"Dari mana?"
Astaga!
Baiklah, aku lupa mengirim pesan pada orang rumah tadi.
Aku berbalik dengan hati-hati menghadap Abang, lalu menyengir.
"Malah nyengir!"
Ya mau bagaimana lagi? Menyengir adalah pilihan yang paling tepat saat ini.
"Dari ...."
"Mana?" tanya Abang semakin mendesakku.
"Jogja." Aku menjawab dengan suara yang mencicit, dan menunduk sedalam-dalamnya.
Aku sudah menyiapkan jiwa dan ragaku untuk mendengarkan omelan Abang, tetapi hal itu tak kunjung datang.
Kulirik Abang yang ternyata malah sedang menahan tawa.
Aku terpaku.
"Kok? Kok nggak marah?"
Tawa Abang lepas dan ia mengacak-acak rambutku.
"Ya bagus, dong!"
Aku mendecih.
"Kendra tadi udah izin Abang kok," kata Abang yang pastinya membuatku terkejut.
"Hah?"
"Ya udah, masuk, yuk? Kamu udah makan?" ajak Abang seraya menggerakkan tangannya untuk merangkul bahuku.
"Udah, Bang."
Abang membulatkan mulutnya sebagai respon.
"Ya udah, yuk!" Sekali lagi Abang mengajakku masuk ke rumah, lalu berjalan bersama dengan aku yang berada di rangkulannya.
***
"Duh, yang habis dari Jogja."
"Loohhhh? Kakak ke Borobudur?"
"Eh?"
Tak kupungkiri, aku kaget maksimal mendengar sambutan dari Bunda.
Dan juga Edo.
Apa hubungannya Jogja dengan Borobudur?
Borobudur, 'kan, di Magelang.
Dasar.
"Mana oleh-olehnya, Kak?"
"Kakak kok nggak ngajak aku?" sahut Ero dengan gaya merajuknya yang lucu, padahal umurnya sudah 13 tahun.
"Bunda kok tau?" tanyaku pada Bunda yang malah tersenyum misterius.
"Kakak!!!"
"Apa, sih? Kembar diem dulu!" titahku dengan gemas. Saat ini aku sangat membutuhkan jawaban dari Bunda.
"Ya taulah. Kakak ini, kok malah nggak izin, sih, sama Bunda?"
Kepalaku otomatis tertunduk karena rasa bersalah yang mulai menyerang.
"Maaf, Bun."
"Huuuu rasain dimarahin!"
"Rasain! Siapa suruh nggak ngajak Edo sama Ero!"
"Nggak beli oleh-oleh juga, lagi."
Aduuh, anak-anak ini.
Alih-alih membalas serangan si kembar, aku cuma bisa mendelik pada mereka.
Bunda menghampiri, lalu mengelus puncak kepalaku.
"Nggak apa-apa, Kendra yang izinin tadi."
Aku langsung mendongak.
"Jadi, Kendra izin ke Bunda juga?"
"Ke Ayah juga, kok. Mana oleh-olehnya, Kak?" sahut Ayah yang baru saja tiba di ruang keluarga.

KAMU SEDANG MEMBACA
ANDROMEDA
Teen FictionAku tau, sejak awal tak seharusnya aku begini. Mempertahankannya hanya akan membuatku sakit. Namun, aku terus saja berjuang. Tenggelam dalam kebodohan diriku sendiri. Semua orang sudah memberitahu bahwa dia tidak baik untuk hatiku. Namun, apalah art...