Sembilan Belas: Oleh-oleh

5.3K 444 93
                                        

Update yea, update, pada minta update, jadinya pengen update, jadinya ketagihan update wkwk enjoy!

---

Aku tergopoh-gopoh untuk menelpon Dara. Ia sama sekali tidak mengangkat teleponnya. Aku masih tetap menghubunginya tetapi ia tidak kunjung mengangkat hingga matahari akan terbit di mana aku harus bertugas kembali.

Aku memberanikan diri agar tidak mematikan ponselku dan kukantongi di celanaku. Aku berusaha menatap layar kaca ponselku diam-diam.

Drrtttttt drrrrttttt

Suasana di kapal, apalagi di anjungan tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ada yang sedang menggambar bagan kapal, ada yang menggambar peta, ada yang membersihkan anjungan kapal. Aku berjalan mendekat ke arah panel instrumen. Aku menatap jendela yang terlihat hamparan laut Mediterania.

Aku merasakan getaran ada di kantong celanaku dan tiba-tiba getaran itu mati. Aku langsung berlari ke arah kamar mandi untuk menelponnya segera. Setibanya aku di dalam, aku mencoba untuk menelpon Dara sebelum aku bertugas kembali.

“Halo, kamu mau minta tolong apa?” tanyaku setengah berbisik.

“Ha! Kena!” seru Doni, “Kepancing juga kena kamu, Dik. Nggak usah pedulikan Dara lagi, dan jangan rusak hubungan gue.”

“Gue nggak main-main, Don, niat gue baik mau bantuin. Ternyata ini jebakan lo? Usil banget tangan lo. Seneng buat gue menderita?! Seneng buat gue marah?! Seneng kalo gue emosi?!” kataku penuh emosi.

“Udah deh, jangan urusin Dara lagi, jangan ingat Dara lagi, dan Dara udah milik gue.”

“Udahlah, gak ada gunanya gue buang-buang detik-detik dinas gue yang penting buat nerima telepon lo. Denger ya, gue nggak bakal ngerusak hubungan lo, lo tenang aja. Gue cowok baik-baik, bukan sok baik.”

“Gue harap lo ngertiin gue. Dan terima kasih udah sempetin waktu tugas lo buat ngangkat telepon gue.”

PRAKKK!

Aku membanting keras ponselku sebagai bentuk pelampiasanku. Nafasku tersengal-sengal. Aku membenci Doni, bagaimanapun itu. Ia selalu bisa membuatku benar-benar marah hari ini. Aku berusaha untuk bersikap baik untuk Dara, tapi apa kenyataannya? Doni mempermainkan aku! Aku masih bisa menyempatkan waktu untuk memikirkan Dara yang ada di Indonesia, berusaha untuk baik padanya, tetapi mengapa Doni sebegitu protektifnya kepada Dara. Aneh.

Aku berjalan meninggalkan kamar mandi dan kembali ke anjungan. Aku bertemu dengan Nasrul dekat kamar mandi saat ia baru saja keluar dari ruang kesehatan.

“Dik, sarapan?”

“Gak, gue masih kenyang. Kalo lo mau sarapan, sarapan aja sana.” aku masih ngacir pergi meninggalkan Nasrul yang masih berdiri terdiam di sana.

“Heh, Dika.”

Aku tidak menggubris.

“Heh, Dika!” Nasrul mencengkeram lenganku kuat, ia menyandarkanku di dinding besi koridor, “Gue denger lo ngamuk lagi sampai banting-banting hape di kamar mandi.”

Aku mengilah dan membuang muka, “Bukan urusan lo, Rul.”

“Bukan urusan gue? Maksud lo, lo marah-marah kayak gitu bakal berimbas ke orang lain! Gila lo, Dik, gak nyangka gue kalo lo emosian gara-gara cewek. Harusnya lo malu sama diri lo sendiri!”

“Lo nggak tahu apa yang gue rasain, dan lo nggak tahu apa yang gue permasalahan di sini. Lo cuma tahu masalah awal-awal aja, bukan yang ini.” aku berusaha meninggalkan Nasrul, tapi Nasrul mencengkeram kuat kerah baju dinasku.

SANDARANDIKA 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang