"Mbak, nanti malem ikut main lagi kayak kemaren itu, ya?"
Aku sedikit tersentak karena tiba-tiba David, temannya Andro juga, muncul di sebelahku ketika aku sedang fokus menerima pesananku. Untung saja mie ayam bakso dan jus alpukat kesayanganku tidak tumpah.
"Emang nanti mau main lagi?" tanyaku heran karena belum mendengar kabarnya.
Ngomong-ngomong main, Icha dan Farel sudah resmi menjadi sepasang kekasih sejak acara main pertama kami dengan Farel dan kawanannya hari Selasa kemarin. Terhitung sudah empat hari berlalu.
"Iya, dong. Kan malam minggu. Besok Selasa juga udah libur semester. Kita udah bilang ke Queens, kok, mereka duduk deket kita soalnya. Mungkin Mbak belum dikasih tau."
"Oh ... iya, aku bareng anak kelas soalnya," jawabku mengerti.
Benar. Minggu depan sudah mulai libur semester. Hari ini pun kami masuk karena harus mengembalikan buku-buku perpustakaan yang kami pinjam selama semester satu ini agar kami dapat mengambil hasil laporan nilai kami pada hari Senin besok.
"Ikut, ya, Mbak?" tanya David sekali lagi.
"Eh, iya. Nanti kabar-kabar lagi aja, ya!" balasku, lalu tersenyum.
"Oke, Mbak." Setelah David berlalu, aku segera menuju ke teman-temanku.
Kalau istirahat begini, aku dan Amel lebih sering menghabiskan waktu bersama Dito, Dipta, dan Angga.
"Dip, terus gimana sama hatimu sekarang?"
Saat aku tiba, aku mendengar Angga menanyakan hal yang belum pernah kami singgung sejak di kedai ice cream sekitar satu bulan yang lalu.
"Udah nggak apa-apa, kok. Kan, ada Shella," jawabnya diakhiri dengan cengiran lebar khas Dipta.
Oh iya, omong-omong tentang Shella, apa yang kukatakan benar terjadi. Saat melihat Farel nembak Icha, dia langsung kabur dan besoknya galau seharian sampai tidak mau bertemu Icha. Icha, sih, tidak ambil pusing. Dia sedang dimabuk cinta, ini. Ngapain juga ngurusin Shella? Karena benar juga kataku, besoknya lagi dia memberi kabar bahwa dia dekat dengan Dipta. Lagian, Dipta ini kenapa mau aja, sih, sama anak-anak Queens? Nggak kapok apa, ya?
"Dih! Kamu ini gimana, sih? Murahan kamu, Mas!"
Mau tidak mau kami tergelak karena lontaran Angga barusan. Bukan tanpa alasan, Angga mengatakannya dengan nada suara seorang ladyboy. Itu sangat lucu.
"Nih, lihat Angga, nih! Setia sama Devi seorang. Mana udah hampir setahun lagi," puji Dito sambil menepuk-nepuk pundak Angga. Angga meresponnya dengan ekspresi bangga sambil menepuk dadanya sendiri.
"Hei, aku ini sedang dalam proses pencarian. Beda dengan Angga yang sudah menemukan. Aku kalo udah nemu juga bakal setia, kok," jelasnya.
Tak hanya aku, decihan pun muncul dari Dito dan Angga.
"Oh iya, aku mau nembak Shella secepatnya. Nggak mau keduluan lagi aku," tambah Dipta dan membuat kami jadi tersedak.
"Gila! Cepet banget, cuy!" sahutku heboh.
"Yakin kamu?" Amel bertanya.
"Yakinlah," balasnya dengan mulut penuh siomay Mak Icik.
"Kalau ditolak?"
Terlihat Dipta bersusah payah menelan siomay-nya sebelum berkata, "Ya jangan do'ain, dong, Dit! Gimana, sih? Lagian aku yakin nggak bakal ditolak. Dia udah bilang suka juga, kok."
KAMU SEDANG MEMBACA
ANDROMEDA
Genç KurguAku tau, sejak awal tak seharusnya aku begini. Mempertahankannya hanya akan membuatku sakit. Namun, aku terus saja berjuang. Tenggelam dalam kebodohan diriku sendiri. Semua orang sudah memberitahu bahwa dia tidak baik untuk hatiku. Namun, apalah art...
