Pukul 22.00
Shannon membulak balikkan tubuhnya bergantian, menghadap kanan, tidak lama menghadap kiri dan terus mengulangnya selama satu jam.
Jungkook? Jin? Siapa yang kamu suka?
Ia bertanya dalam hati.
"...dari dulu aku tidak pernah ingin menyukai pria yang seumuran denganku, tetapi saat bersama-nya, aku juga merasa nyaman. "gumam-nya sambil memandangi salju yang turun pada malam minggu dari balik jendela.
"Tapi... Melihat pria berbahu lebar itu juga membuatku sangat bahagia,"ia terus berbicara pada dirinya sendiri, "Dan yang paling penting adalah... Aku merasa berharga saat bersama-nya. "
Lanjutnya sembari memainkan tali yang terikat di ujung guling-nya.
Gadis itu tertawa pelan,
aku bahkan tidak pernah memikirkan pria sampai selarut ini.
Disaat saat seperti inilah Shannon membutuhkan seseorang yang dapat membuatnya bahagia. Dan dalam musim yang sama pula seperti bertahun-tahun lalu, bedanya ia menemukan 2 orang yang dapat membuatnya tersenyum.
Kali ini ia percaya kalau di setiap kehidupan selalu ada saat dimana kita harus memilih, sama seperti masa lalu-nya yang membuat ia menyesal telah memilih pilihan-nya tersebut.
~
Minggu 08.00
"Aku hanya pergi 15 menit, tunggu aku, lalu kita berenang bersama,"kata Reva pada sahabatnya.
"Aku tau, sudah sana cepat pergilah dan segera kembali! " Shannon mendorong bahu Reva agar segera pergi.
Di hari minggu ini, Shannon dan Reva memilih untuk menghabis kan waktu dengan berenang di kolam renang untuk membunuh rasa bosan.
Sambil menunggu Reva yang akan melakukan fansign BTS dan Exo di aula utama, Shannon memilih untuk membersihkan rumput rumput liar di sekitar gazebo.
Sambil melakukan aktivitasnya, pikirannya tiba tiba tertuju pada kejadian beberapa hari lalu di malam pertama musim salju.
Dimana akibat rasa penasaran nya ia jatuh kedalam kolam renang dan tanpa disangka sangka Jin datang dan menyelamatkannya.
Ia adalah perenang yang baik, namun ia tidak dapat melakukan apapun jika suasana malam hari sangat gelap dan dingin.
Dan yang paling mengejutkan adalah saat ia membuka mata, dirinya disambut Jin yang bertelanjang dada seakan akan memperlihatkan bahunya yang lebar dengan jarak yang tidak jauh.
Tanpa sadar dirinya tersenyum saat memikirkan hal tersebut.
Ini bisa membuatku gila! Ucapnya.
Drrrtt...
Ponselnya berdering dari kantung mantel-nya, ia segera mengambil ponselnya.
Papa calling...
Shannon sempat terpaku melihat nama yang tertera di layar ponselnya, tanpa ragu ragu ia mengangkat tombol hijau.
"Halo."
"Seila, bagaimana kabarmu? "
Suara lemah itu... Suara yang ia dengar dari bibir yang sama, terakhir kali saat dimana ia kehilangan mama nya untuk selamanya.
"Aku baik."jawabnya singkat, padat, dan jelas, tangannya gemetar saat mendengar suara lemah Fardhil (ayah Shannon, suami Laura).
"Apa kamu merindukan papa? Karna papa sangat merindu-kanmu disini. "
Hatinya merasakan keperihan ketika suara lemah itu kembali terdengar.
"Aku selalu merindukan papa." andai saja ia dapat mengatakannya, andai saja.
