#15 Kendra

26 3 2
                                    

"Tumben pada diem."

Aku cuma tersenyum canggung saat mendengar lontaran pria paruh baya yang kusebut ayah di tengah-tengah sarapan yang sebelumnya tidak pernah setenang ini. Aku sangat paham bahwa yang dimaksud Ayah adalah aku dan Icha. Sebenarnya sejak tadi Abang sudah mencoba untuk mengajak kami bercanda. Namun, kami hanya menjawab sekenanya.

"Kakak-kakak, 'kan, udah pada besar, berantem boleh kok, asal jangan berlarut-larut aja."

"Lah, kirain Bunda mau ngomong kata-kata bijak," timpal Abang.

Bunda tersenyum. "Itu tadi, 'kan, kata-kata bijak, Bang."

Alih-alih menjawab, Abang tertawa saja menanggapi Bunda.

"Emang kakak-kakak berantem kenapa?"

"Nggak berantem, kok," kataku segera menjawab Edo.

"Masa'? Kak Icha diem aja." Gantian Ero yang kepo dengan situasi kami.

"Nggak berantem, kok, Ro." Suara Icha terdengar sangat lirih dan malas-malasan.

Baiklah.

Hari ini pasti akan jadi sangat berat.

"Yah, Bun, Icha pamit, ya. Dijemput Farel."

Tiba-tiba?

Icha pasti sudah berniat menjauh dariku. Dia pasti sangat marah.

"Tumben?"

"Sekali-sekali, Yah. Hehe ...."

Aku mendengkus. "Tawanya nggak niat amat," ucapku sangat lirih.

Kemudian Icha berdiri, lalu menyalami Ayah, Bunda, dan Abang.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

"Hati-hati, Kak," kata Bunda memberi pesan.

Tak kudengar jawaban dari mulut Icha. Mungkin ia hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Bang, mau nebeng Abang aja, ya?"

Ayah, Bunda, dan Abang sontak melihatku.

"Ya udah, sana sama Abang," ujar Bunda pada akhirnya.

"Udah belum?" Abang bertanya sambil mencolek pipiku.

Kulirik Abang dengan tajam sembari mengelap bekas colekannya. "Tangannya nggak usah usil. Udah."

Abang memajukan bibirnya. "Galak amat, sih. Nggak Abang tebengin, nih."

"Ya udah, ngangkot."

"Sudah, sudah. Ayo, berangkat." Bunda mengibas-ibaskan kedua tangannya seolah melerai kami.

Ayah tengah melipat koran paginya saat bertanya, "Loh? Edo sama Ero mana, Bun?"

Bunda tersenyum sebelum menjawab, "Udah duluan ke mobil, Yah."

Aku memerhatikan ayah dan bundaku ini. Kemudian aku teringat akan kisah cinta beliau yang merepresentasikan arti dari 'Jodoh Nggak Ke Mana'.

Ayah dan Bunda sudah saling memiliki perasaan satu sama lain sejak SMP. Mereka berasal dari daerah yang sama, sebuah desa di pinggiran Kota Semarang.

Namun, rasa itu tidak pernah saling terungkap sampai pada akhirnya Ayah melamar Bunda tepat di hari Bunda wisuda. Saat itu, Bunda lulus duluan daripada Ayah, sehingga Ayah rela jauh-jauh datang dari Surabaya ke Depok–meninggalkan perkuliahannya–demi melamar Bunda di depan seluruh teman-teman serta keluarga Bunda saat itu.

Ternyata, tak ada satu pun dari mereka yang kehilangan rasa itu. Bahkan semakin bertambah kian harinya. Keduanya saling menjaga hati untuk satu sama lain, meski tak yakin akan berakhir bersama.

ANDROMEDATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang