#4 Sebuah Pesan Masuk

55 3 9
                                    

"Anjir! Mbak Ella!"

"Ampun, Mbak, ampun!"

"Ngeri, ngeri!"

"Wihh!"

Apa, sih?!

Saat ini aku sedang mengikuti ekstrakurikuler bola voli yang diadakan setiap hari Selasa sore. Dan ini adalah latihan terakhir sebelum memasuki libur semester minggu depan. Kami baru saja selesai melewati ujian akhir semester I.

Dan orang-orang tidak jelas yang sedang meneriakiku adalah gerombolan Andro. Aku tidak tau harus menyebut mereka bagaimana. Gerombolan Andro? Gerombolan Farel? Gerombolan ...??? Ah, whatever.

Sekolahku memang tidak memiliki hari khusus untuk ekskul. Tiap-tiap ekskul diberi kebijakan untuk menentukan harinya sendiri. Oleh karena itu, sekolahku tidak pernah sepi walau sudah jam pulang sekolah.

Tak jarang, banyak juga anak-anak tak berkepentingantidak ada ekskul, jam tambahan, atau lainnyayang hanya duduk-duduk saja di sekitaran taman ataupun di kantin. Contohnya gerombolan Andro ini.

Sejak tadi mereka hanya duduk di kursi taman yang paling dekat dengan lapangan tempat kami ekskul, sambil meneriaki aku, tentunya. Awas aja mereka nanti!

Di saat hari sudah menunjukkan pukul lima sore, latihan pun disudahi. Aku langsung bergegas ke luar sekolah karena mulai jam segini angkot sudah mulai jarang lewat.

Saat aku sedang menunggu angkot, tiba-tiba Farel memanggilku dan menghampiriku bersama dengan gerombolannya.

"Mbak, mau minta tolong, dong," pintanya saat sudah sampai di depanku.

Dahiku mengerut. "Apa?"

"Singkat amat, neng," celetuk Kendra.

For your information, Kendra ini sahabatku juga, selain Amel dan Dito. Kami dekat sejak kelas 1 karena kami satu kelas dan duduk berdekatan. Beberapa kali aku atau Kendra pindah bangku agar bisa duduk bersama. Namun, sayangnya dia tinggal kelas. Bukan karena bodoh, tapi karena malas dan nakal. Dia suka sekali membuat para guru naik pitam karena celetukan asalnya. Dan nakalnya dia hanya sebatas itu saja, ditambah kadang suka bolos.

"Ya, terus aku harus jawab sepanjang apa, a'?" sahutku meladeni celetukan Kendra.

"Udah, ssstt ... diem dulu, Ken." Farel memotong adegan tidak jelas kami.

"Nanti malam aku mau nembak Icha," tukas Farel dengan mantaplangsung pada intinya.

Wah ... wah ... baru juga satu bulan pendekatan.

"Cepet banget?" kataku dengan gelagat yang kubuat-buat seolah aku tidak setuju.

Farel refleks menangkupkan kedua telapak tangannya dan memohon, "Mbak, boleh ya, Mbak? Cinta mati, nih, aku sama dia."

Aku hanya memutar kedua bola mataku.

Melihat itu, dia semakin gencar memohon padaku.

"Beneran suka? Sayang?" tanyaku dengan nada selidik dan mata memicing.

"Mbak, matanya nggak usah dihilang-hilangin juga udah hilang, kok."

Kurang ajar.

Tanpa kata, kubalas ledekan Hamid dengan tatapan sinis andalanku, yang malah disambut gelak tawa oleh para penggoda wanita ini.

ANDROMEDATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang