#19 Drama Masih Berlanjut

22 1 0
                                    

Deretan angka yang sedang ditulis dengan tegasnya oleh Pak Doni tak berhasil menarik perhatianku dari kegalauan yang sedang menerpa. Kegalauan akan pertengkaranku dengan Icha yang masih berlanjut sampai hari ini. Hanya tinggal satu hari lagi, maka salah satu dari kami harus mengajak bicara. Ah tidak, akulah yang seharusnya minta maaf. Atau, dosaku nanti malah semakin bertambah.

"Anak-anak, coba sebutkan hasil ini asalnya dari mana?"

Kelas menjadi sangat hening setelah Pak Doni melontarkan pertanyaan itu. Semua sibuk memperhatikan lamat-lamat deretan angka yang ada pada papan tulis. Aku pun. Hanya saja, fokusku tidak ke sana. Aku sekadar ikut-ikutan saja, agar tidak ditunjuk nantinya. Aku tidak memperhatikan pelajaran kali ini soalnya.

"Ayo, dari mana? Kenapa diam saja?"

Aku melihat ke sekeliling, kenapa tidak ada yang angkat tangan? Beberapa pandangan menuju ke arahku, atau Amel. Kulirik Amel yang sedang sibuk mengutak-atik angka-angka tersebut pada lembar kertas.

Aku kembali menghadap depan.

"Nggak ketemu, ya?" tanya guru Matematika itu sekali lagi.

Semua serempak menggeleng dan menjawab, "Nggak, Pak."

Pak Doni tersenyum. Lebih ke seringaian bagiku.

"Jadi, hasil ini asalnya dari ... spidol."

Gedubrak.

Astaga, Bapak.

Walaupun jayus, tetap saja usaha Pak Doni untuk membuat kami tertawa berhasil. Bukan karena leluconnya yang asli lucu, tetapi ya ... karena jayus itu tadi.

"Nah, gitu dong. Belajar itu jangan terlalu serius. Jangan mentang-mentang kalian anak kelas unggul terus nggak sah belajar diselingi guyonan. Ya sudah, karena sepertinya kepala kalian sudah meletup-letup, kita sudahi dulu saja pertemuan kali ini. Lagipula, 5 menit lagi juga sudah bel. Semangat anak-anak. Selamat siang."

"Siang, Pak."

Begitu Pak Doni keluar, masing-masing kelompok sudah membentuk formasinya. Termasuk aku, Amel, Dito, Dipta, dan Angga.

"Tadi aku udah keder, sumpah. Takut ditunjuk. Ya udah aku pura-pura nyari. Eh ternyata ...."

Curhatan Angga membuka percakapan di antara kami. Melepaskan gelak tawa yang masih tersisa.

"Iya, aku juga. Mana tadi aku lagi ngantuk banget, jadi nggak tau Pak Doni nerangin apa," tambah Dipta.

"Kalian tadi nyari, Dit, Mel, La?"

"Nyari, Ngga, tapi ya ... kayak aneh gitu emang angkanya. Dicari nggak ketemu-ketemu," jelas Amel.

"Nah, iya, aku juga."

"Kamu, La?"

Aku hanya geleng kepala saja untuk menjawab Angga.

"Kamu kenapa, La?"

"Emang aku kenapa?"

"Ditanya kok malah nanya balik? Kayak lesu gitu kamunya."

"Hehe ... nggak kenapa-kenapa kok, Ngga."

Dahi Angga mengernyit dan matanya menyipit.

"Bohong! Jahat banget nggak mau cerita!" Angga merajuk.

"Duh, iya, iya. Aku lagi kepikiran Icha aja. Kita lagi berantem."

"Kenapa?"

Sebelum aku menjawab, Dipta menyela, "Eh, bentar. Amel sama Dito diem aja, berarti kalian udah tau. Ya, 'kan? Berarti aku sama Angga aja yang nggak tau? Oh gitu? Oke, fine!"

ANDROMEDATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang