"... Aku malah berterima kasih sama kamu karena udah bikin aku jadi semakin baik dan dewasa, Via."
Terlihat jelas kemarahan pada raut wajah Via saat ini. Napasnya terengah-engah. Aku yakin dia sedang mati-matian menahan emosi.
"Semakin baik? Semakin dewasa? Cih! Omong kosong!"
Omong kosong, dia bilang?
Astaga, bahkan sebelum ini aku menyangka bahwa aku ini seorang loser. But, hei?! Look at me! Ternyata sekarang aku bisa menghadapi dia dengan baik.
Bukankah aku benar? Bahwa apa yang dia lakukan sudah membuatku semakin baik dan dewasa?
Aku mendengkus sambil tertawa.
"Ngapain kamu ketawa? Apa yang lucu, hah?"
"Aku. Aku yang lucu. Kamu tau? Sebelum ini aku mikir kalau aku cuma bisa jadi seorang loser. Aku nggak merasa bisa ngelawan kamu karena kamu berhasil ngumpulin antek-antek kamu, tapi nyatanya? Barusan aku malah bisa bikin kamu marah cuma dengan kalimat-kalimat yang kamu anggap omong kosong.
Vi, kamu marah karena kamu nggak bisa nerima bahwa apa yang aku bilang itu bener, 'kan?" ucapku pelan dengan senyuman miring sebagai penutup.
Via maju selangkah.
Semakin jelas raut wajahnya yang penuh kebengisan.
Dia mendecih. "Apa yang bener? Apa yang nggak bisa aku terima? Bahkan aku nggak tau bagian mana yang harus kuterima. Kamu bukan apa-apa, kamu tau? Hanya karena kamu murid populer, bukan berarti semua orang suka sama kamu."
Dia dorong bahuku sekuat tenaga, aku jadi mundur beberapa langkah karenanya. Duh, kasar sekali. Kuusap-usap bekas dorongannya pada bahuku.
"Wow, wow, calm, girl. Ya itu pasti. Kamu kira aku bodoh? Aku ini ranking 3 satu sekolah, kamu ingat? Dan aku juga nggak sebodoh itu buat tau kalo kamu termasuk ke orang-orang yang nggak suka sama aku. Terus?" Seringaian muncul di wajahku.
"Kamu–"
"Kalian ngapain?" Icha menyela Via. Dan ternyata semua teman-teman kami juga sudah berada di dekat kami–entah sejak kapan dan entah dari bagian mana pula yang sudah mereka dengar.
"Kalian ngapain, gue tanya?!"
Tanpa kata, aku berbalik. Bermaksud untuk pergi dari sana.
"Stop pretending to be a loser, bitch!"
"Bitch??" ujarku dengan sedikit memekik. Icha memang kasar, tapi ini sudah melewati batas.
"Yes, bitch! You know, I hate you, huh? Why do you always say that you are a loser though you know that you are not? HAH? Sumpah! Sebel gue sama lo!" Icha menyentakku dengan suara keras. Akhirnya dia memuntahkan segala kekesalannya padaku.
"Denger? Icha sendiri juga bilang kalo kamu itu loser," ucap Via dengan penuh cibiran.
Tawa sarkas sontak tersembur dari mulutku.
"Vi? Kamu ngerti apa yang diomongin Icha nggak, sih? Bahkan sama sekali Icha nggak pernah nganggep aku loser. Butuh aku terjemahin? Aduh, kenapa ini lucu banget, sih? Mending kamu berhenti sekarang juga, Vi. Semua yang kamu lakuin nggak bakal mempan buat ak–"
"Yakin?" potongnya. "Kamu yakin, hah? Bahkan belum aku lakuin dan kamu udah segitu yakinnya kalo hal-hal itu nggak bakal mempengaruhi kamu?"
Tawaku berhenti. Hela napas hadir sebagai jeda antara pertikaian kami berdua. Tak lama, aku mengedikkan bahu dan menjawab, "Ya sebenarnya aku cuma lagi meyakinkan diriku sendiri aja, sih. Belum tau juga ke depannya. Anggap aja tadi aku cuma menggertak kamu. Selesai, 'kan? Ya udah, kalian lanjutin acara kalian tadi. Maaf udah bikin keributan. Oh iya, pertanyaanku tadi belum kamu jawab, loh. Perlu aku terjemahin nggak?"

KAMU SEDANG MEMBACA
ANDROMEDA
Teen FictionAku tau, sejak awal tak seharusnya aku begini. Mempertahankannya hanya akan membuatku sakit. Namun, aku terus saja berjuang. Tenggelam dalam kebodohan diriku sendiri. Semua orang sudah memberitahu bahwa dia tidak baik untuk hatiku. Namun, apalah art...