Hari telah berlalu. Sikap Ares mulai berubah, dia jarang bersama teman - temannya lagi. Lebih tepatnya dia jarang terlihat bersama Rania.
Lelaki itu kini telah memilih jalannya untuk meninggalkan wanita yang dicintainya.
Banyak orang yang bilang, puncak dari mencintai adalah merelakan. Itulah yang kini dilakukan Ares.
"Kamu kenapa sih, sekarang kayaknya menghindari si Rania" tanya Vivi saat mereka makan berdua di sebuah cafe.
Ares menghisap lalu menghembuskan rokoknya. "Bunga yang indah itu sudah menjadi milik orang lain." jawab Ares singkat.
"Maksut kamu? Si Rania udah punya cowok lain??" Vivi menaikkan volume suaranya.
"Sepertinya."
"Tapi dia nggak bilang apa apa sama aku. Atau jangan jangan, dia pacaran sama Leo?" Vivi membelakak kan matanya.
Ares tak menjawab, ia hanya asik bermain dengan rokoknya.
"Tapi, kemarin, kata Luna, Luna mau balikan sama Leo." Lanjut Vivi bingung. "Dia juga sering ketemuan sama si Luna"
"Oh ya?" Ares memajukan kepalanya mendekati Vivi.
"Kemarin dia di karaokean bareng sama si Luna" Vivi coba mengingat ingat
"Kurang ajar tuh bocah. Gue nggak trima kalo Rania diperlakuin kek gitu" Emosi Ares mulai keluar.
"Sabar, Res. Jangan kaya anak kecil"
"Emang gue masih kecil. Ngga lihat apa masih imut gini" ucap ares sambil meletakkan dua telunjuknya di pipi kanan dan kiri sambil tersenyum.
Ares - ares. Kamu nggak ganteng. Tapi lucu. Gue suka.
"Apa kamu udah berhenti buat peduli lagi sama Rania?"
"Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia tetap menjadi pupuk kompos bagi pohonnya. Gue rela jadi pupuk kandang asalkan bisa melindungi Rania." Ares mengangkat kaki kanannya diatas kursi.
"Gue. Ares Lesmana. Sampai kapanpun akan melindungi Princess Rania!" Ucap ares dengan lantang. Semua mata tertuju pada Ares. "Kalian akan menjadi saksi dari perjanjianku ini!"
Semua pengunjung cafe bertepuk tangan. Vivi pun mempotret aksi gila dari Ares. Ares kembali duduk.
"Gila kamu, Res. Hahah" Vivi tertawa.
"Gue gila karena Princess Rania" ucap Ares
***
"Eh, Ran. Kamu ikut makrap--masa pengakrapan nggak?" tanya Leo.
"Ikut lah. Seru kalik camping - camping gitu. " Ucap Rania.
"Ntar tidur setenda sama aku, ya" ucap Leo sambil mengangkat alisnya.
"Idihh kaga mau."
"Yaudah yuk. Pulang. Nyiapin buat makrap dulu."
"Oke"
Di camp
Semua anak telah mempersiapkan tendanya masing - masing. Tenda cewek dan cowok dipisah. Makrap dilaksanakan di bumi perkemahan Tawangmangu. Tepatnya dilereng gunung lawu. 1 jam dari kota solo.
Dingin?
Sangat dingin. Sore ini suhu mencapai 17 derajad selsius.
"Kopi, Res?" Rania menawarkan kopi hangat kepada Ares. Ares yang tengah duduk mengangkat kepalanya melihat Rania.
"Makasih." Jawab Ares singkat
Rania mengambil posisi duduk di samping Ares.
"Dingin, ya Res" ucap Rania memecah keheningan.
"Dingin hati lo" ucap Ares tanpa melihat Rania
"Hiss. Apaan sih."
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu." ucap Ares.
Rania terdiam dan menatap Ares
"Pernah dengar puisi itu?" tanya Ares.
"Pernah. Pernah di musikalisasi juga sama temen SMA ku" ucap rania.
"Tahu makna nya?"
"Ya maksudnya si aku itu pengen mencintai orang lain dengan sederhana"
"Bukan, ran. Kamu salah. Artinya itu, si aku pengen mencintai orang dengan segala kekurangan yang ia miliki walaupun orangnya itu sudah menyakitinya." jelas Ares
Rania hanya terdiam. Dia tau bahwa Ares menyindirnya.
"Apa lo bahagia sama Leo?" tanya Ares
Rania berdiri. Dia tak suka dengan pertanyaan Rania.
"Apa gue kelihatan nggak happy? Apa gue kelehitan menyedihkan? Lo itu nyebelin banget ya Res!" Nada bicara Rania meningkat
Ares ikut berdiri. "Lo tenang dulu deh. Gue cuma tanya. Lu lagi PMS?" tanya Ares dengan nada bercanda.
"Gue!" bentak Rania. "Gue bahagia sama Leo!" ucapnya melanjutkan kata katanya. Kemudian pergi meninggalkan Ares.
Rania tak dapat menahan air matanya. Ia pun menangis menuju tenda. Ia juga mengabaikan Leo yang mencoba menghentikan langkahnya.
Gue lebih nyaman sama lo dari pada sama pasangan gue.
Di dalam tenda, Rania menangis.
***
"Guys! Api unggun dimulai jam 8. Tiap tiap dari kalian harus menampilkan sesuatu!" seru Agung Ketua Makrap.
Semua peserta bersorak ria.
"Vi! Gue kebelet pipis nih. Pipis dimana, nih?" tanya Rania
"Ah kamu nih. Di pos 2 ada kamar mandi. Aku tunggu disini, ya." jawab Vivi.
"Oh. Oke!"
Aduuh dimana nih kamar mandinya. Nah itu dia.
"Aah. Lega juga. Btw, ke kanan atau ke kiri ya jalannya?" Tanya Rania kepada dirinya sendiri saat menemui persimpangan.
"Kanan aja deh." Ucapnya. Dia pun memilih jalan yang salah.
"Kok gelap banget ya, dingin. Mana bateray hp gue mau abis. Gaada senter lagi. Ah sial." gerutu Rania.
"Kok kayaknya dari tadi gue nggak nyampai base camp ya? Jangan jangan gue nyasar! Oh my god!" seketika Rania menyadari bahwa ia telah salah memilih jalan.
Flash dari hp Rania pun mati. Gelap. Dingin. Suara - suara aneh mulai menakuti Rania.
Ares! Itulah yang selalu Rania pikirkan. Bukan kekasihnya, Leo. Kemudian Rania kembali berjalan.
Eh siapa itu?
"Leo?" Ucap Rania pelan setelah melihat lelaki yang dikatakan kekasihnya utu menghisap rokok di bawah pohon yang jaraknya 10 meter dari Rania.
"Ngapain sih, pacar gue disitu? Ngrokok lagi. Samperin ah." Baru selangkah Rania akan menghampiri Leo, ia kembali bersembunyi dibalik pohon.
Ia melihat Luna menghampiri Leo. Dalam hati Rania penuh tanda tanya.
Luna duduk disebelah Leo, Luna mengambil sebatang rokok Leo dan menyalakannya kemudian menghisapnya.
Luna kedinginan. Kemudian leo memakaikan jaketnya kepada Luna. Luna pun terkejut. Dan hal yang tak diinginkan Rania pun terjadi. Luna dan Leo berciuman.
Rania beku. Dinginnya malam ini semakin menusuk tubuhnya. Air matanya pun kembali menetes. Ia berbalik dan menjauhi Luna dan Leo. Ares! dia hanya butuh Ares!
Res,
Gue takut. Gue butuh lo.
Rania memutuskan untuk berhenti di bawah pohon dan duduk di tepi jurang. Mengeluarkan air mata yang sedari tadi menunggu untuk dikeluarkan akhirnya berhasil keluar juga.
Rania tak lagi memperhatikan suara suara aneh yang menakutinya. Sakit hati yang ia alami saat ini telah menyelimuti tubuhnya dalam dingin malam itu.
Ares, cepatlah datang. Aku menunggumu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Once Again (COMPLETED)
Romance"Gue cinta sama lo" - Ares 2010 "Gue enggak. Lo nakal" - Rania 2010 "Gue cinta sama lo" - Ares 2011 "Lo udah matahin hati gue" -Rania 2011 "Gue masih cinta sama lo" - Ares 2012 "Gue juga" - Rania 2012 *** Halo kakak kakak! Selamat datang di ceritaku...
