15. Teguran

4.5K 472 17
                                        


Sum melangkah pelan. Malam itu, ia hendak pulang dari losmen. Mishall pulang terlebih dulu karena keperluan mendesak. Sum sudah menolak berada di tempat itu. Namun sang mama begitu memohon padanya. Terpaksa. Terpaksa ia meluluskan permintaan sang mama.

"Terakhir kali! Aku gak mau berada di tempat ini lagi," ujar Sum ketus.

Setelah menunaikan sholat isya', Sum pun melangkah pulang. Mobil jemputannya sudah datang dan menunggu di depan losmen. Saat asik berdendang, ia mendengar sesuatu. Suara tangisan? Sum bergidik ngeri. Ia kembali ingat pada Sang Pencipta. Sum tersenyum mengingat-Nya. Desahan takbir terembus dalam hatinya.

Kalo aku takut, para jin yang berani. Kalo aku yang berani, mereka yang takut. Perang deh. Aku yang berani kali ini, bisik hatinya kini. Ia tertawa senang.

Seorang wanita tengah menangis sesenggukan sambil memegangi perut dengan kedua tangannya. Ia meringis kesakitan. Sum berhenti dan menoleh. Ia menutup mulut dengan kedua tangan.

Kirain jin. Kok manusia beneran?

Sum mendekati wanita itu dan duduk di sampingnya, "Mbak kenapa?"

Wanita itu tak menyahut. Ia masih meringis kesakitan. Sum menggigit bibir bawah. Tak tega melihat penderitaan sang wanita. Ia segera mengangkat lengan wanita itu.

"Ikut aku yuk, Mbak!" ajak Sum. Wanita itu tetap tak menyahut dan hanya bisa pasrah.

Sum mengajaknya masuk ke dalam mobil. "Kita ke rumah sakit sekarang," ucapnya.

Mereka tiba di rumah sakit. Sum segera membawanya ke dokter spesialis penyakit dalam. Entahlah, gadis itu kebingungan. Tak biasanya ia masuk ke dalam rumah sakit sebesar itu. Ia hanya pernah berobat ke puskesmas saja di desa.

"Mbak ikut ke dalam ruangan aja," saran pak sopir. Sum mengangguk mengiyakan.

Dokter sudah menunggu di dalam. "Kita tunggu hasil foto rontgen-nya dulu, Mbak," ujar seorang perawat pada Sum. Sum hanya mengangguk. Ia meraba isi dompetnya.

Mudah-mudahan cukup.

Dokter melihat hasil foto rontgen sejenak. Ia berdaham dan membenarkan posisi duduknya. Sum duduk di depan sang dokter, sementara wanita tadi tiduran di atas kasur di kamar rawat itu.

"Ibu ini mengalami prolapsus uteri, atau biasa disebut sebagai rahim turun. Hal ini sangat berbahaya bila rahim sampai jatuh melebihi batas. Akan sangat fatal," jelas sang dokter.

Sum melihat si wanita yang masih meringis. Ia iba melihatnya. Tatapannya beralih pada sang dokter. Sebenarnya ia tak mengerti dengan penjelasan dokter, tapi saat dokter mengatakan sesuatu yang fatal akan terjadi, Sum mendesah begitu khawatir.

"Lalu bagaimana wanita itu bisa sembuh, Dok?" Ia berharap sebuah solusi cepat agar si wanita berhenti meringis menahan sakit di daerah panggulnya itu.

"Operasi. Hanya langkah operasi."

"Biayanya berapa, Dok?"

"Sekitar puluhan sampai ratusan juta."

Sum menganga. Ia tahu Mishall pun tak akan sanggup apalagi mau mengobati si wanita penyewa losmennya.

Sum bangun dan hilir mudik di depan dokter, "Bentar Dok, saya mau mikir dulu," ucapnya polos.

Sum berpikir, mustahil. Tetap mustahil. Ia menatap si wanita. Gadis itu memejamkan mata sejenak.

Ya Allah, beri hamba petunjuk, Wahai Zat Yang Maha Pemberi petunjuk. Sum bertasbih, bertahmid dan bertakbir memohon pertolongan-Nya.

Bantu kami, Ya Allah, desah gadis itu dalam hati.

Napas SurgaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang