11. Perpisahan dan Pertemuan

5.3K 567 21
                                        


Sum memasukkan semua baju ke dalam tas ransel. Ia termangu dengan kejadian hari ini. Rahasia besar yang selama ini tak pernah ia tahu. Tak ada yang menceritakan soal jati diri dan masa lalunya. Sarti di dekatnya duduk bersimpuh dengan bersimbah air mata.

Sum menyapu pandangannya pada sekeliling kamar. Di sana selama ini ia berdiam, sendirian. Ia menatap jendela kamarnya. Gadis itu bangkit menatap ke arah luar. Dari balik jendela kamar, pemandangan di sawah itu, ia sering tersenyum sendiri memandangi pemuda pujaan hatinya-Ganda.

Tatapannya beralih pada sang mamak yang masih saja menangis. Ia mengangkat bahu sarti. Matanya mulai berair. Hanya mamak satu-satunya manusia yang menyayanginya dengan tulus. Semakin lama Sum tak kuasa menatap air mata wanita setengah baya itu. Ia terisak pelan dan selanjutnya memeluk sang mamak.

"Mak, setelah hari ini, Sum gak akan teriak-teriak manggil nama Mamak lagi," bisiknya pelan. Ia melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Sarti, "Sum akan pergi lagi. Mamak masak sama ke pasarnya sendirian ya? Gak pa-pa 'kan?"

Mencoba menguatkan diri. Hanya itu yang bisa Sum lakukan. Berpisah kembali dengan yang selama ini mengukir kasih sayang dalam hidupnya itu.

Kenapa takdir selalu saja suka mempermainkan hidupku, Tuhan? Rencana apa lagi yang Kau siapkan? Kau tahu, aku tak bisa sekuat itu.

Sarti tidak menyahut malah memeluknya erat. "Kamu itu anak mamak. Gak ada yang berhak ngambil anak mamak. Mamak yang besarin Sum. Mamak emang gak lahirin Sum dari rahim mamak, tapi mamak yang besarin Sum. Dekap Sum saat Sum sakit. Meluk Sum saat Sum sedih. Mamak ini mamakmu, Sum!" jeritnya dalam dekapan tubuh gadis yang selama ini ia besarkan itu.

Sum melepaskan pelukannya. Ia tak mau meratap lebih lama lagi. Gadis itu mengangkat tas ransel dan segera ke ruang tamu tempat wanita yang mengaku ibu kandungnya itu menunggu. Sarti mengikuti Sum di belakangnya.

Wanita itu mendekati Sum. Ia tersenyum dan menggeleng pelan. "Jangan bersedih, Sayang. Mama akan menjagamu." Sum tak menjawab.

"Ayo kita pergi," ucap Sum cepat.

Wanita itu mengangguk. Ia menatap Hartono dan Sarti bergantian dan menunduk pamit. Hartono mengangguk, sementara Sarti menutup mulut dengan tangannya menahan tangis yang hendak pecah.

Sum tak menoleh lagi pada Hartono dan Sarti. Rasa kecewa, sedih dan lelah berbaur menjadi satu dalam dadanya. Adik-adiknya masih bersekolah. Ia tak sempat pamit pada kedua adiknya itu. Sum menaiki mobil yang wanita itu bawa.

Mereka duduk di kursi belakang karena wanita itu menggunakan jasa sopir. Mobil melaju dengan pelan. Sum tak menoleh lagi ke arah rumahnya. Ia tak mau bersedih. Hatinya terasa beku. Sangat beku. Bahkan pada hatinya sendiri ia tak mau berucap. Hanya keheningan yang tersisa dalam mobil itu.

"Berhenti di depan rumah cat hijau itu," pinta Sum dengan nada datar.

Wanita itu mengangguk memerintah sang sopir berhenti melalui kaca spion tengah mobil. Mobil berhenti tepat di depan rumah bercat hijau yang tak lain rumah Ganda—sang tunangan.

Saat Sum hendak turun dari mobil, ia melihat Rista di depan rumah Ganda. Rista tidak sendirian. Ada Ganda yang menemani. Mereka tertawa berdua. Rista bergelayut manja pada lengan sang tunangan. Kelopak bening Sum menatap nanar keduanya. Matanya berkabut. Ia menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.

"Sum?"

Ganda terperangah melihat Sum sudah berada di dekat mereka. Pemuda itu melepas tautan lengan Rista.

"Aku ke sini cuma sebentar. Aku hanya mau menyerahkan ini."

Sum mengeluarkan dua buah cincin dari lipatan jarinya. Satu buah cincin permata pengikat tanda pertunangan Sum dan Ganda. Cincin lainnya saat Ganda memberikannya pada Sum di pameran. Cincin unik dari batok kelapa berbentuk bunga matahari.

Napas SurgaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang