Part 16

7.9K 408 10
                                        

Author POV

Suasana sendu dihiasi cuaca yang mendung pagi ini. Setelah usai menyolati jenazah tadi pagi, mereka sekeluarga dan orang orang terdekat mendatangi pemakaman umum yang agak jauh dari rumah.

Orang orang berpakaian hitam mengelilingi makam, tak ada senyum disana. Meli duduk disamping makam memakai kacamata hitam untuk menutupi kesedihan yang sangat nampak di matanya. Zea tak bisa ikut karena masih dalam perawatan di rumah sakit. Ada Evan, Zakky yang merangkul Dea, Lukas bersama Intan dan Baron, dan juga ada kerabat yang lainnya. Mereka cukup mengenal jenazah.

Tak ada yang menyangka dia akan meninggal secepat ini, karena mereka tau dia adalah orang yang kuat.

Satu persatu pelayat meninggalkan makam, kini sisa Meli, Zakky, dan Dea.

"Ayo mom kita pulang, dia sudah tenang di alam sana"

Lama meli diam namun kemudian mengangguk. Mereka meninggalkan makam dengan Meli di apit oleh Zakky dan Dea dikedua lengannya.

Dirumah, Meli duduk merenungi semua kenangan masa lalu. Dimana mereka tertawa bersama dan berantem.

"Zak"

Zakky duduk disebelah Meli diikuti oleh Dea yang belum ingin pulang.

"Iya mom, Zakky tau mom sangat kehilangan, Zakky juga sangat kehilangan dia namun Zakky mencoba untuk ikhlas seperti kata Dea tadi pagi.segala sesuatunya itu milik Alloh dan akan kembali pada Alloh"

"Ya, Mom akan mencoba walaupun sulit"

***

"Udah enakan?"

"Udah Van"

"Gimana kaki kamu?"

"Udah sembuh total kak, aku udah bisa jalan lagi dan udah ga ada bekas luka di kaki"

Hampir tiga minggu Zea duduk dikursi roda karena kakinya terkena beton yang sangat besar, selama dua minggu rawat jalan setelah seminggu awal rawat inap. Kini sudah tak ada lagi rasa sakit yang dia rasakan, semua baik baik aja kecuali kematian sebulan yang lalu. Masih terekam jelas diingatan Zea.

Selama ini Evan selalu ada untuk Zea, menemaninya cek rutin kakinya atau hanya sekedar mengajak Zea jalan jalan.

Perhatian itu membuat Zea senang memiliki teman yang sangat baik padanya.

***

Lima bulan kemudian.

Bandara Soekarno-Hatta nampak padat pengunjung, disana sini ada orang yang berpelukan lepas rindu, ada yang kebingungan mencari entah siapa. Begitu pula dengan Zea, dia datang sejak setengah jam yang lalu dan belum ada tanda tanda orang yang dia tunggu datang. Selama lima bulan ini dia tetap bekerja di rumah bu Meli menjadi supir Tania putri bungsu mereka.

Sambil menunggu orang itu Zea duduk dibangku tunggu, berulang kali melihat jam dan berulang kali mendesah. Wajahnya terlihat bosan dia memang tidak suka menunggu terlalu lama. Hingga akhirnya seorang pria tampan memakai pakaian santai berjalan membawa satu koper ditangan kirinya, kaca mata hitam bertengger manis di atas hidungnya membuat aura misterius terpancar pada dirinya.

Semua pandangan beralih padanya, bahkan perempuan yang sedang bersama kekasihnya pun menengok takjub ke arahnya. Dia hanya bisa menyerigai mencari sosok yang menjemputnya sore ini.

Pandangannya menyapu ruang tunggu yang dijanjikan, berhenti tepat disebelah kanan agak jauh darinya, gadis berambut coklat memakai kaus dan celana jins.

"Tak berubah sama sekali" pikirnya.

Dia mendekat ke arah Zea yang kini sibuk dengan i phone di tangannya, dia mengambil i phone agar Zea tersadar akan dirinya yang sudah ada didepannya.

Women DriversTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang