Part 19

7.8K 365 13
                                        


.

"Lo tanya apa salah lo? Lo nyadar ga sih udah bikin gue... Aaarrgghh... Udahlah Zee. Gue ga mau ketemu lo lagi. Lo jangan muncul didepan gue lagi. Gue muak sama lo. Sifat lo selama ini palsu tau ga? Pergi sekarang dari rumah gue. Lo ga dibutuhin lagi disini"

Zakka.. Zakka.. Zakka.. Ucapan kamu selalu terngiang ngiang di kepalaku sejak tadi. Aku ga nyangka orang yang selama ini mengisi hati aku bisa ngomong sekasar itu. Aku sudah biasa dengerin dia marah marah sejak pertama kali bertemu. Tapi aku rasa ini keterlaluan. Ya memang bentakannya itu ga seberapa. Tapi aku ngerasain itu nusuk banget ke hati. Aku ga tau salah apa dan dia main marah ga jelas. Ucapannya kasar dan nyesek. Sikap aku palsu? Aku ga pernah bikin skenario buat sifat aku sendiri. Ini semua murni dari diri aku sendiri. Entahlah. Aku ga ngerti.

Selama perjalanan aku hanya memikirkan sifat Zakka akhir akhir ini yang aneh. Sepertinya dia hanya menganggapku sebagai supir yang sudah tidak dibutuhkan. Harusnya aku tidak memendam perasaan kaya gini kan? Toh ga guna juga. Ga akan kebales sama Zakka. Semua percuma.

Aku hanya bisa melangkahkan kakiku entah kemana. Aku berjalan sejak tadi tanpa tujuan. Hingga akhirnya aku merasa letih. Aku terduduk disini. Ditrotoar. Banyak mobil motor lalu lalang. Banyak orang orang berjalan disekitarku. Aku ga peduli menjadi tontonan banyak orang. Aku hanya ingin seperti ini hingga merasa nyaman.

Entah siapa yang berdiri didepanku kini. Aku harap bukan orang jahat. Dia mengulurkan tangannya padaku. Aku memang membutuhkan teman sekarang. Kesendirian membuatku makin sakit. Jika ada teman mungkin aku bisa melupakan sejenak nama Zakka yang sudah terukir indah di hati aku.

Mencoba mendongak menemukan teman yang selama ini selalu hadir dihidupku. Aku menyambut uluran tangannya. Ketika aku sudah berdiri tegak aku langsung menyerbunya dengan sebuah pelukan. Hangat. Nyaman.

Kenapa selama ini aku hanya memikirkan Zakka? Kenapa aku tidak melihat Evan yang selalu ada untukku, yang selalu membantuku, yang selalu hadir disaat aku bersendih dan butuh teman?

Mungkin mulai saat ini aku akan melihat Evan dan melupakan Zakka. Zakka terlalu jauh untuk aku gapai. Sedangkan Evan selalu ada didekatku dan selalu tersentuh.

"Kenapa nangis?

Dia selalu menanyakan keadaanku dimanapun kapanpun.

"Shhh... Udah jangan nangis lagi"

Dia selalu menenangkanku dengan belaian lembut di kepalaku bahkan sejak dulu. Sejak aku baru mengenalnya.

"Zakka Van"

Dia diam sebentar lalu kembali mengelus kepalaku.

"Ada apa dengan anak itu?"

"Dia.. Dia marah marah ke aku dan ngindarin aku"

Beberapa kali aku sesenggukan didadanya. Aku yakin kemeja yang dia kenakan sudah basah karena air mataku.

"Marah marahnya memang tidak seberapa Van. Tapi.. Tapi efeknya langsung nusuk ke hati aku... Aku..."

"Sshhhh... Udah udah..." Pelukannya semakin erat membuatku terdiam merasakan belaian lembut tangannya.

Ya keputusanku udah bulat. Aku akan mencoba melihatmu Van..

***

Sudah lebih dari dua minggu sejak Zakka tak ingin melihatku lagi. Dia serius dengan janjinya yang tak mau bertemu denganku lagi. Aku juga ga nyoba minta penjelasan kedia. Karena itu percuma. Pikirannya lagi kacau. Kalau aku mendekat aku yakin dia tak segan segan marah sama aku.

Lagian dua minggu ini Evan selalu ada buat aku. Dia selalu menemani aku jalan jalan atau makan. Dia memang baik. Bodohnya aku tak pernah melihat dia sejak dulu.

Women DriversTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang