Holaaaaa, rejeki yang bangun pagi wkwkwk Sandarandika 2 sudah update! Happy reading!
---
Satu bulan lebih sepuluh hari aku sekarang sudah tiba di Indonesia, tentunya di Surabaya. Tanpa mengenal lelah, sepulang aku dari Lebanon, aku segera mengambil jadwal cuti dan berangkat pulang kampung ke Jakarta keesokkan harinya. Aku benar-benar merindukan rumah. Aku masih berpakaian dinas segera mengurus surat izin cuti. Sepulang ini, aku harus bersiap-siap untuk berangkat ke Jakarta setelah mendapatkan surat izin cuti.
***
Suasana Jakarta yang begitu panas dan macet tentunya, akhirnya aku bisa lolos dari jalanan yang macet ini. Sekarang, aku berpijak di depan jalanan rumahku. Jalanan siang hari ini begitu sepi sekali.
“Wah, Mas Dika barusan pulang dari Lebanon ya?” tanya tetangga sebelah rumahku, Bu Kris, tetangga yang dekat dengan Mama. Aku mencium tangannya saat bertemu dengan Bu Kris.
“Wah, iya, Bu Kris,” kataku setelah aku bersalaman dengannya, “Papa saya ada di rumah?”
“Ada kok, tadi saya lihat Pak Hadi lagi nyuci sepeda di depan rumah.”
“Ah, makasih ya, Bu, saya langsung ke rumah.”
“Ah, iya, Mas Dika.”
Aku berjalan kaki dari gang depan hingga berdiri di depan rumah. Cat rumahnya telah berganti warna berwarna cokelat krim muda. Aku membuka pintu gerbang yang tak dikunci. Jalan yang mengantarkanku ke beranda rumah masih terasa becek, memang benar Papa sepertinya baru saja mencuci motornya.
Aku melepaskan kedua sepatuku di teras rumah. Aku mengetuk pintu rumahku tanpa bersuara.
Pintu pun terbuka, Ratih langsung terdiam melihatku. Setelah itu, ia langsung melompat ke arahku sambil berteriak dan menangis. Aku menggendongnya sambil mendekapnya erat. Merindukannya setelah sekian lama tak berjumpa. Aku mencium kening adikku satu-satunya. Aku benar-benar merindukannya.
“Kakak pulang kok nggak bilang-bilang sih?” ia turun dari gendonganku sambil menghapus sisa-sisa air matanya.
“Iya, Kakak pengen bikin surprise aja sih pas pulang dari Lebanon.” aku tertawa.
“Ratih, ada apa kok ribut-ribut?” Papa keluar dari rumah mengenakan kaos putih dan celana pendek sambil membawa korannya. Papa langsung terdiam melihatku. Beliau langsung memelukku erat sekali.
“Ah, Papa, Dika nggak bisa nafas!” seruku tersengal-sengal.
Papa melepaskan pelukannya sambil tertawa, “Maklum, terlalu bersemangat sih ketemu kamu, Kak. Ayo masuk.”
Aku pun mengangkut barang-barangku dan meletakkannya di dalam kamarku. Aku langsung duduk di meja makan, “Ratih, Mama masak apa hari ini?”
Ratih hanya terdiam. Seketika aku teringat, Mama sudah tidak ada. Rumah ini sangat berbeda dengan yang dulu, Tanpa Mama.
“Kak, mau ketoprak? Biar aku beliin di Mang Uus.”
“Lah, tiap harinya beli?”
“Iya, Kak, habisnya sama-sama sibuk. Lagian aku cuma bisa masak alakadarnya.”
“Wah, ini nih, beli-beli terus. Minggu depan kamu kursus masak di temennya Kakak sekolah. Sabtu-Minggu berangkat kursus di daerah Matraman. Nggak mau tahu.”
“Kakaaaak!” teriaknya, aku tahu kalau dia super sibuk menjadi anak kuliahan. Tapi, aku tetap memaksanya untuk kursus masak. Apa jadinya nanti kalau ia sudah berumah tangga? Tiap hari makan mi rebus pake telur gitu?
KAMU SEDANG MEMBACA
SANDARANDIKA 2
Romance[COMPLETED] Randika Kusuma Hermawan seorang perwira muda angkatan laut harus siap menjadi seorang abdi negara yang ditugaskan di mana saja. Suatu hari, Dika terdaftar sebagai pasukan kontingen Garuda satuan tugas Maritime Task Force di Lebanon membu...
