalo gue cedera dikit aja udah gue tuntut lo"
Emang gue peduli gitu? Batinku. Kallau ngomong langsung bisa bisa digantung Zakkka nanti.
"Udahlah Ra, udah nyampe juga, turun gih"
"Iyaa"
Aku bisa melihat Hera mencium Zakka tepat dibibir lalu turun dari mobil. Tanpa basa basi aku langsung menjalankan mobil tanpa menunggu mereka say good bye. Udah enek sendiri aku denger mereka dari tadi.
Aduuuhh.. Aku ini kenapa sih? Aaargghh....
"Lo kenapa sih Zee? Aneh banget"
"Gapapa" jawabku singkat padat dan jelas.
***
Langit cerah berubah menjadi petang. Aku baru aja sampai rumah. Dea sedang tiduran dikamar. Tumben dia ga pergi sama Zakky.
Bete deh aku dirumah ga ada kerjaan. Aku duduk dilantai ruang tamu menghadap ke meja, mengambil laptop di ransel, meletakkannya ke meja depanku. Lebih baik aku mengerjakan tugas lah, dari pada bengong ga ada kerjaan. Lagian tugasku lagi numpuk gini, kalau ditunda tunda bisa tambah tumpuk ntar.
***
Evan POV
Apa yang kalian lakukan jika malam minggu tiba? Seneng deh yang punya pacar bisa kencan, nasib aku yang jomblo ya gini deh, duduk sendirian dikamar melihat dinding kamar yang berwarna abu abu. Lah mau ngapain lagi coba?
Kencan? Pacar ga punya.
Main? Temen temen pada kencan semua sama gebetan masing masing. Bahkan nyokap aku juga kencan sama sama bokap. Kasian banget aku disini ga punya kerjaan.
Aha. Main kerumah Zea aja deh, calon istri aku itu pasti ga ada kerjaan juga seperti aku. Ide brillian.
Oh iya, kenalin dulu aku Evan Anggara. Aku baru beberapa bulan ini pulang ke Jakarta setelah beberapa tahun menetap di Amerika. Wah. Aku keren kan kuliah di Amerika? Haha *plak. Jangan bilang aku narsis. Itu emang kenyataannya.
Ok kembali ke topik.
Aku mengambil kunci mobil dan melenggang ke mobil sport yang sudah terparkir cantik di depan bagasi.
Diperjalanan aku mengingat ingat gimana kita dulu saat di SMA. Dia masih kelas satu dan aku kelas 3. Saat itulah kami pertama bertemu. Dia adalah adik kelasku di SMA.
Kami bertemu saat acara Festival musik di Sekolah dimana dia menonton Festival dengan wajah ceria. Aku suka ekspresi wajahnya. Sangat natural. Rambut coklat yang berbeda dengan yang lainnya membuatku lebih mudah mencarinya jika dia ada didalam kerumunan.
Dia memakai seragam SMA dan dia terlihat sangat cute. Saat melihat Band yang sedang manggung dia terdorong oleh kerumunan siswa sehingga dia hampir terjatuh. Untung ada aku dibelakangnya yang siap menopang tubuhnya. Sejak saat itu aku berkenalan dengannya dan memulai hari hariku bersamanya. Membuatnya tertawa adalah hal yang paling aku suka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Women Drivers
RomantizmBekerja menjadi supir itu rasanyaaa 'GAK ENAK' apalagi menjadi supir orang songong seperti ZAKKA . Masa sih aku harus jadi supir? Mau gimana lagi? Tak ada pilihan lain. Semangat!!!!!doain aku bisa melewati ini kawaan
