Typo bertebaran. Happy reading.
***
Areta pulang dengan diantarkan Teressa. Areta sengaja memanggil Teressa karena ia tak tau harus meminta pada siapa lagi. Sedangkan Austrin sendiri langsung membawa Ella kerumah sakit tanpa memperdulikanya.
"Aku minta maaf karena sudah membentakmu tadi Teressa."
"Tak masalah, aku tau saat ini masalahmu dengan Austrin belum selesai jadi aku memakluminya. Maaf aku tak bisa lama-lama, aku harus pergi kau tak apa kutinggal sendirian?"
"Hei aku sudah dewasa oke?"
"Baiklah, sampai jumpa."
Selepas kepergian Teressa, Areta langsung diam. Suasana rumah yang begitu sepi membuatnya merasa begitu kesepian.
Ini salahku.
Ini salahku.
Ini salahku.
Itulah yang selalu Areta rapalkan didalam fikiranya. Ia merasa begitu seperti medusa yang mempunyai niat dengan begitu buruknya.
Areta berjalan kerarah halaman belakang rumahnya untuk sekedar menikmati bunga yang kemarin ia tanam kini sudah tumbuh dengan indahnya.
Areta membelai kelopak-kelopak bunga yang begitu indah bermekaran. Kau ini seperti Austrin saja. Ketika sedang bermekar indah kau akan sangat enak dilihat. Tetapi ketika berubah menjadi kering kau akan sangat menyeramkan sekaligus menyedihkan.
"Aku memang bodoh."
"AR-Fawn." Ucap suara dua orang bersamaan.
Areta mengusap air matanya yang jatuh tanpa ia duga. "Ya? Kemarilah."
Willa, dan Marissa remaja mendatanginya dengan kepala tertunduk.
"Aku tak pernah melihat kalian menunduk dan merasa bersalah seperti itu, sudahlah ini bukan seratus persen kesalahan kalian. Aku pun ikut andil disini."
Willa dan Marissa remaja mengangkat kepalanya. "Kau tidak marah AR-Fawn?"
Areta menggeleng karena bagaimana pun juga, rencana ini tidak akan terjadi jika ia tidak ikut andil. "Just call me Areta oke?"
Willa dan Marissa tersenyum lalu memeluk Areta. "kau memang baik Areta."
***
"Kau belum juga pulang?" tanya Ella pada Austrin yang sedang membaca buku bisnis dirumah Ella.
"Tidak, dan tidak mau."
"Hei! Kau tak bisa seperti itu oke? aku ini tetap seorang wanita Indonesia tulen, Aku masih menjung-jung tinggi adatku."
Austrin menutup bukunya ketika kata-kata Indonesia kembali terdengar di indera pendengaranya. Austrin langsung mengingat Areta yang mungkin saat ini sedang tidur.
Siapa lagi yang selalu menyebut kata Indonesia selain Areta di dunia ini? Bahkan Ella saja tidak terlalu menjung-jung tinggi negaranya. Beda sekali dengan Areta.
"Indonesia?"
"Hah?"
"Kau bilang Indonesia tadi?"
"Kau ini syarap ya?" Ella memegang dari Austrin. "Tidak panas."
Austrin langsung membereskan peralatanya lalu membawanya kedalam mobil untuk kembali pulang.
"Aku harus pulang, bye."
***
Jam sudah menunjukan pukul 10.30 saat Areta melirik kembali jam yang ada di nakasnya. Austrin belum juga pulang saat ini. dan itu membuat Areta dirundung cemas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret Couple [COMPLETED]
RomanceMenjadi sepasang suami istri tertutup mungkin nyaman untuk mereka jalani sekarang ini. Tapi memang dasarnya segala sesuatu yang disembunyikan akan menjadi buruk dihari-hari kemudian. Begitu pun mereka. terus menerus menyembunyikan diri, membuat mere...