Bermain cinta itu perlu nyali,sakit itu resikonya dan bahagia itu hadiahnya.
Gavin berjalan santai menuju kelasnya. Beberapa pasang mata dari teman-teman sekelasnya terlihat sinis menatap Gavin.
Sedangkan Gavin seolah tidak peduli, mungkin dia merasa sedang berjalan di red carpet.
Jam 10 disaat murid-murid baru saja istirahat. Tetapi berbeda dengan Gavin, murid spesial di kelas ini. Gavin baru memasuki kelas di jam 10 ini, karena sedari tadi dia menjalani hukuman.
"Pacar" sapa Gavin pada Ratu. Ratu berharap telinga semua orang yang ada di kelas ini tidak berfungsi atau sedikit terganggu. Pasalnya Ratu malu dan takut dijadikan topik gosip utama karena perlakuan Gavin yang 'sok manis' .
Gavin berdiri tepat di meja milik Ratu. Sedangkan Ratu masih terdiam dengan wajah yang tenggelam di meja beralaskan tasnya.
"Ratu sakit " ucap Jeni singkat lalu pergi dari kursi duduknya yang berada di samping Ratu. Gavin melirik Jeni dengan tatapan tidak peduli.
Ketika kursi milik jeni kosong, Gavin segera menduduki kursi itu. Gavin menatap Ratu dengan seksama. Kemarin Ratu terlihat baik baik saja tapi sekarang sepertinya Ratu tidak baik-baik saja.
"Ratu lo sakit?" tanya Gavin mendekatkan wajahnya ke tubuh Rat
tu.
"Nggak " jawab Ratu dengan suara seraknya. Ratu menampakkan wajahnya yang sedikit pucat pada Gavin. Kemauan bibirnya tersenyum.
"Kok pacar gue kayak mayat?" tanya Gavin kurang ajar. Dengan cepat Gavin mengulurkan telapak tangan kanannya di kening Ratu. Berusaha memeriksa suhu tubuh milik Ratu.
Ratu melepaskan tangan Gavin, menurutnya tangan Gavin itu dingin.
"Kening lo panas kayak neraka jahanam" ucap Gavin khawatir.
Tangan yang tadi berada dikenang Ratu kini turun ke tangan milik Ratu. Gavin mengenggam tangan Ratu erat.
"Calon penghuni neraka mah tahu ya suhu disana" cibir Ratu yang membuat Gavin terkekeh pelan.
Ratu memasrahkan tangannya digenggam oleh Gavin. Ratu kembali menenggelamkan wajahnya di meja yang beralaskan tas miliknya.
Melihat ratu seperti itu membuat gavin merasa sedikit khawatir. Gavin melepaskan tas yang sedaritadi di pundaknya dan langsung mengeluarkan jaket berwarna coklat.
Bibir Gavin membentuk sebuah senyuman ketika melirik jaket dan tubuh ramping Ratu secara bergiliran.
"Biar kaya drakor. Nanti lo peluk gue ya" Gavin memakaikan jaket coklat miliknya pada tubuh Ratu.
Sedetik kemudian Ratu melemparkan jaket yang baru saja Gavin pakaikan.
"Bau rokok" ucap Ratu sukses membuat beberapa pasang mata melirik ke arah Gavin, karena Ratu berucap dengan nada yang sedikit tinggi.
Dengan cekatan Gavin mengambil jaketnya yang telah jatuh.
"Tunggu sebentar" ucap Gavin kemudian pergi dari hadapan Ratu.
Ratu mencoba memejamkan matanya. Tubuhnya mengigil kedinginan, tapi dahinya panas dan kepalanya sangat pusing.
"Nih udah wangi" suara Gavin terdengar samar-samar di indera pendengaran Ratu. Matanya perlahan terbuka. Gavin sudah ada di sampingnya lagi dengan jaket yang sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ratu Kepo (Selesai)
Teen FictionSemua itu bermula ketika Ratu kepo terhadap Gavin Raefal Ishara yaitu seorang Bad Boy. Gavin benar-benar membuat Ratu jera karena rasa keponya.
