Kami sudah selesai dengan acara makan siang yang berhiaskan keheningan. Bukan karena aku yang masih kesal padanya, tapi karena mie ayam bakso itu memang sangat enak!
Aku jadi tidak bisa berkata-kata karena tenggelam dalam kenikmatannya. Hehe ...
"Gimana? Enak, 'kan?" tanya Kendra sesaat setelah kami keluar dari kedai tersebut.
Aku tersenyum lebar. Tanda sangat puas dengan rasanya.
Kendra menoyor dahiku.
"Udah dapet mie ayam bakso enak aja langsung jinak. Sampe ilang gitu matanya."
Aku tidak menjawab. Hanya terus tersenyum lebar.
Kami kembali mengitari jalanan ramai Malioboro.
Banyak souvenir antik yang menarik hatiku. Sayang, itu tidak bisa menarik isi dompetku.
"La, beli baju Jogja yang couple, yuk!"
Mataku berbinar saat mendengar usul Kendra. Entah kenapa usulnya itu sangat menarik perhatianku.
"Good idea! Yukkk!!"
Kami mampir ke salah satu kios penjual baju-baju khas Jogja. Mataku langsung menangkap baju couple yang terpajang paling depan.
Baju berwarna pink dengan gambar laki-laki sedang mengayuh becak dan seorang perempuan yang menjadi penumpangnya. Gambar itu terpisah menjadi dua. Si pengendara laki-laki berada di baju untuk cowok, dan si penumpang perempuan berada di baju untuk cewek.
Selain itu, terdapat love yang juga terpisah menjadi dua. Setengah bagian pada baju cowok, dan setengahnya lagi pada baju cewek.
"Ken, mau yang itu aja!" pintaku sembari menunjuk baju yang kumaksud.
"Yang pink itu?"
"Iya! Lucu banget tau, itu! Naik becak gitu. Tradisional banget, 'kan? Sekarang mana ada couple naik becak?"
Kendra mengacak-acak rambutku sebelum dapat kucegah.
"Ken!" hardikku.
"Bu, mau yang itu, ya!" katanya pada si penjual tanpa mengindahkan aku yang sebal padanya.
Penjual itu mengangguk dan tersenyum, lalu berdiri untuk mengambil baju yang kumau.
"Berapa, Bu?"
"45 aja, Mas."
"Sepasang?"
"Iya, Mas."
Aku menerima plastik berisi baju tersebut, sedangkan Kendra yang membayarnya.
"Makasih, Ibu!" seruku dengan bahagia karena sudah menerima baju lucu keinginanku.
"Seneng?"
"Banget! Thanks, Keken!"
"Apa-apaan Keken?!" protesnya dengan mata melotot.
"Lucu, kok."
"Lucu, lucu! Kayak bencong tau, nggak?"
"Dih, aku nggak pernah tau tuh, ada bencong namanya Keken."
"Ada, tau!"
Dahiku mengernyit.
"Tau dari mana? Pernah kenalan emang?"
"Pernah. Di Taman Unyil."
Keherananku semakin bertambah.
"Ngapain, woi, kenalan sama bencong?!"
Helaan napas panjangnya memenuhi indera pendengaranku.
"Kena dare."

KAMU SEDANG MEMBACA
ANDROMEDA
Teen FictionAku tau, sejak awal tak seharusnya aku begini. Mempertahankannya hanya akan membuatku sakit. Namun, aku terus saja berjuang. Tenggelam dalam kebodohan diriku sendiri. Semua orang sudah memberitahu bahwa dia tidak baik untuk hatiku. Namun, apalah art...