Sudah setengah porsi steak daging yang Ben makan. Dan wanita itu terus menggali informasi darinya. Veronica mengajak Ben makan siang di salah satu restoran di sudut kota dengan latar belakang dinding berwarna hitam dan silver. Menggoreskan kesan mewah dengan lampu-lampu yang seperti permata. Pramusajinya pun berpakaian formal dengan dasi kupu-kupunya.
"Jadi kamu anak tunggal yaa?" Tanya Veronica sambil menenggakan alkohol berwarna merah.
"hmm hmm"
"aku tidak habis pikir loh ternyata kamu tertarik dengan kendo"
"Yaa aku suka menebaskan pedangku kepada siapapun yang ingin aku tebas"
Kata-kata Ben langsung mendiamkan Veronica yang sedang menikmati hidangan makan siangnya.
"Haha bercanda kok" Lajut Ben, mencairkan suasana.
Veronica tertawa terpaksa.
"aku cuma mengikuti apa yang di ajarkan paman" Ben melanjutkan ceritanya.
"Paman? Orangtuamu?"
"Entahlah yang aku tau, aku dari kecil sudah sama paman" Ben berbohong. Matanya melirik kepada Veronica yang sedang memotong steak. Terlihat tak acuh.
"dia tidak bereaksi seperti yang tadi"
Veronica mengakhiri makan siangnya lalu membersihkan mulutnya dengan lap. Benar-benar terlatih sebagai anak konglomerat dalam hal seperti itu. Lalu dia menatap Ben dengan dagu di topang dengan tangan kanan.
"Ja" Katanya mengagetkan Ben. Memasang wajah cantiknya. "Apa kamu sudah memiliki kekasih?"
"A..apa??"
Ben sedikit tersipu dan memerah. Tak bisa berkata apa-apa.
Veronica memiringkan kepalanya dan masih menatap Ben.
"Karna aku suka Ben ^^"
"Mustahil"
"Maaf Veronica, kita akhiri makan siang hari ini. Terima kasih" Kata Ben dengan perasaan yang ditahan. Wanita sialan itu sudah mengganggu pikiran Ben. Ben langsung pergi meninggalkan Veronica yang masih menatapnya dengan tatapan tajam.
"Tolong jemput saya. Cepat!!"
Ben menutup teleponnya. Sudah tidak tahan lagi dan bingung, apa yang ingin di rencanakan Veronica?
"Sial!"
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Dead
DiversosPembalasan tidak akan berarti jika aku mati dipembalasan lainnya.
