Mataku sayu, mataku terasa berat untuk membuka. Hanya terlihat cahaya mentari dari jendela yang melambai-lambai menerpa tubuhku yang lemas.
Aku melihat ke sekelilingku. Terasa asing bagiku. Ruangan ini begitu asing. Sebuah meja kecil berada di samping tempat tidurku dengan tirai-tirai putih yang menjadi penghalang dengan ruangan yang lain.
Duduk dengan tertidur, ko Roy berada di sudut jauh ruangan. Badanku masih lemah. "Huk huk huk" batukku tiba-tiba memecah keheningan.
Terlihat ko Roy mulai membuka matanya dan melihat ke arahku. "Kamu sudah sadar" senyum ko Roy lega.
"Yang lain kemana ko? Aku dimana?" Aku mulai sadar tentang apa yang terjadi tadi malam.
Terakhir kali yang ku ingat, aku terkulai di lantai 2 wrd setelah menghantam kaca dengan keras.
"Teman-temanmu sedang sekolah" jawab ko Roy. "Ko aku harus ke sekolah, hari ini aku ada ulangan" jawabku dengan kuatir. "Ulanganmu sudah selesai 3 hari lalu Na" ko Roy menjawab.
"Hah" aku mengkerutkan dahi.
"Kamu gak sadarkan diri 3 hari Na" ko Roy kembali menambahkan.
Selama itu? Fikirku. "Terus, Apa yang terjadi saat itu ko, bukanya aku sudah . . . ."
"Stop, jangan tanya lagi ya, kamu istirahat, atau mau terus disini?" jawab ko Roy.
Aku hanya menggelengkan kepala. Masih banyak pertanyaan yang mengelilingi kepalaku.
"Mama mana ko?" Jawabku dengan mulai duduk di ranjang itu.
"Aku bergantian menjagamu dengan mamamu. Aku merasa ini semua salahku Na, seharusnya aku bilang ke ko William agar tak mengizinkan kalian" jawab ko Roy dengan memandang jauh ke arah jendela. Tampak ada sesuatu disana. Sesuatu yang tidak aku ketahui.
"Nampaknya kamu nanti bisa pulang na, istirahat aja ya" tambah ko Roy.
Aku hanya tersenyum dan kembali merebahkan tubuhku.
Beberapa hari setelah itu kehidupanku kembali normal kembali. Tidak ada sesuatu yang aneh seperti yang telah aku lalui.
Aku kembali ke sekolah dan les di WRD tanpa merasa ada sesuatu yang aneh.
Suatu siang aku ikut duduk bersama teman-temanku di kantin sekolah dimana kita sering berkumpul.
"Ana sudah sembuh" kata Rino. "Menegangkan pol kan Rin waktu itu, seru tapi" Doffi menambahi. "Seru apa? Ana sampek mau mati eh . . ." Kata Calvo sambil menghentikan sendirinya kata-katanya.
"Mati? Gak mungkin ya kan?" Rino kembali menjelaskan. "Lho waktu itu aja Ana sampek kayak gitu" bantah Calvo.
"Gak legend itu, masak mati di ganggu hantu, mati itu perang kek, atau menyelamatkan sesuatu kek" tambah Rino.
"Yang gak legend itu kamu, gemeteran terus hahaha" ledek Calvo.
"Enak aja, aku ngantuk aja" sahut Rino.
"Mana linda?" Kataku.
"Entahlah" kata Calvo.
"Dia masih ada kelas kah?" Tanyaku kembali. "Kayaknya sih gak masuk sekolah hari ini" tambah Doffi.
"Dof nanti berangkat bareng ya ke les" kata calvo. "Eh kalian berangkat bareng, ikuut" kataku memotong.
"Yaudah aku ikut juga" tambah Rino.
"Apa kamu? Gak usah gak usah ikut" jawab calvo dengan sedikit mendorong Rino.
"Aku tetep ikut, dof sebelum kamu dijemput calvo aku jemput kamu duluan" tambah Rino tidak mau kalah.
"Wes, aku aja yang jemput kalian, nanti baru jemput Ana" tambah Doffi.
Kamipun berangkat ke WRD bersama-sama hari itu.
Aku semakin yakin kalau apa yang kami lakukan pada malam itu tidak sia-sia.
Walaupun aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu.
Nampaknya aku harus melupakannya.
Beberapa kali mami mengingatkanku dan merasa kuatir. "Mi gak ada apa-apa, semuanya sudah beres" jawabku sambil menenangkan mami.
"Yaudah kalau gitu, awas lho ya" mami kembali berkata macam-macam.
"Mi aku berangkat dulu ya" kataku sambil berpamitan pada mami. "Udah datang kah teman-temanmu?" Tanya mami.
"Udah mi, udah dari tadi malah, mami ini ngomong terus" jawabku. "Sana-sana" jawab mami diiringi langkahku menuju luar rumah.
Di mobil Doffi, suasana masih ramai dengan canda Calvo dan Rino.
Hingga kami sampai di WRD
Sesuatu yang tidak pernah aku fikirkan akan terjadi.
Sebuah kerumunan orang tepat di depan WRD mengalihkan perhatian kami.
"Ada apa itu?" Kata Calvo. "Yuk lihat" jawab rino sambil membuka pintu mobil diikuti aku dan Doffi yang turun dan menuju ke kerumunan itu.
"Aarrrrggggghhhhhhhh" teriakan Calvo terdengar keras tatkala melihat ke dalam kerumunan itu. Calvo terlihat histeris.
Aku semakin penasaran tentang hal itu hingga aku mencoba menerobos ke kerumunan itu.
Aku tau alasan calvo histeris, aku terkejut bukan kepalang.
Teriakku tak kalah dengan Calvo. Di ikuti air mataku yang tak sanggup ku bendung lagi.
Aku tak bisa berkata-kata. Aku tak bisa membendungnya. Kenapa hal ini harus terjadi.
Linda
Dengan badan tertelungkup di tanah.
Darah mengalir kelantai meluber kemana-mana.
Diam tak bergerak.
Mati.
Kenapa?
Kenapa harus linda?
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last Student (murid terakhir)
TerrorTempat itu selalu ramai dengan suara canda murid, namun ketika kelas telah usai dan pintu utama di tutup, tidak ada yang mengira apa yang tengah terjadi disana.
