Chapter 40: Morphine

2.6K 246 149
                                        

Daniel masih duduk disana, ia tidak bisa mengehentikan kakinya yang naik turun, gugup menerka-nerka akan apa yang terjadi di dalam. Ia dapat mendengar tangisan keras keluar dari mulut Seongwoo, itu benar-benar berhasil menyayat hatinya.

Ingin rasanya Daniel mendobrak masuk kedalam, terutama ketika ia mendengar Seongwoo yang di dalam sedang mengeluarkan emosinya, berteriak dan memaki pada ayahnya. Menanyakan keadaan, menanyakan kenapa ayahnya melakukan itu.

Daniel benci akan ketidaktahuan ini, ia benci ia dibiarkan di luar sendiri, dengan penjaga pintu yang memastikan Daniel tidak menerobos masuk kedalam. Daniel begitu gugup, jantungnya berdegup bergitu kecang. Ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, dan ia tidak tau apa rencana ayahnya untuk memanggil Seongwoo secara pribadi disana.

Begitu lama Daniel menunggu, ia tidak bisa menahan sesekali air matanya yang mengucur membayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk. Apakah Seongwoo akan pergi? Apakah Seongwoo akan membencinya? Apakah Seongwoo akan baik-baik saja? Apakah ia masih bisa hidup dengan Seongwoo, menemainya di setiap hari?

Begitu banyak pertanyaan, begitu banyak harapan Daniel, namun hanya waktu yang bisa mengungkap semua. Ia hanya bisa menunggu.

Dua jam telah berlalu, akhirnya suara pintu itu terbuka sontak membuat Daniel berdiri dari posisinya. Daniel menampakan senyumnya ketika ia melihat Seongwoo keluar dari ruangan itu ditemani oleh Don Millis.

Daniel berusaha bertindak seperti semua baik-baik saja, sebagaimana ia biasa bertemu Seongwoo.

"Owongiee.." Daniel mengusap sedikit linang air matanya. Ia memberikan senyum terbaiknya.

Namun seketika itu juga senyum Daniel pudar, ketika yang ia dapatkan adalah tatapan penuh kebencian dari mata kecil itu. Mata yang selalu memberikan kehangatan pada Daniel, untuk pertama kalinya berubah menjadi mata yang begitu dingin. Manik-manik mata Seongwoo, tidak pernah Daniel melihat tatapan itu sebelumnya.

"Owongiee.." panggil Daniel lemah, berusaha menggapai tangan Seongwoo.

Melihat itu Don Millis menyuruh semua orang yang disana untuk pergi meninggalkan tempat itu.

"Owongiee.. gwencanhaa.." tanya Daniel gugup, sial menanyakan Seongwoo baik-baik saja saat ini? Pertanyaan bodoh.

Seongwoo melepaskan genggaman tangan Daniel, ia mengambil satu langkah mundur.

"Mulai sekarang kita gak bisa bareng lagi," ujar Seongwoo menatap ke arah bawah.

"Wa..waee...?" terngiang kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi di kepala Daniel. Namun Daniel saat ini berusaha berpikir Seongwoo akan bercanda, dan tiba-tiba ia akan bilang bahwa semua itu hanya bercanda, kemudian akan tersenyum dan memeluknya. Iyakan? Seongwoo sering melakukan hal seperti itu akhir-akhir ini.

"Karena aku..." Seongwoo menarik nafasnya, nafasnya kini kembali beradu. "Karena aku membencimu." ujar Seongwoo menatap Daniel pekat.

Langsung saja paru-paru Daniel serasa dingin, ada sesuatu yang membeku disana.

"Kamu.. kamuu.. bercanda kan.." ujar Daniel masih menghela nafasnya, memberikan senyuman terbaiknya, dibalik matanya yang kini sudah kembali berkaca-kaca.

"Selama ini kamu selalu menolongku, tapi asal kamu tau, selama ini aku menderita juga karenamu. Karena keegoisanmu, karena tingkahmu, karena keluargamu, karena ayahmu.." kata-kata itu, kata-kata yang paling tidak diharapkan Daniel keluar dari mulut Seongwoo, nyatanya menjadi alasan untuk Seongwoo membenci Daniel.

"Tapii.. tapi aku sayang kamu Ongg.. sungguh.."

"Tidak, kamu hanya kesepian Daniel," ujar Seongwoo meretakan paru-paru Daniel yang telah membeku menjadi es.

Morphine | OngNielTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang