Part 20

7.4K 343 14
                                        

Evan POV

Wiidiiihhh aku ga percaya sama penglihatanku sendiri. Sore ini aku datang ke pemakaman. Hari ini tepat tanggal adikku ulang tahun. Karena dia sudah meninggal jadi aku datang kemakamnya untuk berdoa. Tapi kok aku malah liat Zea? Seneeng deeh ketemu Zea disini. Eh tapi kok sama Lukas sih?

Apa sih hubungan mereka? Sepertinya deket banget.

Aku baru aja mau deketin Zea waktu itu tapi malah Lukas meluk Zea, dan Zea hanya diem aja. Apa mereka pacaran? Jantung aku seolah berhenti berdetak. Pokoknya Zea itu milikku bukan milik Lukas. Apapun yang terjadi aku akan merebut Zea dari siapapun. Aku ga perduli lagi. Sudah cukup aku diam aja. Sekarang aku ga mau tinggal diam.

Saat itupun aku melihat Zakka disana. Dia terlihat marah. Dia udah sembuh ternyata? Berarti saingan aku dateng lagi? Yeah aku tau sejak sebelum insiden Zakka diculik dia udah suka sama Zea. Tapi Zea ga pantas buat Zakka. Karena dia lebih pantas bersamaku.

Selama seminggu ini aku selalu datang kerumah Zea sekedar berkunjung dan pdkt pastinya. Sehari setelah kejadian di TPU aku langsung bertanya tentang hubungannya dengan Lukas. Ternyata mereka itu saudara sepupu. Oh lega!! Jadi aku masih ada kesempatan.

Sialnya Zea selalu bercerita tentang Zakka padaku. Tentang Zakka yang ngindarin dia. Wah sepertinya aku harus tambah bumbu bumbu kebencian ke Zakka. Sepertinya menarik. Dan Zakka akan menjauhi Zea. Terakhir kali Zea ngomongin Zakka ya sore itu. Aku menemukan Zea terduduk dipinggir jalan. Saat itu dia memelukku dan menangis menceritakan kelakuan Zakka yang membuatnya sedih. Dalam hati aku tersenyum puas walaupun raut wajahku terlihat ikut sedih karena tangisan Zea dipelukanku.

'Ga usah cerita juga gue udah tau'

Tak jauh dariku dan Zea aku melihat Zakka murka disana melihat kami pelukan. Apalagi disini Zea yang meluk aku duluan. Sepertinya dia melihat kami seperti waktu itu. Kejadian yang membuat Zakka tambah marah marah ga jelas sama Zea. Semua hanay skenario yang aku buat agar Zakka dan Zea berpisah selamanya.

Kau ingat Za, hanya aku yang bisa dapetin Zea. Ya walaupun dengan sedikit kecurangan tapi itu memuaskan. Sekarang lo gak pernah mendekati Zea lagi dan Zea kayaknya sekarang udah tumbuh benih cinta terhadapku. Menyenangkan sekali.

Zakka berbalik meninggalkan kami disini. Emang aku peduli?

Setelah itu Zea tak pernah membicarakan Zakka lagi. Bahkan dia selalu menerima ajakanku jalan dan yang lainnya. Oh senangnya. Cukup membuat bumbu kebencian pada Zakka dan Zea menjadi milikku.

Aku ingat dua hari sebelum aku menemukan Zea terduduk dipinggir jalan waktu itu. Aku merencanakan ini sejak sebulan lalu dengan partner yang teryata memiliki keinginan yang sama denganku. Yaitu memisahkan mereka, karena diantara kami sudah tau bahwa mereka jika dibiarkan akan semakin dekat dan semakin serius.

Dia datang disaat yang tepat. Menemukan ide yang biasa aja tapi mampu membuat hari mereka retak. Entah sekarang dia sudah bisa deketin tuh Zakka atau belum. Aku ga peduli. Yang aku peduli adalah kini Zea melihatku tak seperti dulu.

Jangan bilang aku licik. Aku ga licik. Aku cuma sedikit memberi sesuatu pada Zakka. Siapa sangka responnya sebegini besarnya?

Ddrrtttt... Ddrrrtt...

Siapa sih malem malem gini telfon?

Aku melihat layar ponsel.

Hera..

Ngapain dia telfon aku lagi? Bukannya masalah kita udah selesai?

"Apa?"

"GAWAT!!!, besok dateng ke Caffe biasanya. Ga pake telat"

Women DriversTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang