1

435 49 41
                                        

Vania dan Rion adalah pasangan yang, jika dilihat dari luar, akan membuat banyak orang mengernyit bingung. Hubungan mereka tak pernah berjalan normal—tidak dimulai dengan perasaan manis, tidak pula diwarnai pengakuan romantis. Sudah dua tahun mereka berpacaran, terhitung sejak penembakan sepihak itu terjadi. Sejak hari itu pula, Vania sudah berkali-kali meminta putus. Namun, entah bagaimana caranya, Rion selalu berhasil membuatnya bertahan—atau lebih tepatnya, tak pernah benar-benar pergi.

Flashback.

Juni, 06

Suasana sore itu ramai oleh tawa dan suara ribut khas anak kampus yang sedang berkumpul tanpa tujuan jelas. Beberapa duduk melingkar, sebagian berdiri sambil bercanda. Vino, yang memang tak pernah kehabisan ide jahil, tiba-tiba berseru dengan suara lantang.

"Lo harus nembak Vania di depan kita semua. Sekarang juga! Kalau bisa yang spesial, biar kayak nasi goreng."

Rion yang sejak tadi bersandar santai langsung menoleh.
"WHAT THE—?!"

Vania—atau Vasa, panggilan akrabnya—langsung menatap Vino dengan wajah tidak terima. "Gak lucu, sumpah, Vin. Yakali dia nembak gue."

Belum sempat suasana mencair, Rion sudah berdiri dan melangkah mendekat. Tatapannya lurus, wajahnya datar seperti biasa—tanpa ragu, tanpa senyum.

"Van, jadi pacar gue, ya?"

Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa bunga, tanpa persiapan. Seolah ia sedang menanyakan hal sepele.

"What the—? Sumpah lo gak lucu, Rion." Vania berusaha terdengar santai, meski jantungnya mulai berdetak tidak beraturan.

Rion menatapnya lebih lama.
"Van, karena gue suka sama lo. Lo wajib jadi pacar gue. Gak ada bantahan."

Nada suaranya rendah, datar, tapi ada tekanan aneh yang membuat kata-kata itu terasa seperti perintah. Semua yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa terdiam. Tak ada yang berani menyela.

"O... o... oke," ucap Vania akhirnya, setengah sadar dengan apa yang baru saja ia setujui.

****

Malam Hari

Sebelum kembali ke keramaian, Vania menarik lengan Rion dan membawanya menjauh. Mereka berdiri di sudut yang agak gelap, hanya diterangi lampu taman.

"Rion, kenapa lo nembak gue?" tanyanya langsung, tanpa basa-basi.

"Karena gue suka."

Jawaban itu keluar dari Rion tanpa ragu. Pendek. Datar. Seolah itu fakta paling sederhana di dunia.

Vania langsung menoleh cepat. "Ish! Gak mungkin lo suka sama gue! Gue aja gak suka sama lo!"

Rion menatapnya. Tidak membantah. Tidak juga tersinggung. Tatapan itu justru terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja ditolak mentah-mentah.

"Ya sukain."

Satu kalimat itu bikin Vania hampir meledak.

"Gak bisa gitu!" suaranya meninggi. "Gue gak punya perasaan sama lo! Ngerti nggak sih?!"

"Ngerti."

"Kalau ngerti, kenapa lo santai banget?!" Vania maju selangkah. "Gue lagi serius!"

Rion menahan diri untuk tidak tersenyum. Nada suara Vania yang naik, alisnya yang berkerut, dan cara ia menggenggam ujung jaketnya karena kesal—semuanya terlalu... menggemaskan.

"Kalau lo ngerti," lanjut Vania cepat, "kita putus."

Hening sepersekian detik.

"Gak bisa."

DIFFERENTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang